Senin, 28 Mei 2012

Guru Juga Seorang Entrepreneur....

Berbicara tentang entrepreneurship, pasti dalam benak kita akan timbul bayangan seseorang yang banyak berkecimpung di dunia usaha, berkaitan dengan modal/uang, atau yang lebih sederhana lagi pengusaha atau wirausahawan. Memang istilah tersebut lebih banyak dikaitkan dengan hal-hal yang berbau dunia usaha. Tetapi, apakah hanya pengusaha/wirausahawan yang punya mental entrepreneur? Apakah profesi lainnya tidak menguasai entrepreneurship ? Coba kita lihat arti sebenarnya dari entrepreneurship ini. Menurut wikipedia, entrepreneurship (kewirausahaan) adalah proses mengidentifikasi, mengembangkan, dan membawa visi ke dalam kehidupan. Visi tersebut bisa berupa ide inovatif, peluang, cara yang lebih baik dalam menjalankan sesuatu. Dari pengertian ini jelas bahwa pengertian entrepreneurship sangat bisa diterapkan dalam menjalankan profesi yang lain, dan bahkan untuk seorang guru sekalipun. Dalam Wikipedia juga, arti Guru secara umum adalah pendidik dan pengajar pada pendidikan anak usia dini jalur sekolah atau pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Guru-guru seperti ini harus mempunyai semacam kualifikasi formal. Dalam definisi yang lebih luas, setiap orang yang mengajarkan suatu hal yang baru dapat juga dianggap seorang guru. Sedang dalam Kamus Bahasa Indonesia menjelaskan guru umumnya merujuk pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik. Jika menelaah pengertian guru tadi, tepat kiranya jika entrepreneurship juga melekat pada seseorang yang berprofesi guru. Guru, yang tugas kesehariannya adalah membimbing, mendidik, serta mengayomi perserta didik. Dalam konteks ini seorang guru dituntut harus terus mengasah keterampilan mengajar serta materi keilmuannya. Tidak bisa guru hanya mengandalkan insting atau pengalaman yang dimiliki dalam berinteraksi dengan bidang pekerjaannya, meskipun insting atau pengalaman juga bisa dijadikan sebagai rujukan. Guru harus mampu meng”up grade” dirinya dalam hal apapun. Dalam entrepreneurship, yang pada akhirnya akan menghasilkan jiwa-jiwa entreprenur, banyak sifat-sifat yang harus dimiliki, antara lain; percaya diri, berorientasikan tugas dan hasil, pengambil risiko, kepemimpinan, keorisinilan, berorientasi ke masa depan serta jujur dan tekun. Sifat-sifat ini kalau dimiliki oleh seorang guru, akan semakin dahsyat efeknya terhadap siswanya. Sifat yang pertama adalah percaya diri, seorang guru wajib mempunyai sifat ini. Sikap percaya diri disini memang tidak untuk yang berlebihan, tetapi lebih ditekankan pada bahwa profesi guru adalah profesi yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Terlebih lagi untuk guru yang sudah menyandang Guru Profesional. Sehingga dengan percaya diri yang dimiliki, seorang guru itu mempunyai keyakinan bahwa apa yang dikerjakan selalu membawa manfaat untuk masa depan. Dari percaya diri pula akan muncul kemandirian dalam berkarya yang dibalut dalam bingkai selalu optimis dalam melaksanakan tugas mengajar demi melahirkan generasi emas di masa yang akan datang. Sifat entrepreneurship yang kedua adalah berorientasi tugas dan hasil. Sifat ini sangat tepat dimiliki oleh seorang guru. Dalam sifat ini akan tumbuh semangat selalu berusaha untuk berprestasi,mengutamakan proses yang baik untuk mencapai hasil yang maksimal, mempunyai ketekunan dan ketabahan, memiliki tekad yang kuat dalam bekerja, suka bekerja keras dan energik. Dan yang tak kalah pentingnya dengan sifat ini guru terbiasa memiliki insiatif yang diperlukan dalam menyelesaikan setiap persoalan yang muncul. Tidak lagi menunggu perintah dari atasan atau kepala sekolah Sifat ketiga yaitu, berani mengambil resiko. Pendidik yang memiliki sifat ini akan terbiasa untuk selalu berani mencoba sesuatu yang dianggap baru meskipun di lingkungan tempat dia bekerja menganggap apa yang dilakukannya akan tidak berhasil. Guru yang entrepreneur selalu berani ambil resiko atas apa yang dikerjakan dan diyakini akan membawa perubahan. Dia tidak takut menghadapi resiko kegagalan. Tantangan adalah sesuatu yang harus dilewati. Prinsipnya adalah “mengerjakan sesuatu yang baru jika hasilnya salah itu masih lebih baik dari pada diam. Dan guru seperti ini juga terbiasa mempraktekkan apa yang disebut dengan teaching out of the box. Sifat keempat dari entrepreneurship adalah kepemimpinan. Untuk sifat yang ini merupakan sesuatu yang wajib dimiliki oleh seorang guru. Jiwa seorang pemimpin haruslah melekat pada seorang guru. Bertingkah laku sebagai pemimpin bagi dirinya dan siswanya. Guru pemimpin adalah guru yang selalu menjadi tauladan dalam bersikap bagi siswa dan tekan guru yang lain. Guru pemimpin dapat bergaul dengan orang lain/rekan sesama guru dan tidak membedakan golongan atau strata guru di sekolah. Serta guru pemimpin itu suka terhadap saran dan kritik yang membangun. Tidak gampang emosi ketika di kritik serta selalu menanggapi positif setiap saran dan kritik yang dialamatkan kepadanya. Sifat kelima, menyukai keorisinilan. Pada sifat ini akan selalu memunculkan guru yang mencintai sesuatu yang baru. Meskipun tidak meninggalkan hal-hal lama yang memang baik. Guru terbiasa untuk berinovasi dalam mengembangkan tugas keguruannya. Mulai pengembangan cara mengajar, cara berinteraksi dengan siswa, inovasi pengembangan media pembelajaran dan yang lainnya. Sehingga kalau suka berinovasi dalam tugasnya sehari-hari, maka kreativitas guru akan selalu muncul untuk membuat hal-hal yang selalu ditunggu oleh siswa tercinta di sekolah. Dan sifat keorisinalan ini pulalah yang membuat guru tidak mudah untuk mencontek karya ilmiah orang lain, terutama dalam penyusunan penelitian tindakan kelas. Sifat keenam, berorientasi pada masa depan, guru yang entrepreneur akan selalu mempunyai wawasan yang selalu berorientasi masa depan. Dalam melaksanakan tugasnya, selalu memikirkan bagaimana dampaknya bagi masa depan siswa dan dirinya. Karena pada prinsipnya, sekolah adalah mencetak insan-insan untuk masa depan. Seorang guru yang berorientasi pada masa depan, akan selalu mencintai pekerjaannya. Prinsipnya “hari esok harus lebih baik dari hari ini”. Guru seperti ini selalu mengevaluasi setiap hasil pekerjaan, selalu mengevaluasi dan memperbaiki kesalahan sekecil apapun, untuk menuju sukses masa depan. Sifat yang terakhir adalah jujur dan tekun, guru yang memiliki sikap ini, akan senantiasa menjauhi hal-hal yang tidak sportif. Guru tersebut selalu mengajarkan dan mencontohkan sikap kejujuran pada siswanya. Selain itu sifat tekun dan sungguh-sungguh juga menjadi “baju” dalam kegiatan sehari-hari. Jujur dan tekun akan selalu menyatu diri guru tersebut. Guru yang mempunyai sifat ini akan selalu memiliki keyakinan bahwa “hidup ini sama dengan kerja keras”. Maka jika mengajar dengan dengan tekun dan sungguh-sungguh, yang akan merasakan manfaatnya adalah siswa di kelasnya. Nah, pada akhirnya jika beberapa sifat entrepreneurship diatas juga dimiliki oleh seorang guru, akan tercapailah apa yang dimaksud dengan Tujuan Pendidikan Nasional, dan pada akhirnya negara tercinta inilah yang akan menikmati hasilnya untuk terciptanya masa depan yang adil makmur sejahtera.

Minggu, 27 Mei 2012

Be a Good Teacher like Mr Dahlan Iskan

Gila….. Unpredictible…… Thinking Out Of The Box…… dan banyak lagi ungkapan kata-kata yang bisa menggambarkan sosok yang sedang menjadi bahan pembicaraan, atau istilah kerennya trending topic di kalangan apapun. Sepak terjangnya sulit di prediksi, selalu bikin deg degan bagi siapa saja yang berhubungan langsung dengan sosok Menteri BUMN ini. Dan yang bikin kita geleng-geleng kepala. semua itu beliau lakukan karena emang menjadi tugas dan wewenangnya. Memang sih, ada juga beberapa keputusan beliau yang kurang “tepat” bagi anggota DPR terkait dengan fungsi dan wewenangnya. Meskipun saya pribadi kurang tahu sebenarnya apa sih core yang dipermasalahkan oleh DPR tersebut. Terlepas dari itu semua, kita melihat nya seperti ada gaya kepemimpinan baru atau kalau tidak mau disebut gaya kepemimpinan yang on the track. Ada proses transfer ilmu yang sengaja Pak Dahlan tunjukkan, ada gaya memimpin yang benar yang ingin beliau sampaikan, serta ada cara menghargai waktu dan peduli sesama yang ingin beliau tularkan. Banyak sudah hal-hal yang beliau tunjukkan, mulai dari membuka gratis gerbang tol karena penjaganya belum datang, menanggapi biasa saat mau masuk ke Pabrik Gula Krebet Malang ternyata di berhentikan oleh penjaga pintu gerbang karena beliau tidak dikenal, sampai sikap optimis beliau untuk mengembangkan proyek mobil listrik dengan putera petirnya. Itu semua ternyata menularkan semangat optimistis bagi berbagai kalangan yang mendengarnya. Tidak ketinggalan juga bagi saya yang hanysehari-hari bergeluk dalam dunia pendidikan. Banyak hal yang bisa saya jadikan teladan dari sepak terjang mantan Bos Jawa Pos Group ini. Pantas kiranya jika para pendidik atau orang-orang yang bekecimpung di dunia pendidikan (sekolah), mulai dari kepala sekolah, guru, karyawan dan yang lainnya, bisa memiliki etos dan semangat serta komitmen yang ditunjukan oleh Pak Dahlan. Bagaimana kepala sekolah sebagai leader di sekolah, bisa menunjukkan teladan dalam bekerja. Tidak hanya duduk menunggu hasil pekerjaan bawahan. Dalam hal kedisiplinan, semangat mencari dan menemukan solusi terhadap berbagai persoalan yang timbul di sekolah. Mau mendengarkan saran dari komponen sekolah yang lain demi kemajuan pendidikan sekolah. Untuk guru, fenomena Pak Dahlan seyogyanya bisa juga dijadikan motivasi untuk menjadi seorang guru yang profesional, kreatif dan inovatif. Profesional dalam menjalankan tanggung jawab mengajar dan mendidik. Tidak hanya sekedar menggugurkan kewajiban di kelas aja, “yang penting ngajar selesai beres”. Guru juga harus bertanggung jawab terhadap keberhasilan belajar siswanya di kelas. Sosok mantan Dirut PLN ini layak ditiru dari sisi tanggung jawab. Bagaimana saat masih menjabat Dirut PLN, beliau selalu bersemangat menyelesaikan masalah kelistrikan yang belum merata di seluruh Indonesia. Pak Dahlan belum akan tidur malam kalau belum membaca progres dari jajaran di PLN dalam menyelesaikan masalah ini. Pak Dahlan bahkan rela langsung turun ke daerah terpencil untuk mengurai akar persoalan ketidakmerataan pasokan listrik di daerah. Nah, guru juga harus punya semangat tersebut. Guru yang baik akan merasa tidak nyaman dan susah tidur jika ada siswannya yang belum bisa diantarkan prestasinya dengan baik. Karena merasa itu adalah tanggung jawabnya sebagai guru profesional Dalam hal kreativitas guru, ada banyak hal yang bisa kita tiru dari Pak Dahlan. Seorang guru harus kreatif. Kreatif dalam menciptakan suasana mengajar yang menyenangkan, kreatif dalam mencari solusi pembelajaran agar tidak monoton di mata siswanya. kembali ke Pak Dahlan, beliau selalu mencari cara untuk meningkatkan pelayanan perusahaan terhadap pelanggan. Menurut Ayahanda dari Azrul Ananda, Komisaris DBL dan NBL ini, PLN jangan mentang-mentang satu-satunya penyedia listrik di Indonesia terus menjadi seenaknya saja melayani pelanggan. Hal ini di tentang keras oleh beliau. Bahkan Pak Dahlan menyederhanakan proses pengadaan sambungan listrik baru bagi masyarakat dari sisi biaya dan efisiensi waktunya. Bagaimana beliau juga menggunakan sarana email untuk berdiskusi dengan jajaran PLN di daerah, sehingga bisa menghemat waktu dan biaya. Ini mutlak harus dipunyai juga oleh guru, sehingga tidak banyak mengeluh dengan kondisi yang ada. Dan yang paling penting, jika seorang guru sudah kreatif maka diharapkan bisa menularkan virus kreatif itu terhadap anak didiknya di kelas. Inovatif, seorang guru dituntut juga harus inovatif. Guru harus banyak menelurkan ide-ide baru yang bisa mengangkat prestasi belajar di kelas. Guru yang inovatif akan selalu berpikir untuk menemukan ide-ide baru dan menarik. Mulai dari ide-ide bagaimana agar pembelajaran di kelas sudah tidak selalu diisi dengan metode ceramah dan latihan soal. Mungkin bisa dengan menemukan media pembelajaran yang mendukung materi pembelajaran, atau bisa juga dengan mencari dan terus berusaha menemukan metode mengajar yang cocok bagi proses belajar mengajar di kelas. Bagaimana kita lihat sosok Pak Dahlan yang selalu memunculkan ide/gagasan yang inovatif bagi bangsa ini. Seperti kita baca diatas tentang mobil dan motor listrik. Gagasan itu muncul karena bangsa ini sudah mulai panik dengan kondisi katersediaan BBM demi kelangsungan hidup rakyat. Meskipun gagasan tersebut sudah ada sebelumnya, tapi Pak Dahlan langsung dengan gagah berani mengkonkritkannya, bukan hanya sebagai wacana belaka. Dan masih banyak contoh lainnya yang menggambarkan sisi lain dari Pak Dahlan dalam hal ide/gagasan yang inovatif dan menarik. Nah, berkaca dari itu semua, kita sebagai orang yang berkecimpung dalam dunia pendidikan, wajiblah kiranya mempunyai semangat dan motivasi yang tinggi untuk bisa berbuat yang terbaik bagi bangsa melalui jalur pendidikan/sekolah. Sehingga di masa depan, siapa tahu akan muncul terus generasi Pak Dahlan Iskan dalam versi yang berbeda. Dan kalau hal ini terwujud, Indonesia akan sangat diuntungkan dalam hal pengembangan sumber daya manusia yang profesional, kraetaif dan inovatif. Dan para guru yang istimewa dan penuh semangat itu nantinya, bisa menjadi tauladan yang hebat bagi siswa-siswanya. Bravo GURU INDONESIA

Sabtu, 26 Mei 2012

Bersembunyi di Balik Kata “Kejujuran”

Sebelumnya saya ucapkan selamat kepada Calon-calon pemimpin masa depan Indonesia, yang hari ini telah mengetahui hasil UNAS nya. Bagi yang nilainya bagus pertahankan di jenjang berikutnya, dan bagi yang kurang memuaskan jangan bersedih, terus bersemangat untuk menghadapi proses belajar di universitas (kampus) ataupun universitas (kehidupan). Berkaca pada tahun-tahun sebelumnya, hasil pengumuman UNAS selalu membawa kisah tersendiri bagi sekolah, siswa maupun guru dan orang tua. Semuanya harap-harap cemas. Seolah-olah hasil UNAS tahun ini merupakan tolak ukur bagi keberhasilan pembelajaran di sekolah itu. Kita semua tahu bahwa dalam menghadapi UNAS, sekolah sudah melakukan berbagai macam cara dan metode untuk meningkatkan capaian nilai UNAS. Mulai dari membentuk Tim Sukses, Menambah jam belajar di sekolah, out bound, doa bersama, serta cara-cara lain yang meskipun kadang tidak bisa dinalar dengan akal sehat pun akan dilakukan demi keberhasilan UNAS di sekolahnya. Semua energi civitas sekolah mulai dari Kepala sekolah, guru, karyawan, siswa, orang tua, bahkan sampai security di sekolah, dikondisikan sedemikian rupa demi suksesnya ujian siswa. Hal ini dilakukan disamping demi menjaga gengsi /”martabat” sekolah, juga untuk menjaga citra pimpinan sekolah dihadapan pimpinan sekolah yang lain, pada saat rapat kelulusan di tingkat kabupaten/kota. Sekolah yang disebut terus menerus oleh Kepala Dinas Pendidikan setempat, baik untuk capaian nilai individu ataupun rata-rata sekolah, akan merasa punya “muka”. begitu pula sebaliknya. Dan yang paling penting, sang pimpinan sekolah akan selalu bisa menjaga nama baiknya di depan kepala dinas. Bagi sebagian daerah, nilai UNAS, merupakan tolak ukur keberhasilan pendidikan di daerah tersebut. Walikota/Bupati akan bangga jika ada beberapa siswa atau sekolah di daerahnya yang mencatatkan dirinya di jajaran best ten nasional. Dan hasil baik tersebut, bagi kepala dinas pendidikan merupakan garansi untuk tetap terus di kursi kepemimpinannya. Akan tetapi, bagi daerah yang sekolahnya tidak satupun masuk jajaran best ten baik baik di tingkat provensi maupun nasional akan selalu mencari kambing hitam. kasihan sebenarnya kambing hitam itu. Padahal kambing hitam sekarang sedang langka di pasaran karena sedang dalam perawatan spa menjelang Idul Qurban, sorry ngelantur. Apa saja biasanya yang dijadikan kambing hitam bagi kegagalan suatu daerah pada hasil UNAS. sebelum membahas itu, mari kita lihat dan baca lagi berita yang akan banyak beredar di media lokal terkait hal ini. di media itu akan saling adu argumen antara DPRD (yang mengatasnakan rakyat) dengan Dinas Pendidikan setempat. DPRD melalui komisi yang membidangi pendidikan akan mengkritisi hasil UNAS, dan menyalahkan kinerja Dinas Pendidikan (pemerintah daerah/kota) dan jajarannya kurang maksimal dalam mempersiapkan UNAS. Nah, seakan tidak mau disalahkan begitu saja, pihak dinas pendidikan akan selalu mengatakan hal yang “klise” yaitu; “kami sudah berusaha maksimal dan hasil try out pun sudah bagus tapi kami tidak memprediksi hasil UNAS akan seperti ini. Dan kami tetap bangga dengan hasil ini karena kami melakukan kecurangan untuk mendongkrak nilai”. Kita semua pasti sudah sering mendengar jawaban “kami tidak curang” untuk menjawab kenapa hasil UNAS nya jeblok, yang kalau kina cermati bahasa itu sama saja dengan mengklaim bahwa daerah yang hasil UNAS nya bagus, melakukan kecurangan. Cukup menggelikan melihat hal ini. Jarang sekali ada kejujuran dalam menjelaskan kenapa hasil UNAS nya mengecewakan. Ya, itu karena mungkin para pemangku jabatan di Dinas Pendidikan takut dilengserkan oleh Bupati/walikota. Sudah bukan menjadi rahasia umum jika di dinas pendidikan ini termasuk lahan basah. Banyak yang berebut untuk mengurusi pendidikan di tingkat daerah,meskipun yang bersangkutan sama sekali tidak punya background di bidang pendidikan/persekolahan. Sebenarnya patut disayangkan alibi-alibi atau penjelasan-penjelasan yang terkesan mencari aman seperti itu. Sebagai dinas yang bertanggung jawab akan kelangsungan sistem pendidikan di daerahnya, mau dan siap bertanggung jawab terhadap apapun yang terjadi akan hasil UNAS. Seyogyanya mereka mau menjelaskan duduk permasalahan yang sebenarnya. Sehingga pada akhirnya seluruh komponen masyarakat mulai pemerintah, wakil rakyat, sekolah, keluarga, pemerhati pendidikan akan ikut urun rembug memikirkan jalan keluarnya. Sekarang mungkin masih belum best ten, tapi siapa tahun tahun depan, karena sudah ada masukan-masukan yang kongret terkait dengan permasalahan ini, akan mencapai hasil yang lebih baik lagi. Bahkan mungkin meraih The Best Ten adalah bukan sesuatu yang mustahil. So, jangan lagi bersembunyi di balik kejujuran untuk mengungkapkan ketidakberesan yang terjadi. Bravo Pendidikan Indonesia!

Senin, 07 Mei 2012

GEROBAK SAMPAH WANGI

“Kring...kring kring...” tampak seorang bapak sedang mengayuh sepeda tua. Di belakangnya tampak anak perempuan dengan rambut kepang dua, sedang asyik duduk diatas boncengan sepeda itu sambil membaca buku. “Naya...., sudah sampai sekolah loh, ayo cepat turun sebentar lagi bel berbunyi !” begitu kata bapak itu sambil membantu menurunkan anak perempuan tadi dengan hati-hati. “Ehh..saking asyiknya baca sampai nggak tahu kalau sudah sampai di sekolah”, sambil melompat turun dari boncengan sepeda tua itu. “Terima kasih ya, Yah...Ayah sudah mengantarku ke sekolah pagi ini”, kata anak perempuan berkepang dua itu lalu mencium tangan ayahnya seraya melambaikan tangannya sambil mengucapkan salam. “Baik-baik di sekolah ya... jangan lupa ikuti semua pesan guru, nanti siang Ayah tunggu di sini ya...” kata lelaki separuh baya itu sambil berlalu mengayuh sepeda tua itu berlalu dari halaman depan sekolah. Pagi itu suasana kelas masih terlihat sepi, karena jarum jam baru menujukkan pukul 06.30. Tetapi di dalam kelas 5 A, beberapa anak tampak duduk bergerombol sambil mendengarkan cerita dari seorang anak perempuan yang duduk paling depan. Dari nama yang terpampang di baju seragam putihnya, anak itu bernama Bintang Kejora. “Eh, kalian tahu tidak, ternyata yang setiap hari mengantar Naya ke sekolah naik sepeda butut jelek itu adalah tukang angkut sampah di lingkungan rumahku”, kata Bintang memulai perbincangannya. “Hah...tukang angkut sampah!” kata ketiga temannya yang lain serentak. “Berarti Naya setiap hari Naya bau sampah dong, hiiii....dan itu sama saja dengan kelas kita ada sampahnya tiap hari” timpal mereka lagi, sambil mengerutkan kening mukanya seperti perasaan orang menahan bau tertentu. “Nah itu dia teman-teman, aku juga kaget waktu tahu itu begitu tahu yang mengangkut sampah di lingkungan rumahku adalah orang yang selama ini mengantar Naya ke sekolah.” Kata Bintang dengan nada mengejek. Tapi tiba-tiba tampak di balik pintu depan, tampak Kanaya sedang memasuki ruangan itu dengan raut wajah seperti biasanya, selalu berseri dan tersenyum sama siapa saja. “Selamat pagi teman-teman” ucap Naya dengan wajah yang berseri. Keempat anak perempuan yang disapa Naya pura-pura mengobrol sendiri dan seolah-olah tidak mendengar sapaan Kanaya. Kanaya pun heran dengan keadaan ini, tapi dia tidak berani bertanya ada apa kepada teman-teman di depannya. Lalu dia langsung menuju ke bangkunya. “Yuk teman-teman, kita keluar saja...! kalau berlama-lama di sini bisa-bisa kita ketularan bau sampah nih” ajak Bintang kepada ketiga temannya. Dan diikuti oleh ketiga temannya beranjak keluar dari dalam kelas, hingga menyisakan Kanaya sendiri. Kanaya terdiam mendengar ucapan bintang tadi. “Sampah....? apakah ucapan Bintang tadi tertuju untukku?” begitu kata hati Kanaya. “Selamat pagi Anak-anak..!” Kata Ibu Ani memulai pelajaran hari ini di kelas 5A. “Selamat pagi Bu...!” jawab seluruh siswa di kelas 5A “Hari ini Ibu akan melanjutkan penilaian penampilan puisi kalian di depan kelas”, ujar Bu Ani sambil membuka daftar nilai guru di atas meja. Suasana kelas langsung hening. Sebagian dari mereka merasa enggan kalau dipanggil yang pertama hari ini. “Bintang Kejora..!” demikian suara Bu Ani memanggil siswa yang harus membacakan puisi di depan kelas. “Saya Bu..., tapi.., saya tidak mau maju Bu jika di kelas ini masih ada yang bau sampah!” ucap Bintang seraya kedua matanya melirik ke arah tempat duduk Kanaya. Seluruh siswa diruangan itu terdiam dan terkejut mendengar ucapan Bintang. “Masih bau sampah bagaimana maksud kamu Bintang?” tanya Bu Ani heran. “Ya.... bau sampah gitu deh. Atau tepatnya ada siswa di sini yang selalu membawa sampah ke dalam kelas, wuiihhh baunya Bu..” kata Bintang sambil menunjuk ke arah Kanaya. Seisi kelas mengalihkan pandangannya ke arah Kanaya. Termasuk Bu Ani. “Ayahnya kan tukang angkut sampah di lingkungan rumahku” lanjut Bintang sinis. “Bintang...! kamu tidak boleh memandang orang lain dari luarnya saja, dan kamu juga tidak boleh merendahkan derajat orang lain, tidak baik itu Nak” kata Bu Ani mencoba menenangkan suasana yang tidak nyaman itu. Tapi tiba-tiba Kanaya angkat bicara. “Bu Ani..dan teman-teman semua, aku tidak apa-apa kok di sebut Bintang sampah, karena memang ayahku tukang angkut sampah. Dan apa itu salah?” Kanaya memulai uc, apannya. “Dan kalau Bintang merasa tidak nyaman membaca puisi ketika ada aku di kelas, saya bisa keluar dulu kok” ucap Naya sambil memandang ke arah Bintang dan Ibu ani. “Sudah....sudah, di kelas ini yang mengatur sekarang ibu, jadi tidak ada yang keluar dan harus tetap di kelas sambil melihat teman yang lain membaca puisinya” lanjut Bu Ani. Akhirnya pembacaan puisi masing-masing siswa dilanjutkan hingga akhir jam pelajaran tanpa ada yang berani membicarakan hal yang baru saja terjadi. “Bintang...Bintang, dimana kamu taruh kotak kuning yang kamu pakai mainan kemarin Nak?” suara seorang perempuan memakai seragam polisi memecah keheningan suasan rumah besar itu. Seraya menghampiri Bintang yang sedang bermain boneka di kamar. “Kotak yang mana, Ma?” tanya Bintang heran. “Itu kotak warna kuning mama, yang kamu pinjam buat mainan boneka kemarin” jawab perempuan itu lagi yang tak lain adalah mama Bintang. “Emang kenapa Ma?, kan udah usang kotak itu, aku kemarin itu tidak jadi minjam kotak itu Ma, karena aku perhatikan saudah jelek dan kusam, ya...aku buang saja ke tempat sampah” kata Bintang. “Apa...!!!, kamu buang ke tempat sampah? Oh..Tuhan, itu kotak perhiasan permata mama Nak” ucap mama bintang ketakutan, sambil bergegas menuju ke luar pagar rumah menuju tong sampah. Beberapa saat kemudian. “Habis sudah...habis semuanya perhiasan mama, di tong sampah sudah di aduk-aduk, tidak ada kotak itu, aduh....” kata mama Bintang sambil menangis. Bintang pun terdiam. Dia merasa bersalah sekali kepada mamanya, tapi dia bingung bagaimana menebus rasa bersalah itu. Sampai akhirnya, “Ting tong...ting tong” bel rumah berbunyi, Bintang bergegas menuju ke arah pintu. Kemudian Bintang membuka pintu warna coklat itu. Dan setelah pintu terbuka, betapa terperanjatnya Bintang, karena yang berdiri di depan pintu rumahnya itu adalah seorang lelaki yang dia kenal sebagai ayah Kanaya. Teman di kelas Bintang yang telah bintang ejek beberapa hari yang lalu. Belum hilang rasa terperanjat Bintang, “Mama ada Nak?” tanya ayah Kanaya sambil memegang sebuah kotak kuning yang Bintang udah hafal sama kotak itu “Ada..ada Pak, mari masuk ke dalam” ucap Bintang sambil bergegas menuju kamar mamanya. “Ma.....Mama...! ada tamu di luar” Bintang setengah berteriak memanggil mamanya “Tunggu sebentar..” jawab sang mama. Bintang terus berdiri di belik tirai penghubung ruang tengah dan ruang tamu. Matanya tidak pernah lepas memperhatikan ayah Kanaya yang sedang duduk di sofa merah ruang tamu itu. Terlebih-lebih jika melihat kotak kuning yang ada di meja, tambah tidak karuan perasaan Bintang saat itu. Keheranan dan ketertegunan Bintang sirna ketika mama masuk ke ruang tamu menemui pria paruh baya itu. “Permisi Bu...mohon maaf, saya lancang masuk ke rumah Ibu dengan pakaian kotor begini” ayah Kanaya berdiri sambil membungkukkan badannya untuk menghormati tuan rumah. “Mari..mari Pak, silahkan duduk” kata mama Bintang sambil mempersilahkan tamunya duduk. “Saya tidak lama-lama Bu, saya hanya mau menyerahkan benda ini, karena kemarin, saat saya mengambil sampah di tong depan rumah ini saya ingat kotak ini termasuk yang ikut masuk ke gerobak saya, pertama tidak saya hiraukan, tapi setelah mau saya buang di TPA, ada yang berkilau keluar dari dalam kotak, lalu saya buka dan langsung saya simpan karena isinya sangat banyak” kata ayah Kanaya memulai pembicaraan “Dan karena saya ingat kotak ini berasal dari rumah ibu, maka sekarang saya kembalikan kepada Ibu, karena saya yakin Ibu sangat kehilangann pastinya” ayah Kanaya melanjutkan kata-katanya “Ohh...benar Pak, saya kebingungan sekali sejak tadi, karena kotak kuning ini hilang. Kotak ini sangat berharga sekali, karena merupakan peninggalan almarhum suami saya, jadi sekali lagi terima kasih ya Pak” kata mama Bintang tanpa bisa menyembunyikan raut wajah senangnya. Bintang hanya bisa melihat dari balik tirai apa yang barusan dia saksikan. Ternyata orang tua yang selama ini dia olok-olokkan kepada Kanaya, adalah orang baik dan jujur. Dan tukang sampah itu tentunya memiliki hati yang mulia serta harum segala tingkah lakunya. “Maaf kan aku Naya....ternyata walau bergumul dengan sampah ayahmu tetap memiliki hati yang harum dan wangi” Bintang berkata dalam hati seraya berjanji besok akan minta maaf langsung kepada Kanaya.

Minggu, 28 Februari 2010

Kenapa takut dengan facebook?

Akhir-akhir ini marak diberitakan di media massa tentang dampak dari jejaring sosial di dunia maya yang disebut facebook. Mencuatnya berita tentang facebook, tak lain dan tak bukan karena adanya kasus penculikan yang melibatkan anak –anak yang masih berstatus pelajar. Komentar-komentar yang muncul, baik dari kalangan praktisi anak, pendidik maupun orang tua beragam. Ada yang yang setuju, ada yang menanggapi biasa saja bahkan ada juga yang sangat tidak setuju akan facebook.
Sebenarnya apa sih facebook itu? Facebook adalah suatu portal jejaring sosial yang ada di dunia maya, yang memungkinkan penggunanya bisa bertemu dengan orang-orang di belahan dunia yang lain. Atau kata gampangnya sebagai situs pertemanan di dunia maya. Siapa saja yang tergabung, dengan cara yang mudah, yaitu hanya dengan mengisi aplikasi/ mendaftar, yang salah satunya harus mencantumkan alamat email.
Berangkat dari kemudahan menggunakan tersebut, sekarang yang menjadi pengguna mulai dari anak usia 7 tahun hingga 60-an. Beragam profesi yang menyertai mereka. Mulai dari anak usia sekolah dasar, praktisi politik, guru, sampai ibu rumah tangga. Dan itu semua berangkat dari keinginan untuk bisa berinteraksi dan menyapa teman lama ataupun mencari kawan baru. Bahkan situs ini pula sigunakan sebagai ajang kampanye baik pemilu, pilpres dan pilkada.
Hanya saja akhir-akhir ini, ada yang menyalahgunakan situs ini untuk kegiatan yang kurang terpuji. Ada kasus penculikan, penipuan, sampai perseteruan dengan guru, semuanya berawal dari tulisan di facebook. Dan ujung-ujungnya berita-berita seperti ditu di blow up di media massa. Dan terkesan bahwa facebook lah penyebab semua kejelekan itu. Dan imbas dari pemberitaan itu sendiri sekarang adalah sudah mulai ada sekolah dan bahkan orang tua melarang anaknya membukan akun facebook yang sudah dibuat. Bahkan ada sekolah yang dengan tegas memberikan poin (negatif) kepada siswa yang dalam kurun waktu tertentu tidak segera menghapus akun facebook nya.
Sebenarnya kalau kita telaah lebih jauh, kita bisa memanfaatkan betul keberadaan facebook sebagai sarana untuk belajar. Banyak hal yang bisa ambil manfaatnya. Di sini, selain untuk ajang silaturahmi, juga bisa dijadikan sarana untuk berdiskusi. Banyak grup yang menyediakan sarana diskusi mulai dari grup para guru di lembaga pendidikan sampai kepada hal-hal mengenai sosial dan kajian-kajian agama. Bagi yang suka menulis atau sekedar ingin menuangkan ide atau gagasan-gagasannya, bisa juga memanfaatkan facebook sarananya. Sebenarnya banyak hal yang positif yang bisa kita gali dari keberadaan facebook ini. Jangan kita langsung memberi cap negatif akan hal ini.
Nah, adanya fenomena digunakannya sarana ini utuk kegiatan yang kurang terpuji seperti tersebut diatas, janganlah kita membuat generalisasi, bahwa semua pengguna facebook, akan jadi penculik, semua pengguna facebook pasti akan jadi pembangkang terhadap guru di sekolah. Kita harus bisa melihat ini dari kacamata yang jernih dan tidak biasa menghakimi sesuatu karena adanya suatu kasus yang terjadi. Patut disayangkan jika ada peraturan-peraturan atau pelarangan yang isinya tidak diperbolehkan menggunakan facebook.
Memang sih, kalau melihat gejala yang berkembang sekarang, anak-anak usia sekolah dasar pun sudah keranjingan juga menggunakan facebook. Ini tak bisa dihindari, sebagai efek dari arus globalisasi informasi yang langsung menyentuh dan dirasakan oleh segenap lapisan masyarakat Indonesia. Dan ini juga tidak serta merta langsung menyalahkan mereka dari penggunaan facebook ini. Mereka pada dasarnya hanya ingin tahu dan ingin mencoba menggunakan sarana ini untuk unjuk diri agar tidak dianggap gaptek dan melek IT.
Apa tugas kita sekarang sebagai pendidik dan orang tua? Disinilah peran serta dari institusi pendidikan dan orang tua di rumah sangat penting. Sekolah yang dewasa ini memasukkan kurikulum pembelajaran yang berbasis IT, mau tidak mau mesti mengajak siswanya untuk mengenal internet. Mengajarkan siswa membuat akun email, membuat tulisan di blog, dan sebagainya.Pada akhirnya siswa akan mengerti akan seluk beluk internet. Maka mulailah mereka mencoba belajar, kira-kira ada apa saja di dunia maya. Sehingga pada saat mereka membaca ada fenomena dan portal baru yang bernama facebook, mereka langsung mencobanya. Apalagi banyak ditemukan kesenangan akan bertemu kawan lama dan mencari kawan baru sebagai ciri khas anak muda yang ingin mencari kawan.
Sekolah, dalam hal ini guru pengajar, haruslah memberikan pengarahan dan memberikan informasi yang benar dan utuh. Mulai dampak positif dan dan dampak negatifnya. Siswa harus diajarkan bagaimana etika dan prilaku dalam menggunakan internet terlebih-lebih facebook, karena bisa langsung berinteraksi dengan orang lain. Tetap beri pengertian yang dalam, bahwa jangan terlalu sering menggunakan facebook karena akan mengganggu waktu belajar di rumah. Untuk orang tua di rumah, beri pengertian anak-anak usia sekolah dasar, jika ingin menggunakan facebook, alangkah lebih baiknya jika password dan email itu harus sepengetahuan orang tua. Dan ini harus tegas disampaikan kepada anak-anaknya. Ini tak lain dan tak bukan untuk kontrol dan monitoring orang tua akan kegiatan anaknya dalam penggunaan facebook.
Selain itu, guru juga bisa memanfaatkan ini untuk mengontrol kegiatan siswa, apa mereka sedang belajar pada jam-jam belajar di rumah, atau malah main facebook. Bikin komitmen bersama untuk membuat aturan main jika dirumah. Dan guru bisa tahu kalau sudah antar mereka sudah menjadi teman dalam facebook. Guru juga bisa membuat grup belajar di dalamnya. Sehingga bisa semakin berguna keberadaan facebook ini.
Terakhir, marilah kita sebagai guru dan orang tua, tidak terlalu menganggap facebook ini termasuk hal yang menakutkan. Kita memang tidak bisa terlalu melepas anak “belajar berkreatifitas” di dunia maya, tapi paling tidak kita tetap membimbing dan menemani sekaligus mengontrol aktivitas anak di dalam penggunaan internet. Internet atau facebook bukan barang yang merusak jika kita bersama-sama mengunakan dengan bijak. Dan pada ujung-ujungnya nanti kita akan melihat anak atau siswa kita sebagai pribadi yang santun beretika serta punya kemarihan dan bisa menggunakan segalai produk yang berbau teknologi dan informasi sesuai dengan kebutuhan dan kapsitasnya.

Minggu, 26 Juli 2009

BANTAL……….

Kenapa ya..kok bantal jika dipakai malam hari terasa tidak nyaman bagiku? Dan kenapa ya jika aku memakai bantal saat pagi hari, sangat terasa nyaman bagiku? Bantalku bergambar kucint bernama marie. Dan rasanya empuk sekali.
Tapi walaupun empun kenapa ya? Kok jika dipakai malam hari tidak nyaman? Tapi kalau dipakai pagi hari sangat nyaman. Karena dulu akau suka bangun kesiangan karena bantalku di pagi hari sangat nyaman. Sehingga aku malas jika bangun tidur. Tapi sekarang aku nggak bangun kesiangan lagi kok…!

MARSYA---5A/SD ISLAM SABILILLAH MALANG

Suka Duka di Kelas VA

Saat ini aku sudah naik kelas lima. Aku senang sekali, karena akau masuk kelas VA. Aku mersa senang karena memiliki wali kelas yang baik yaitu Pak Andy dan Bu Sakinah. Pak Andi mengajar pelajaran seni musik sedangkan Bu Sakinah mengajar sains.
Meskipun masih sebentar berada di 5A, aku sudah mulai bisa berteman dengan dengan teman-teman yang dulu tidak sekelas denganku. Oh ya, aku lupa, jumlah siswa di kelas 5A adalah 30 siswa dan aku absent 27. teman-temanku dari kelas lain saat kelas 4 antara lain, Rossy, Marsya, Eka, Yahya, Yayak, dan masih banyak lagi.
Tapi…….,ada juga pengalaman yang tidak mengenakkan yaitu anak laki-laki di kelas ku nakal-nakal. Kadang-kadang berlari-lari saat pergantian pelajaran, bahkan ketua kelasnya ikut permainan yang dimainkan anak laki-laki, membuat ricuh dan berantakan. Terkadangpun guru-guru sampai marah. Contohnya saat Bu Syifa’ masuk kelas, anak laki-laki masih bermain, dan bisa ditebak, Bu Syifa’…marah!
Namun terkadang aku merasa sedih karena aku jauh dari teman-teman yang berada di kelas 5D. Aku sedih karena kelas 5D jauh letaknya. Untungnya aku masih bisa bertemu saat jam istirahat. Karena saat istirahat jika kita mau membeli makanan dan minuman kita melewati samping kelas 5D.
Ada lagi yang tidak aku suka dengan 5A, yaitu letak kelas 5A berada di belakan perpustakaan. Dan juga kita tidak bisa melihat jalan raya, karena jendela yangterletak di kiri hanya bisa melihat kelas 5B, dan jendela yang kanan terlalu tinggi. Maka dari itu aku tidak terlalu menyukai kelas 5A.
Ini adalah perasaanku saat berada di kelas 5A. Ada Suka Ada Duka…

SALSABILA YUHARNITA----VA/SD ISLAM SABILILLAH MALANG

Senin, 20 Juli 2009

J-POP dan J-ROCK…..Eksitensi Musik Jepang

Dalam percanturan industri musik dunia, genre musik dari Jepang bisa dibilang cukup kuat di Asia. Padahal kalau dirunut dari sejarah musikalnya, industri musik modern di Jepang terbilang baru eksis dan berkembang di era 80-an. Tapi pengaruhnya cepat menyebar. Nggak heran kalau sekarang kita bisa mendengar aliran musik yang diembel-embeli Jepang di depannya, seperti J [Japan] – Rock atau J [Japan]- Pop.

Memang, kalau menyimak fakta sejarah dan data-data yang tercecer di beberapa literature, musik modern yang masuk ke Jepang dibawa oleh orang-orang Amerika. Mereka –orang Amerika itu—awalnya memperkenalkan musik jazz. Kabarnya, jazzlah akar dari J-Pop yang kita kenal sekarang.

Akar dari J-Pop berawal dari musik Jazz yang populer pada awal era Showa. Awal Era Showa dimulai pada tahun 1926 oleh Kaisar Hirohito sampai dengan masa Perang Dunia II 1945. Musik Jazz memperkenalkan berbagai jenis alat musik yang sebelumnya hanya dipergunakan untuk musik klasik dan dalam militer, dalam berbagai bar dan klub seperti “Ongaku Kissa” yang merupakan salah satu tempat pertunjukkan Jazz yang terkenal.

Namun dalam masa Perang Dunia II, musik jazz sempat terhenti akibat tekanan dari tentara kerajaan Jepang. Setelah masa perang berakhir, Tentara Amerika Serikat memperkenalkan kepada Jepang jenis musik khas Amerika seperti boogie-woogie, mambo, blues dan country. Jenis-jenis musik tersebut dipertunjukkan oleh para musisi Jepang kepada pasukan tentara Amerika yang menempati markas AS di Jepang. Lagu seperti “Tokyo Boogie-Woogie” yang dinyanyikan oleh Sizuko Kasaoki (1948), “Tennesse Waltz” oleh Eri Chiemi (1951), “Omatsuri Mambo” oleh Misora Hibari dan “Omoide no Waltz” oleh Izumi Yukimura menjadi populer di Jepang.

Bahkan musisi luar seperti Jazz At The Philharmonic dan Louis Armstrong pernah mengunjungi Jepang untuk melakukan pertunjukkan. Tahun 1952 merupakan tahun dimana musik Jazz membooming. Namun, Jazz bukanlah jenis musik yang mudah dipelajari sehingga sebagian besar musisi amatir Jepang mempelajari musik country yang dianggap paling mudah dipelajari.

Demam Rock and Roll mulai melanda Jepang pada tahun 1956 oleh sebuah grup musik country, Kosaka Kazuya and Wagon Masters yang merilis album “Heartbreak Hotel”, yang aslinya dibawakan oleh sang raja Elvis Presley. Wabah rock and roll ini mencapai titik puncaknya pada tahun 1959 dengan munculnya sebuah film yang memfokuskan ada pertunjukan grup rock and roll Jepang. Turunnya pamor rock and roll di Amerika Serikat diikuti oleh Jepang seiring dengan banyaknya grup di Jepang yang tak lain hanya meniru Rock and Roll Amerika.

Oh ya, J-Pop yang kita kenal sekarang sebenarnya merupakan istilah umum yang mengandung banyak jenis (genre) musik Jepang seperti pop, rock, dance, rap dan soul. Di Jepang, istilah J-Pop digunakan untuk membedakan gaya musik modern dengan musik klasik Jepang yang disebut dengan Enka atau bentuk ballad dari Jepang tradisional. Sering juga kita mendengar istilah seperti J-Rock, Visual Kei dan J-Rap, namun semua istilah tersebut berada di dalam naungan J-Pop.

Istilah J-Pop sendiri sebenarnya tidak terlalu dikenal di khazanah musik di Jepang, sampai akhirnya istilah J-pop digaungkan oleh satu stasiun radio bernama “J-WAVE” untuk menunjukkan jenis musik yang berbeda dari musik rakyat. Disadari atau tidak, J-Pop sedikit banyak memang dipengaruhi oleh American-style yang menjadi pengaruh terkuat perkembangan musik di Jepang.

Contoh paling popular adalah penyanyi Jepang terkenal Utara Hikaru. Penyanyi cewek ini menjadi populer dengan gaya urban hip-hop dengan pengaruh Amerika yang kental. Gayanya berbeda di Jepang karena lebih mirip atau hampir sama dengan hip-hop Amerika. Itu pun disebabkan karena Utada Hikaru lahir dan besar di New York. Meski warna Jepang yang ditonjolkannya pun masih terasa kental.

Musik J-Pop merupakan bagian dari kebudayaan populer Jepang. Dan telah digunakan dimana-mana seperti anime, iklan, film, acara radio dan televisi, dan video game. Bahkan beberapa acara berita di televisi menggunakan lagu J-pop sebagai penutup acara.

Laju pertumbuhan J-Pop luar biasa tingginya. Dalam anime dan acara televisi lainnya, terutama drama, lagu J-pop yang digunakan sebagai soundtrack cenderung berubah setiap musim (season) sampai empat kali dalam setahun. Bila dihitung lagu pembuka (OP) dan penutup (ED) dan acara berlangsung selama satu tahun, maka paling tidak memiliki delapan lagu sebagai bagian dari acara tersebut.

Di Indonesia, demam J-Pop dimulai saat lagu Ko Ko Ro No Tomo meledak di tahun 80-an. Agak unik sebenarnya, ketika lagu-lagu pop cengeng begitu merajalela, Mayumi Itsuwa, tiba-tiba masuk dan memberikan sebuah perbedaan. Ketika itu, semua penggemar musik pop tiba-tiba bisa berbahasa Jepang.

Berawal dari J-pop yang dipengaruhi musik luar, dan hasilnya pun menggebrak dengan ekspansi sampai ke luar Jepang. Artis-artis J-Pop mulai melakukan pertunjukan ke luar Jepang dimulai dari seputar negara-negara di Asia, kemudian meluas ke Australia, Amerika, bahkan Eropa. Bahkan J-pop mulai dijadikan inspirasi musik di beberapa negara seperti Indonesia dengan grup-grup yang terinspirasi oleh artis Jepang paling pasaran di Indonesia, L`arc en Ciel. Kemudian menyusul gaya fashion mereka yang ditiru.


J-ROCK PUN MENGGEBRAK
Tak Cuma genre pop, J-Rock pun menjadi salah satu wabah di negara-negara Asia. Gaya rock ala Jepang banyak ditiru dan mejadi trend bermusik di banyak negara termasuk Indonesia.
Akar lahirnya J-Rock pun sebenarnya tak berbeda dengan J-Pop. Sejarah J-Rock dimulai tahun 1957 dengan dikenalnya musik rock di Jepang bersamaan dengan puncak kepopuleran rockabilly yang merupakan salah satu gaya rock 'n' roll.

Rockabilly yang dimulai di berbagai kelab jazz melahirkan penyanyi rockabilly seperti Mickey Curtis, Masaaki Hirao, dan Keijirō Yamashita. Pada bulan Februari 1958, ketiganya tampil dalam konser Westan Kānibaru I (Western Carnival I) di gedung pertunjukan bernama Nihon Gekijō, Tokyo.

Di akhir dekade 1950-an, kepopuleran rockabilly yang mulai surut digantikan era Kabā Popsu (cover pops) yang terdiri dari berbagai jenis musik. Di antara tokoh cover pops terdapat musisi seperti Yūya Uchida dan Isao Bitō yang berakar pada genre rockabilly. Selain itu, cover pops dengan gaya Liverpool Sound lahir mengikuti kepopuleran grup-grup musik seperti The Beatles di sekitar tahun 1963.

Gitar elektrik produk dalam negeri yang bisa dibeli dengan harga murah membantu terciptanya demam Ereki (musik rock dengan gitar elektrik). Istilah "Ereki" merupakan singkatan dari kata erekigitā (gitar listrik). Penggemar musik rock di Jepang banyak yang berganti identitas dari pendengar setia menjadi musisi rock.

Musik rock di Jepang makin menggila ketika band rock n’ roll asal Inggris, The Beatles. Tahun 1965, ada band lokal bernama Tokyo Beatles merilis piringan hitam berisi lagu-lagu The Beatles dengan lirik bahasa Jepang. Selain itu, Tokyo Beatles juga mengeluarkan PH berisi lagu-lagu yang pernah dibawakan grup musik Inggris yang memainkan Liverpool Sound.

Ketika the Beatles benar-benar menggelar konsernya di Jepang, membuat grup-grup musik Ereki berganti warna musik agar ikut bisa bergaya British Invasion. Di antara perintis British Invasion di Jepang terdapat grup musik seperti Jackey Yoshikawa and his Blue Comets dan The Spiders.

Sejak akhir dekade 1970-an, grup musik dari label rekaman Indies terus populer, sehingga terjadi "Band Boom" di Jepang pada paruh kedua dekade 1980-an. Pada masa itu terdapat banyak sekali grup-grup musik yang populer. Princess Princess, Unicorn, Jun Sky Walker(s), Bakufu-Slump, dan Pink Sapphire adalah nama-nama grup musik pencetak banyak sekali lagu hit di pertengahan tahun 1980-an. Di jalur heavy metal, Seikima II merupakan band yang paling populer dan sering tampil di televisi.

Di awal tahun 2000-an mulai terdapat gaya Seishun Punk yang dimulai oleh Stance punks, Gagaga SP, dan Going Steady. Saat itu populer grup musik seperti Bump of Chicken, Asian Kung-Fu Generation, dan Acidman yang tergolong genre Shimokita Kei.

Sejak pertengahan tahun 2000-an terdapat banyak sekali grup bergenre Melodic Hardcore dan Emocore seperti Ellegarden dan Asian Kung-Fu Generation. Musisi yang berjasa di masa kejayaan Melodic Hardcore tahun 1990-an juga ikut bangkit kembali, misalnya: mantan anggota Hi-Standar yang bernama Ken Yokoyama berkarier solo, Ultra Brain, dan Snail Ramp.

Di Indonesia, perkembangan J-Rock juga cukup popular. Berterimakasihlah kepada anime Jepang. Soundtrack anime banyak dinyanyikan musisi papan atasJepang. Sebut saja, L’ arc en ciel (dikenal juga sebagai Laruku), yang menyanyikan soundtrack serial Samurai X. Ada T.M. Network yang mengisi soundtrack-nya City Hunter dan Gundam. Selain itu, ada juga Mitsuko Horie, penyanyi solo yang menunjukkan kemampuan vokalnya lewatsoundtrack serial Saint Seiya dan Candy-Candy. Musik inilah yang kemudian disebut sebagai Japanese Rock (J-Rock). Tapi jangan salah, musik J-Rock tak hanya sebatas soundtrack anime saja. Semua musik bergenre rock yang dimainkan band atau penyanyi asal Jepang yang bisa dikategorikan J-Rock.

Yang terkenal tentu saja band yang menamakan dirinya J-Rock. Awalnya mereka adalah copy-cat fashion dan musikalitas Japannesse Rock. Meksi ini sudha menyelip dan melebur masuk dalam industri pop. Malah J-Rock baru saja mendapat kesempatan untuk merekam beberapa lagunya di Abbey Road, tempat rekeman legendaries di Inggris. Tempat yang sudah melahirkan beberapa band besar, termasuk The Beatles.

Lantaran gandrung dengan lagu soundtrack, banyak yang tertarik mendirikan band khusus memainkan musik ini. Lagu-lagu yang dimainkan tak jauh-jauh dari lagu tema anime. Wasabi dan Japanese Heroes adalah pelopor band J-Rock di sini. Kehadiran Wasabi dan Japanese Heroes memicu munculnya band-band pengusung J-Rock baru seperti J-Rocks, Jetto, dan Leto di Jakarta atau Sound Wave dan Lucifer di Bandung. Serunya, band J-Rock generasi baru ini memainkan tak hanya soundtrack saja. Tapi jugasingel-singel band J-Rock lain seperti X-Japan, Luna Sea, Dir and Grey serta Asian Kung Fu Generation.

Kemudian ada nama Amakuza, band heavy-metal dari Jakarta yang lahir karena sebagian besar personilnya sempat kuliah di Sastra Jepang. Mereka memilih bermain metal asli Jepang, dengan ornament musik klask Jepang. Malah Amakuza dan beberapa band metal pengusung Japannesse Metal, sempat merilis kompilasi indie, beberapa tahun silam di Jakarta.


(Dirangkum dari berbagai macam Sumber)

Musik Tradisional Tiongkok dan Perkembangannya

Berbicara mengenai musik negeri China, atau yang sekarang dikenal dengan nama Tiongkok, pasti kita akan memikirkan akan sebuah peradapan kebudayaan musik tertua di dunia. Musik nasional Tiongkok bersejarah lama. Sejak berdirinya Republik Rakyat Tiongkok pada tahun 1949, musik nasional Tiongkok telah mengalami perkembangan yang sangat besar. Selama belasan tahun ini, para musikus nasional Tiongkok selain mengadakan pertunjukan dalam negeri, juga sering mengadakan pertunjukan di luar negeri. Sejak tahun 1998, Orkes Musik Nasional Pusat Tiongkok telah berturut-turut untuk lima tahun mengadakan konser nasional pada hari Festival Musim Semi Tiongkok di Aula Emas Wina Austria, dan ini telah menjadi salah satu acara penting dalam kehidupan musik di Wina.
Ketua Persatuan Musik Gesek Nasional Tiongkok Piao Dongsheng mengatakan: "Musik nasional Tiongkok mengalami perkembangan yang sangat besar sejak diadakannya reformasi dan politik terbuka terhadap dunia luar, khususnya pada tahun-tahun belakangan ini. Tiongkok mencapai banyak prestasi selama 50 tahun ini dalam pertukaran kebudayaan dengan luar negeri, namun prestasi itu kebanyakan dicapai di kalangan orang Tionghoa. Pertunjukan lima kali musik nasional Tiongkok di Aula Emas Wina itu telah memberikan kesempatan bagi kalangan musik internasional untuk mengenal dan menilai kembali seni musik tradisional Tiongkok."
Selain Aula Emas Wina, musik tradisional Tiongkok juga dipentaskan di banyak panggung lainnya di dunia, antara lain, Aula Musik Carnegie Amerika dan Aula PBB di Jenewa. Pertunjukan menarik musikus nasional Tiongkok memungkinkan dunia menghayati keistimewaan musik tradisional Tiongkok.
Apresiasi sekaligus penilaian yang baik dari para penonton dalam dan luar negeri juga mendorong komponis Tiongkok menciptakan lebih banyak karya musik yang berciri khas bangsa Tionghoa dan zaman sekarang. Piao Dongsheng mengatakan: "Pada awal tahun 1950-an, musikus Tiongkok kebanyakan menciptakan lagu rakyat yang pendek, kemudian musikus Tiongkok mulai memainkan musik yang lebih tinggi tarafnya dengan alat musik gesek, dan pada tahun-tahun belakangan ini, di Tiongkok muncul sekelompok komponis berusia muda yang sangat profesional. Mereka mulai menciptakan musik gesek nasional dengan cara modern, sehingga penciptaan musik nasional Tiongkok mengalami perkembangan yang banyak ragam dan makmur."
Secara tradisional, pertunjukan musik nasional kebanyakan diadakan dalam bentuk konserto atau solo, sedangkan sekarang banyak musikus muda secara kreatif dan luwes mengadakan pertunjukan musik dengan mengkombinasikan berbagai macam alat musik, sehingga pertunjukannya sangat disukai penonton.
Pada awal diadakannya reformasi dan keterbukaan terhadap dunia luar pada tahun 1980-an, di Tiongkok pernah muncul demam belajar main piano dan violin. Sekarang semakin banyak orang Tiongkok yang lebih berminat pada alat-alat musik tradisional Tiongkok. Menurut statistik pertama Persatuan Musik Gesek Nasional Tiongkok, di Tiongkok terdapat satu juta orang yang belajar main alat musik Guzheng dan 800 ribu orang lain belajar main Erhu, semacam alat musik petik yang berdawai dua, dan jumlahnya masih bertambah.
Yang Chunlin adalah dirijen dan komponis terkenal di Tiongkok. Ia juga adalah guru di beberapa rombongan musik amatir. Yang Chunlin mengatakan: "Sejak diadakannya reformasi dan keterbukaan terhadap dunia luar, taraf penghidupan rakyat telah meningkat sehingga orangtua anak-anak mempunyai uang untuk dikonsumsikan di bidang musik. Selain itu, sekarang penduduk Tiongkok lebih mengutamakan pendidikan kesenian terhadap anaknya."
Yang Chunlin mengatakan, selama Festival Musim Semi tahun depan ia akan memimpin Orkes Musik Nasional Pelajar Sekolah Kesenian Tianhua Kota Jiangyin Provinsi Jiangsu berkunjung ke Austria untuk mengadakan Konser Musik Nasional Festival Musim Semi di Aula Emas Wina. Ini mungkin merupakan konser pertama yang diadakan oleh sebuah orkes musik pelajar di Aula Emas.
Pendidikan musik nasional di Tiongkok pada tahun-tahun belakangan ini mencapai prestasi yang menonjol. Di berbagai konservatori musik dan jurusan kesenian universitas keguruan diadakan mata pelajaran kejurusan musik nasional yang setiap tahun berhasil mendidik banyak pemain musik yang bertaraf tinggi. Tidak sedikit jurusan musik nasional kini juga membuka program pendidikan strata dua dan strata tiga, sehingga penelitian di bidang musik nasional lebih mendalam dan lebih profesional.
Selain itu, pemerintah Tiongkok sangat mementingkan penggalian dan perlindungan terhadap musik nasional. Sejak tahun 1980-an, pemerintah Tiongkok mengeluarkan dana dalam jumlah besar untuk mengorganisasi musikus dan seniman rakyat menyusun Bunga Rampai Lagu Rakyat Tk, Kumpulan Musik Nasional Tiongkok, Kumpulan Musik Opera dan Kumpulan Musik Balada Tiongkok. Teoris musik Feng Guangyu mengatakan, kumpulan-kumpulan itu hampir mencakupi semua musik yang tersebar di kalangan rakyat sejak adanya catatan sejarah di Tiongkok. Dikatakannya: "Kumpulan-kumpulan musik tersebut beserta buku kesenian lainnya disebut sebagai tembok besar kesenian Tiongkok. Nilainya memang sama dengan Tembok Besar mempunyai posisi penting dalam sejarah Tiongkok. Berkat pekerjaan selama dua puluhan tahun ini, kalangan musikus pada pokoknya telah mengetahui khazanah musik nasional Tiongkok."
Feng Guangyu seterusnya mengatakan, perekaman audio visual yang bersangkutan dengan ke-4 kumpulan buku itu masih berlangsung. Tujuannya ialah agar musik nasional Tiongkok pada akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21 tidak hanya dapat dibaca bahan tulisannya, tapi juga dapat didengar dan dilihat.. (disarikan dari berbagai macam sumber..)

Rabu, 17 Juni 2009

PENGEN CERDAS AKADEMIK APA CERDAS EMOSIONAL

Sering kita mendengar obrolan yang biasanya terlontar dari orang tua yang membicarakan seputar kemampuan akademik anaknya ketika di sekolah. Pernah saya mendengar keluh kesah seorang ibu, yang membahas betapa salah satu dari dua orang putranya di sekolah tersebut selalu mendapat nilai dibawah angka 60. Ibu itu merasa malu terhadap ibu-ibu yang lain di sekolah, karena putranya selalu menjadi bahan gunjingan diantara anak-anak sekelasnya.
Nah, suatu saat lagi saya bertemu dengan seorang ibu yang lain, yang dengan bangga dan berbunga-bunganya, ibu ini mencerikatan bahwa anaknya tidak pernah mendapat nilai dibawa 90 untuk bidang studi Matematika dan IPA. Ini mungkin terdengar klise, dimana kalau melihat perkembangan pendidikan sekarang sudah bukan jamannya lagi mendikotonomikan antara cerdas akademik dan cerdas emosional. Karena pada saat ini sudah sangat diperhatikan antara keseimbangan pencapaian keduanya di semua lembaga pendidikan yang ada.
Banyak didapati orang tua sekarang lebih merasa rendah diri karena dianggap tidak berhasil jika anaknya tergolong"kurang mampu" di kelasnya. Akan tetapi, sedikit sekali orang tua yang merasa, rendah diri ketika anaknya tumbuh menjadi anak-anak yang memiliki kepribadian egois, mau menang sendiri, sensitif, sombong, suka menipu dan tidak biasa bergaul.serta kurang-kurang yang lain, yang berkaitan dari sisi moral dan etika. Dengan santainya orang tua tersebut berdalih dan bahkan memperkuat argument tentang putranya yang pada ujung-ujungnya menyatakan bahwa prilaku anaknya adalah perilaku negatif anak-anak yang sudah lumrah dan masih wajar.
Dan parahnya, sekolah juga terkadang menyikapinya dengan langkah yang kurang bijaksana. Memang, sekolah yang oleh sebagian masyarakat dianggap masih sebagai gudang menuntut ilmu, selalu ditempatkan sebagai objek yang selalu dituntut untuk menghasilkan siswa didik yang mumpuni secara kemampuan akademik. Para user dalam hal ini orang tua yang menyekolahkan di sekolah tersebut menuntut agar anaknya menjadi anak yang pandai dalam akademik. Mereka tidak terlalu peduli bagaimana cara yang ditempuh sekolah.
Dan berbagai carapun mulai ditempuh oleh sekolah untuk menghasilkan tujuan tersebut, mulai dari tambahan les sepulang sekolah, baik yang diadakan di sekolah maupun datang ke rumah. Karena bagi sekolah, jika anak didiknya mendapat nilai tinggi, terlebih-lebih ketika Unas atau UASBN, maka akan mengangkat nilai jual sekolah di mata masyarakat. Dan itu akan sangat membantu dalam hal peningkatan jumlah siswa dalam Penerimaan Siswa Baru kelak.
Maka, imbas dari eksploitasi menggapai kemampuan akademik yang berlebihan itu, jarang sekali ada sekolah yang menggembar-gemborkan akan peningkatan kualitas mental kepribadian, atau yang sering dinamakan kecerdasan emosional atau karakter, sebagai bahan untuk “menjual” sekolah ke masyarakat. Karena, bagi sekolah, terutama kepala sekolah, akan sangat bangga bila sekolahnya sering disebut-sebut, terlebih-lebih ketika rapat dengan dinas pendidikan dan dihadapan para kepala sekolah yang lain, akan keberhasilannya menempatkan siswa didiknya mulai nilai tinggi Unas/UASBN, menjadi wakil dalam Olimpiade sains dan matematika, dan sebagainya.
Padahal kita semua tahu, bahwa keberhasilan seseorang kelak lebih banyak ditentukan oleh kecerdasan emosional, Sering kita dengar cerita bahwa di setiap penerimaan test pegawai, justru yang lebih banyak diterima adalah orang-orang yang memiliki kecerdasan emosional walaupun dari sisi kecerdasan akademik, masuk dalam golongan biasa-biasa aja. Fakta inipun masih sering diabaikan oleh para orang tua dan sekolah. Nah, berangkat dari hal tersebut, patut kiranya kita sebagai orang tua, para pelaku pendidikan di sekolah, sudah mulai memperhatikan peningkatan kedua kecerdasan itu secara proporsional dan seimbang. Memang, yang paling ideal adalah anak itu memiliki kecerdasan akademik yang ditunjang dengan kecerdasan emosional. Akan tetap, itu tidak semudah sepert membalik tangan kita dalam mencapai keadaan tersebut.
Banyak yang bisa dilakukan oleh sekolah dalam meningkatkan kecerdasan emosional. Bisa dimulai dengan pengembangan pendidikan karakter siswa. Yaitu pendidikan yang menekankan bagaimana mengembangkan dan memunculkan karakter sebagai citra diri dengan maksimal. Pendidikan karakter ada-lah pendidikan budi pekerti plus, yaitu yang melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action). Dalam pendidikan karakter ini banyak hal yang bisa dikembangkan dan dibentuk, mulai karakter cinta kepada Tuhan, Cinta kepada orang tua dan guru, cinta kepada sesama, cinta kepada alam dan lingkungan, cinta kepada Ilmu dan teknologi, cinta diri sediri, serta cinta kepada nusa dan bangsa.
Dari pembentukan karakter cinta tersebut, diharapkan akan tumbuh dalam diri siswa suatu bentuk kecerdasan emosional, yang ujung-ujungnya bermuara pada kecerdasan akademik. Dan jika ini tercapai maka dalam diri siswa akan tumbuh sifat-sifat yang selalu mengedepankan etika dan sopan santun jika menghadapi persaingan dalam meniti karirnya kelak. Karakter yang tidak mudah menghalalkan segala cara untuk berhasil, karakter yang tidak mau sikut sana sikut sini dalam berkompetensi kelak di masa dewasa. Dan hal itulah yang bisa membawa siswa didik kita memiliki kecerdasan emosional.
Pada akhirnya, mengejar nilai akademik tinggi penting, tapi yang tidak kalah pentingnya adalah bagaimana mencetak anak didik yang mampu menghadapi tantangan hidup masa depan dengan kemampuan dan kecerdasan emosional. Sehingga, dalam diri anak itu sejak dini sudah muncul kebiasaan-kebiasaan yang baik, memiliki moral dan etika yang tinggi, kemampuan survive di mana saja,. Dan itu bukan hal yang mustahil. Karena jika kebiasaan baik sudah tertanam, maka keinginan untuk meningkatkan kemampuan diri dalam bidang akademik akan tumbuh dengan sendirinya. Sekarang tinggal kita sebagai pelaku pendidikan dan orang tua, mau memilih yang mana untuk anak kita. Dan yang perlu kita ingat adalah “apa yang kita ukir kepada anak kita hari ini, akan menjadi pedoman hidup anak kita di masa depan”.

Bagaimana? andalah yang berhak menentukan. Selamat menjadi Orang tua yang bijaksana termauk saya juga..

Rabu, 13 Mei 2009

Facebook sebagai ajang silaturahmi sekaligus ajang...

Akhir-akhir ini marak sekali orang dari berbagai kalangan mulai dari anak level SD sampai ibu rumah tangga, yang dalam setiap pembicaraannya membahas tentang jejaring pertemanan/friend networking, atau yang lebih keren lagi dengan istilah social software networking. Kalo di dunia maya ada banyak jejaring itu, mulai friendster, twitter, bahkan facebook. Kali ini penulis akan mencoba membahas tentang facebook, disamping sebagai pengguna juga yang terlihat paling booming user dewasa ini.
APA SIH FACEBOOK ITU.
Penulis pertama kali mengenalnya mungkin sudah lama sekitar medio oktober 2008, dari seorang teman. Tapi baru benar-benar ikut nimbrung sekitar awal tahun 2009. Itupun karena keterpaksaan tatkala ingin tahu kabar seorang teman kuliah yang sudah 10 tahun nggak ketemu akhirnya oleh seorang teman dosen dari Unlam, Banjarmasin, saya dianjurkan buka facebook, dan mencari nama yang saya tuju. Dengan berbekal email saja, akhirnya terdaftarlah saya sebagai user di facebook. Nah, untu tahu apa facebook itu? berikut sekilas tentang asal-usulnya.
Facebook pertama kali dibuat oleh seorang mahasiswa bernama Mark Elliot Zuckenberg (14 Mei 1984) yang terobsesi mengikuti langkah Bill Gates. Sama seperti seniornya, ia juga drop-out dari Universitas Harvard.
Ia memulai Facebook di kamar asrama bersama dua rekan sekamarnya Dustin Moskovitz dan Chris Hughes dibantu oleh rekan kuliahnya, Andrew McCollum. Dan siapa sangka, bermula dari Facebook “kecil”, kini Zuckenberg menjadi seorang miliarder muda belia. Dengan niat awalnya untuk membuat situs keren, kini ia menjadi CEO untuk perusahaan tersebut yang saat ini mempekerjakan 300 orang karyawan. Dukungan yang diberikan langsung oleh Bill Gates membuatnya semakin getol dalam bolos kuliah untuk membuat web. Dan akhirnya sekarang ini sudah sekitar 10 jutaan pengguna dari seluruh dunia....(to be continued)

Senin, 29 Desember 2008

Selamat berjuang, Kawan!

Tak terasa hampir sepuluh tahun lamanya kebersamaan ini kita lalui. Banyak hal yang telah kita alami bersama. Terkadang menyakitkan, tapi dilain waktu sangatlah mengasyikkan. Banyak pengalaman berharga yang saya dapatkan. Dan Insya Allah akan selalu menjadi bagian episode kehidupanku yang takkan pernah aku lupakan. Kini telah tiba waktunya kau lalui hidup dan perjuangan di tempat lain. Jangan pernah berubah semangat mengajarnya, semangat mencetak anak didik yang tangguh dan tahan banting, semangat membangun generasi bangsa yang penuh dengan kreativitas dan kemampuan menjalani hidup. Akhirnya selamat jalan kawan, selamat berjuang di tempat yang baru, semoga Tuhan selalu menyertai semua langkah kita. Kawan, semua yang telah dilakukan semoga selalu dicatat sebagai amal ibadah di sisi Allah. Amin......

Jumat, 28 November 2008

LET'S BE THE GREEN.......! Hanya retorika?

Sebelumnya aku ucapkan Met Ultah dulu kepada SDIS-ku yang tahun ini telah menginjak usia yang ke-12. Ya, meskipun terlambat nggak apa-apa kan? Ini pun masih lebih baik daripada tidak sama sekali. Semoga SDIS semakin maju, semakin dicintai masyarakat, dan yang lebih penting adalah benar-benar bisa mengantarkan anak didiknya menjadi insan yang berwawasan dan mempunyai komitmen keagamaan, komitmen kebangsaan, dan kecendekiaan. Sekali lagi I'm proud be part of SDIS....
Usia 12 tahun adalah sebuah usia yang jika diibaratkan anak kecil sudah menginjak kelas 6 SD , usia yang secara psikologi perkembangan anak menurut Dr. Maria Montessori, bahwa pada usia 12;0 – 18;0 adalah masa penemuan diri serta kepuasan terhadap masalah-masalah sosial. Ini memberikan kesan bahwa dengan usia seperti itu, patut kiranya lembaga ini memiliki sebuah ciri khas atau dengan kata lain suatu icon yang akan selalu menjadi diingat serta bisa memancarkan image tersendiri (positif tentunya) di kalangan masyarakat. Masa pencarian diri sebagai salah satu institusi pendidikan yang "baik" harus sudah dikurangi intensitasnya. Yang harus dilakukan sekarang adalah bagaimana mengembangkan apa yang sudah dimiliki dan dipunyai SDIS untuk dijadikan sebuah keunggulan. Mulai bagaimana manajemen yang tertata, disiplin sudah jadi "habit" bagi seluruh warga sekolah mulai dari level pimpinan sampai siswa, hubungan inter personal warga di dalamnya sudah benar-benar positif dan sehat. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah kepekaan terhadap masalah-masalah sosial sudah menjadi bagian dari jiwa dan kebiasaan lembaga ini. Dan dengan demikian "baju" sebagai anak yang berusia 12 tahun betul-betul dikenakan dan melekat pada SDIS.
Selaras dengan kepedulian sosial dan lingkungan tersebut, tema yang diusung oleh SDIS pada usia 12 tahunnya adalah Let's be the green. Itu adalah salah satu usaha dari SDIS untuk ikut dan peduli dengan lingkungan dengan cara membuat sekolah yang dulunya terlihat gersang menjadi "hijau" kedepannya. Itu dibuktikan dengan ditanamnya beberapa bibit pohon dan tanaman yang nantinya bisa membuat wajah SDIS menjadi berubah. Oke kita setuju dengan hal itu, tapi ada yang lebih penting lagi untuk dilakukan, dan tidak hanya sekedar retorika belaka. Karena bagaimanapun mendidik dan mencetak serta membiasakan anak untuk mau dan peduli dengan lingkungannya adalah yang terpenting. Semua komponen dalam sekolah harus mau ikut memikirkan ini.
Cara yang bisa dilakukan:
  • Punya satu bahasa yang sama apabila menemukan siswa yang tidak peduli dan cuek dengan kebersihan.
  • Tidak malu dan jijik untuk memungut sampah yang berserakan dan tidak pada tempat yang seharusnya, sekalipun itu pucuk pimpinan, kalau memang melihat sampah.....PUNGUT!
  • Tidak membiarkan anak membuang sampah di sembarang tempat
  • Memberikan pengertian kepada anak didik bahwa kebersihan sekolah bukan hanya tugas staf kebersihan.
  • Memberi contoh dan teladan bagi siswa terutama di kelas bagaiman menata ruangan dan membuat ruang kelas menjadi lebih asri, indah dan nyaman.
  • Beri informasi yang lengkap bagaimana memperlakukan sampah pribadi dengan benar, bisa dengan ganbar didinding, tulisan, serta pelatihan-pelatihan kecil.
  • Dan yang tidak kalah pentingnya, sekolah harus mau menyediakan sarana dan tempat untuk memperlakukan sampah dengan benar, dengan cara menyediakan tempat sampah kering dan basah di setiap rempat berkumpul anak.

Disamping beberapa usaha diatas ada satu lagi yang memang selalu menjadi pemikiran selama ini. Yaitu, tentang sampah pada saat hari sabtu. Di SDIS, setiap Hari Sabtu, anak-anak tidak mendapat makan siang, tetapi mendapat ganti berupa kue dan minum yang dimasukkan ke dalam kotak kue yang terbuat dari kertas/kardus. Memang kalau di lihat tidak ada yang salah dari hal itu. Hanya saja dengan adanya kardus kue serta gelas plastik kemasan air mineral, membuat suasana pada saat pulang sekolah pada akhirnya menjadi satu pemandangan yang "menakjubkan" bagi siapa yang melihat. Di tiap kelas berserakan kardus kue beserta gelas plastik sisa minum, yang tumpah keluar dari tempat sampah mini yang memang tidak muat untuk menampung sampah siswa tadi. Belum lagi yang tampak di lorong-lorong/koridor sekolah, atau bahkan di teras dan halaman parkir, terlihat berserakan benda-benda yang tersebut tadi. Iseng-iseng saya mencoba menghitung jumlah sampah yang dihasilkan setiap Hari Sabtu di SDIS. Dan hasilnya sungguh mengagumkan! Berikut itung-itungannya.

  • Setiap Sabtu sekolah menyediakan 850 kotak kue (750 untuk siswa dan 100 untuk karyawan dan guru). Jika dalam setiap kotak pasti ada 1 gelas air mineral+ 1plastik pembungkus kue berarti 850 x 3 (1 kotak kardus + 1 plastik mineral + 1 plastik bungkus kue) =2550
  • Jika satu bulan ada 4 sabtu, maka 2550 X 4 = 10.200 sampah
  • Jika Bulan efektif sekolah setahun ada 10 bulan maka, 10.200 x 10 = 102.000 sampah.
  • Berarti selama setahun SDIS menyumbang 102.000 sampah. Wowwwww!

Berkaca dari hal itu, maka selaras dengan tema lets be the green tadi, seharusnyalah semua komponen sekolah bisa memikirkan itu, yaitu dengan cara mengganti cara penyajian kue setiap hari sabtu. Mungkin bisa dengan cara disajikan di atas nampan setiap kelas dan dimakan bersama di kelas sebelum pulang, dan jika ada yang ingin di bawah pulang baik karyawan atau siswa bisa membawa tempat sendiri dari rumah, sehingga bisa mengurangi beban bumi kota ini akan sampah. Dan Let's be the green bukan hanya sekedar slogan, tema serta retorika saja. Akhirnya JAYALAH SELALU SDIS, BERIKAN YANG TERBAIK BAGI BANGSA DAN TANAH AIR.

Jumat, 21 November 2008

JUARA KWN 2008, SD ISLAM SABILILLAH MALANG

Usai sudah perjuangan dan pengorbanan yang dipersembahkan oleh anak-anakku yang tergabung dalam Tim KWN Panasonic SD Islam Sabilillah (SDIS)2008. Dan jerih payah dan perjuangan keras anak-anak selama sebulan, dibawah bimbingan Bang Berlian dan Bapak Masykur, S.Pd, terbayar lunas dengan berhasil meraih Juara Nasional KWN (Kid Witness News) Panasonic 2008. KWN SDIS berhasil menyisihkan perjuangan 10 Finalis, hasil dari seleksi dari 500 peserta awal pada tahun ini, baik tingkat SD ataupun tingkat SMP.

Pengumumannya dilaksanakan kemarin, hari Kamis, 20 November 2008, di Jakarta. Dihadiri langsung oleh Komisaris Utama PT Panasonic Gobel Indonesia, Bapak Rahmad Gobel. KWN SD Islam Sabilillah Malang pada festival kali ini mengangkat judul "Maafkan Bapak, Aku Tidak Tahu". Yang mengangkat tema seputar kondisi lingkungan daerah Malang, yang menjadi setting pada cerita seorang seniman Topeng Malang, yang masih giat dan getol untuk melestarikan dan ingin tetap mewariskan budaya itu pada anak-anaknya.
Selamat buat anak-anakku semua, semoga pada kejuaraan KWN Tingkat Regional di Sabah Malaysia, 2-5 Desember 2008 mendatang dan pada Pada KWN Tingkat Global, Juni 2009, kita bisa mempesembahkan yang terbaik untuk bangsa Indonesia. Semoga.

Rabu, 19 November 2008

Pelajaran Berharga dari 3 Murid-muridku

Membaca dan mendengar berita kahir-akhir ini sungguh memilukan dan mengenaskan untuk kita terima. Berita tawuran antar mahasiswa di Makasar dan Jakarta, berita penganiyaan senior pada junior-nya di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran, serta berita-berita lainnya, sekali lagi sungguh sangat “memalukan”. Memalukan karena yang melakukan sudah tergolong dewasa, memalukan karena yang melakukan mengaku dirinya kaum intelektual dan agent of change, dan lebih memalukan lagi semua itu terjadi hanya karena hal-hal sepele, seperti tersinggung karena mencela fakultas, tersinggung karena rebutan pacar, bahkan yang paling parah karena pengaruh alcohol.
Kalau di simak secara mendalam apakah mereka tidak merasa jika perilaku mereka itu akan di lihat dan disaksikan oleh generasi di bawahnya atau lebih tepatnya oleh adik-adiknya yang nota bene masih duduk di bangku SD hingga SMA. Perilaku mereka sekarang sudah bisa dilihat dengan cepat melalu media televisi yang setiap hari sudah menjadi santapan empuk bagi para pengais berita.
Pemukulan, kekerasan, penganiayaan begitu mudahnya terjadi karena hal sepele. Dan bisa kita simpulkan semua itu karena mereka sudah tidak punya bahkan sudah “buta” atau mungkin sudah “mati” perasaan dan hati nuraninya. Mereka sudah tidak mengenal arti sabar, mengalah bahkan sikap rendah hati dan tidak arogan. Mereka sudah tidak lagi menghiraukan efek selanjutnya dari apa yang diperbuat.
Mengingat itu semua saya jadi sedih. Akan tetapi di tengah-tengah kesedihan itu saya mengalami satu pengalaman berharga dari satu kejadian yang sangat menyentuh hati saya. Dimana kejadian dilakukan oleh anak/murid saya yang masih duduk di kelas V Sekolah Dasar. Kejadian itu bermula ketika saya bersama seorang teman guru mendapat tugas dari sekolah untuk mengantarkan lomba kreatifitas tingkat sekolah dasar dalam tahap seleksi tingkat kecamatan. Kebetulan setelah melalui seleksi awal (tingkat kepengawasan), sekolah kami diminta mengirimkan 3 wakil untuk seni peran. Saya sendiri mendapat tugas mendampingi 1 orang siswa untuk lomba kretifitas musik.
Setelah kami berangkat ke tempat lomba, ternyata oleh panitia kecamatan, peserta seni peran yang kami kirimkan hanya boleh menyertakan 1 (satu) peserta saja. Teman saya yang berada di dekat saya sebagai pendamping lomba seni peran itu mulai kebingungan memilih siapa yang akan diikutkan. Semua anak yang dibawa sudah “siap tempur”. Akhirnya teman saya mengutarakan masalah itu kepada 3 orang siswa tersebut apa permasalahan yang terjadi. Saya pribadi relative mengetahui kondisi mental ke-tiga siswa itu. Mereka semua termasuk anak yang selalu bersaing dan berkompetisi baik di kelas maupun di luar kelas. Dan mereka selalu punya keinginan menang yang tinggi. Tapia apa yang terjadi, tanpa ada perdebatan dan saling minta untuk diikutkan, tiba-tiba 2 orang anak sebut saja Fahmi dan Nisa langsung menunjuk , sebut saja Dewi, untuk mencoba mengikuti lomba tersebut. Masya Allah….., Subhanallah…., mungkin kalau di simak kisah tadi biasa terjadi di lingkungan anda/pembaca. Tapi bagi saya itu tadi adalah satu kejadian yang bisa dijadikan cermin bagi semua terlebih-lebih bagi kita yang sudah menganggap dirinya tua/dewasa. Bahwa anak kecil aja bisa melakukan hal seperti itu. Mereka tahu arti mengalah, memberi kesempatan pada orang lain, tidak mau menang sendiri.
Nah itulah sepenggal kisah semoga kita bisa mengambil manfaat dari kejadian itu, meskipun itu berasal dari anak kecil.

Selasa, 18 November 2008

Ikut TES PNS GURU....? Coba aja kalo bisa

Bulan November ini terasa begitu di tunggu-tunggu oleh sekitar 35.639 orang (menurut data terakhir DISNAKER KotaMalang) yang masih jobless. Harapan dan impian untuk merubah nasib dengan menjadi PNS begitu tinggi digantungkan. Mulai dari yang masih fresh lulus dari universitas, maupun yang sudah bekerja tapi masih serabutan atau tidak tetap. Tak terkecuali juga dengan para guru. Kalau yang sudah honorer lama dan sudah pemberkasan untuk dijadikan PNS mungkin sudah merasa tenang tinggal nunggu SK dan pemanggilan. Tapi bagi kalangan GTT (Guru Tidak Tetap) kesempakan kali ini mungkin merupakan kesempatan emas yang pertama atau sudah yang kesekian kalinya. Memang kalau dilihat dari keberadaan guru PNS sekarang jika dilihat tingkat kesejahteraan sangat menggiurkan sekali. Sekarang ini status guru negeri sudah dianggap sebagai profesi yang sangat menjanjikan serta bisa dijadikan sandaran dan jaminan hari tua. Bisa kita lihat dari minimal salary yang ditentukan pemerintah untuk guru yang baru diangkat sekitar 2 juta-an, belum lagi dengan tunjangan sertifikasi yang sangat menggiurkan itu. Bisa kita bayangkan bagaimana makmur dan terjaminnya kehidupan keluarganya. Dan itu sangat merubah pola pikir masyarakat kita sekarang, kalau dulu memandang sebelah mata profesi ini, tapi sekarang pada berlomba-lomba untuk menggapainya. Banyak pengalaman dari teman penulis yang dulunya kuliah di jurusan umum (ekonomi, pertanian, teknik dsb) pada akhirnya karena ingin jadi guru mereka semua pada ikut program akta mengajar.
Kembali ke masalah tes CPNS tahun ini, bisa kita pastikan akan semakin sedikitlah peluang untuk menduduki kursi PNS guru ini. Akan tetapi bagi yang memang berminat ikut mencoba menggapai peluang itu, teruskan saja mimpi tersebut. Bagi para GTT yang memang diberikan kesempatan oleh yayasan tempat mengajarnya, gunakan kesempatan emas ini. Terlebih-lebih ada batasan umur untuk mengikuti tes CPNS.
Penulis tertarik untuk mengemukakan ini karena teringat dengan cerita salah seorang kawan guru swasta di salah satu daerah Jawa Tengah. Kawan tersebut sekarang sedang mengabdi di sebuah sekolah dasar favorit di sana. Dan kebetulan tahun ini sedang dibuka pendaftaran CPNS guru. Dan ternyata banyak dari guru di sekolah itu berkeinginan untuk mengikutinya, tetapi terbentur pada aturan yayasan bahwa siapa saja yang ingin ikut tes CPNS harus melepas dulu baju yayasan (berhenti) dari sekolah tersebut. Kalau dilihat memang sah-sah saja peraturan yayasan sekolah itu, karena memang setiap yayasan berhak untuk melindungi keberadaan dan kelanjutan sekolahnya sendiri. Dan yang terjadi memang karena mungkin para guru disana sudah merasa kesempatan kali ini adalah kesempatan terakhir (batasan umur mepet), beberapa guru disana mencoba mengajukan diri untuk mengikuti tes kali ini. Dan bisa ditebak jawaban yayasan tetap dengan peraturan yang ada. Akhirnya karena tidak bisa ditemukan titik temu maka beberapa guru itu nekat mengundurkan diri bersama-sama. Nah, disinilah move para guru itu merepotkan pengurus yayasan. Kalau dalam jumlah besar yang mengundurkan diri, maka akan mengganggu sistem pembelajaran dan pelayanan kepada siswa. Dan pada akhirnya menurut kabar terakhir yang saya dengar akhirnya yayasannya bersedia mengabulkan keinginan para guru itu untuk mengikuti tes CPNS tahun ini, walaupun dengan syarat A, B, C....Z.
Akhirnya selamat berjuang bagi para kawan-kawan guru GTT dimanapun berada, kejar mimpi itu, dan tetap menjadi guru yang ikhlas jika nanti sudah menggapai itu semua. Dan bagi kawan-kawan yang belum bisa ikut karena berbagai hal termasuk yang saya utarakan di atas, jangan berkecil hati tetap terus mengajar dengan profesional, ikhlas dan berdedikasi, sekaligus terus berdo'a dan berharap, semoga ke depan pemerintah semakin memperhatikan keberadaan para GTT yang nota bene juga ikut mencerdaskan anak bangsa. Amin...

mimpi adalah kunci....... untuk kita menaklukkan dunia
berlarilah tanpa lelah.....sampai engkau meraihnya
(lirik "laskar pelangi" NIDJI_

Minggu, 16 November 2008

HUMAS (MANAJEMEN) DI LEMBAGA PENDIDIKAN MASIH BERFUNGSIKAH?

Berbicara tentang humas pasti ingatan kita akan tertuju pada hal yang berhubungan dengan komunikasi, konfrensi pers, informasi, public relation. Pokoknya secara gampang diibaratkan sebagai penyampaian segala informasi. Menurut kamus Fund and Wagnel ( Anggoro, 2001), Pengertian Humas adalah segenap kegiatan dan teknik/kiat yang digunakan organisasi atau individu untuk menciptakan atau memelihara suatu sikap dan tanggapan yang baik dari pihak luar terhadap keberadaan dan aktivitasnya. Selain itu masih banyak definisi-definisi humas dari para pakar luar dan dalam negeri yang memang beragam dalam mendefinisikan humas. Hal itu tidak terlepas dari perbedaan latar belakang akademik serta perpedaan definisi antara pakar komunikasi dengan praktisi humas. Untuk menjembatani perpedaan pengertian tentang humas tersebut, IPRA (International Public Relation Association) yakni persatuan para ahli humas dan praktisi public relation memberikan definisi kerja humas adalah fungsi manajemen yang khas yang mendukung pembinaan dan pemeliharaan jalur bersama antar organisasi dengan publiknya mengenai komunikasi, pengertian, penerimaan dan kerja sama, melibatkan penerangan dan tanggapan dalam hubungan dengan opini public; menetapkan dan menekankan tanggung jawab manajemen untuk melayani kepentingan umum ; menopang manajemen dalam mengikuti dan dan memanfaatkan perubahan secara efektif, bertindak sebagai system peringatan yang dini dalam membantu kecenderungan; dan menggunakan penelitian serta teknik komunikasi yang sehat dan etis sebagai sarana utama (Assumpta, 2001) (Zulkarnain Nasution, 2006).
Berdasarkan definisi diatas pegertian humas secara umum adalah fungsi yang khas antara organisasi dengan publiknya, atau dengan kata lain antara lembaga pendidikan dengan warga di dalam (guru, karyawan, siswa) dan warga dari luar (wali siswa, masyarakat, instusi luar, patner sekolah)
Dalam konteks ini jelas bahwa humas atau public relation (PR) adalah termasuk salah satu elemen yang penting dalam suatu organisasi kelompok ataupun secara individu. Berbicara mengenai humas dalam lembaga pendidikan, dewasa ini masih kurang sekali difungsikan oleh masing-masing lembaga sekolah. Hal ini tidak terlepas dari kurangnya informasi dan pengetahuan yang dimiliki oleh para pengelola atau pelaksana dalam sekolah tersebut. Terutama ini banyak di lakukan oleh sekolah-sekolah yang berada di bawah naungan pemerintah, mulai dari level SD sampai SMA. Kecuali di level universitas, sudah ada staf atau petugas sendiri untuk bagian humas atau PR. Memang untuk lembaga pendidikan swasta atau dibawah naungan yayasan tertentu sudah mulai digunakan cara-cara ke-humas-an tersebut, tapi biasanya kurang maksimal. Dan walaupun ada job diskripsi untuk itu tidak bisa bekerja dengan baik serta kurang bisa membawakan peran bagaimana semestinya seorang humas itu. Padahal fungsi humas untuk lembaga pendidikan itu sangatlah penting. Karena dengan adanya humas, lembaga pendidikan terlebih-lebih swasta yang pada akhir-akhir ini sudah mulai bekerja keras untuk melanjutkan eksistensi sekolahnya, walaupun mereka juga tidak tahu sampai kapan sekolah itu akan tetap eksis.
Sebenarnya konsep dan aplikasi humas dalam suatu lembaga pendidikan bisa dan relatif mudah untuk dilaksanakan, walaupun yang penting dalam hal ini adalah adanya keinginan dari lembaga tersebut untuk sadar akan fungsi dan tugas dalam manajemen humas. Ruslan (2001) mendefinisikan manajemen humas adalah suatu proses dalam menangani perencanaan, pengorganisasian, mengkomunikasikan serta pengkoordinasian yang secara serius dan rasional dalam upaya pencapaian tujuan bersama dari organisasi atau lembaga yang diwakilinya.( Zulkarnain Nasution Manajemen Humas Lembaga Pendidikan, 2006). Dan untuk merealisasikan itu semua banyak hal yang harus dilakukan oleh humas dalam suatu lembaga pendidikan. Terutama bisa kita lihat dari apa itu fungsi manajemen humas itu sendiri. Mulai fungsi perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, pengkoordinasian, pengarahan, pengawasan.
Selain itu memelihara hubungan dengan pers juga mutlak dan perlu dijalin dan dikembangkan. Karena pada saat ini tidak bisa dipungkiri bahwa keberadaan pers/media massa, mulai media cetak sampai media elektronik sudah sangat memasyarakat dan menjadi salah satu yang dibutuhkan masyarakat. Oleh karena itu sangat tepatlah kalau pers menjadi salah satu wadah untuk mensosialisakan dan “menjual sekolah/lembaga pendidikan” kepada orang luar, sehingga paling tidak keberadaan sekolah kita masih bisa terdengar oleh masyarakat. Hal ini tidak terlepas dari pendapat dari beberapa praktisi pendidikan yang mengatakan bahwa semakin sering lembaga/sekolah kita termuat beritanya (berita positif) di media massa maka semakin banyak tahulah masyarakat akan keberadaan sekolah kita. Dan itu akan beribas positif pada saat akan melaksanakan Penerimaan Siswa Baru pada tahun ajaran mendatang.
Selain peran pers ada beberapa media humas yang lain yang tidak kalah pentingnya demi menunjang kerja humas di sekolah atau lembaga pendidikan. Media-media itu antara lain; majalah sekolah/buletin, papan informasi kegiatan dan Foto kegiata, buku penghubung yang berisi kegiatan dan perilaku siswa di sekolah, Banner sekolah, kotak saran, Forum Komunikasi Orang tua siswa, Leaflet, Talk Show dengan orang tua, serta yang paling mutakhir pembuata website di dunia maya baik yang gratisan atau yang menggunakan domain sendiri. Semua media-media itu tidak lain adalah sebagai sarana untuk memaksimalkan lagi fungsi humas dalam lembaga pendidikan. h@nd’s

Sabtu, 15 November 2008

LET'S SAVE OUR EARTH

Akhir-akhir ini banyak kita jumpai slogan be clean, let's be the greener dll. Itu menunjukkan bahwa sekarang orang sudah mulai jenuh akan hal-hal yang tidak bersih atau kotor. oleh karena itu marilah kita biasakan diri kita untuk selalu peduli dengan lingkungan sekitar kita. Jangan saling menyalahkan siapa yang punya sampah, jangan saling menuduh siapa yang suka membuang sampah dimanapun dia berada. Bagi orang yang punya mobil yang biasanya pada saat dalam perjalanan dan sedang makan atau minim di dalam mobil dengan santainya membuka jendela kaca mobil lalu melempar sampah/bungkus bekas makanannya ke jalan raya, HENTIKAN dan jangan membiasakan ke anak kita berbuat seperti itu. Jangan karena hanya takut mobilnya kotor lalu mengorbankan kebersihan umum. Ingat beban bumi kita saat ini sudah berat untuk menanggung berat sampah manusia. Bagi pengelola supermarket kurangi penggunaan tas plastik/kresek untuk tempat barang belanja. Pergunakan tas kertas untuk daur ulang/berikan info kepada pelanggan untuk membawa tas belanja dari rumah. LET'S SAVE OUR EARTH.............

In English....

Recently we found many slogans to be clean, let's be greener, etc.. It shows that now people have started to saturate the things that are not clean or dirty. therefore we let ourselves for a word always concerned with the environment around us. Do not blame each other who have garbage, do not accuse each other who is like throwing garbage wherever he is. For people who have cars that are usually at the time in travel and food are scarce or in the car with santainya open car windows and throw garbage / food packets used to the road, stop and do not inure to the children we do like that. Do not be afraid just because the car dirty and compromising the general cleanliness. Remember the burden of the earth we currently have to bear the heavy weight of human waste. For the supermarket reduce the use of plastic bags / Grantham to place the goods spending. Use paper bags for recycling / info provided to customers to bring shopping bags from the house. Let's SAVE OUR EARTH .............