Senin, 28 Mei 2012
Guru Juga Seorang Entrepreneur....
Minggu, 27 Mei 2012
Be a Good Teacher like Mr Dahlan Iskan
Sabtu, 26 Mei 2012
Bersembunyi di Balik Kata “Kejujuran”
Senin, 07 Mei 2012
GEROBAK SAMPAH WANGI
Minggu, 28 Februari 2010
Kenapa takut dengan facebook?
Sebenarnya apa sih facebook itu? Facebook adalah suatu portal jejaring sosial yang ada di dunia maya, yang memungkinkan penggunanya bisa bertemu dengan orang-orang di belahan dunia yang lain. Atau kata gampangnya sebagai situs pertemanan di dunia maya. Siapa saja yang tergabung, dengan cara yang mudah, yaitu hanya dengan mengisi aplikasi/ mendaftar, yang salah satunya harus mencantumkan alamat email.
Berangkat dari kemudahan menggunakan tersebut, sekarang yang menjadi pengguna mulai dari anak usia 7 tahun hingga 60-an. Beragam profesi yang menyertai mereka. Mulai dari anak usia sekolah dasar, praktisi politik, guru, sampai ibu rumah tangga. Dan itu semua berangkat dari keinginan untuk bisa berinteraksi dan menyapa teman lama ataupun mencari kawan baru. Bahkan situs ini pula sigunakan sebagai ajang kampanye baik pemilu, pilpres dan pilkada.
Hanya saja akhir-akhir ini, ada yang menyalahgunakan situs ini untuk kegiatan yang kurang terpuji. Ada kasus penculikan, penipuan, sampai perseteruan dengan guru, semuanya berawal dari tulisan di facebook. Dan ujung-ujungnya berita-berita seperti ditu di blow up di media massa. Dan terkesan bahwa facebook lah penyebab semua kejelekan itu. Dan imbas dari pemberitaan itu sendiri sekarang adalah sudah mulai ada sekolah dan bahkan orang tua melarang anaknya membukan akun facebook yang sudah dibuat. Bahkan ada sekolah yang dengan tegas memberikan poin (negatif) kepada siswa yang dalam kurun waktu tertentu tidak segera menghapus akun facebook nya.
Sebenarnya kalau kita telaah lebih jauh, kita bisa memanfaatkan betul keberadaan facebook sebagai sarana untuk belajar. Banyak hal yang bisa ambil manfaatnya. Di sini, selain untuk ajang silaturahmi, juga bisa dijadikan sarana untuk berdiskusi. Banyak grup yang menyediakan sarana diskusi mulai dari grup para guru di lembaga pendidikan sampai kepada hal-hal mengenai sosial dan kajian-kajian agama. Bagi yang suka menulis atau sekedar ingin menuangkan ide atau gagasan-gagasannya, bisa juga memanfaatkan facebook sarananya. Sebenarnya banyak hal yang positif yang bisa kita gali dari keberadaan facebook ini. Jangan kita langsung memberi cap negatif akan hal ini.
Nah, adanya fenomena digunakannya sarana ini utuk kegiatan yang kurang terpuji seperti tersebut diatas, janganlah kita membuat generalisasi, bahwa semua pengguna facebook, akan jadi penculik, semua pengguna facebook pasti akan jadi pembangkang terhadap guru di sekolah. Kita harus bisa melihat ini dari kacamata yang jernih dan tidak biasa menghakimi sesuatu karena adanya suatu kasus yang terjadi. Patut disayangkan jika ada peraturan-peraturan atau pelarangan yang isinya tidak diperbolehkan menggunakan facebook.
Memang sih, kalau melihat gejala yang berkembang sekarang, anak-anak usia sekolah dasar pun sudah keranjingan juga menggunakan facebook. Ini tak bisa dihindari, sebagai efek dari arus globalisasi informasi yang langsung menyentuh dan dirasakan oleh segenap lapisan masyarakat Indonesia. Dan ini juga tidak serta merta langsung menyalahkan mereka dari penggunaan facebook ini. Mereka pada dasarnya hanya ingin tahu dan ingin mencoba menggunakan sarana ini untuk unjuk diri agar tidak dianggap gaptek dan melek IT.
Apa tugas kita sekarang sebagai pendidik dan orang tua? Disinilah peran serta dari institusi pendidikan dan orang tua di rumah sangat penting. Sekolah yang dewasa ini memasukkan kurikulum pembelajaran yang berbasis IT, mau tidak mau mesti mengajak siswanya untuk mengenal internet. Mengajarkan siswa membuat akun email, membuat tulisan di blog, dan sebagainya.Pada akhirnya siswa akan mengerti akan seluk beluk internet. Maka mulailah mereka mencoba belajar, kira-kira ada apa saja di dunia maya. Sehingga pada saat mereka membaca ada fenomena dan portal baru yang bernama facebook, mereka langsung mencobanya. Apalagi banyak ditemukan kesenangan akan bertemu kawan lama dan mencari kawan baru sebagai ciri khas anak muda yang ingin mencari kawan.
Sekolah, dalam hal ini guru pengajar, haruslah memberikan pengarahan dan memberikan informasi yang benar dan utuh. Mulai dampak positif dan dan dampak negatifnya. Siswa harus diajarkan bagaimana etika dan prilaku dalam menggunakan internet terlebih-lebih facebook, karena bisa langsung berinteraksi dengan orang lain. Tetap beri pengertian yang dalam, bahwa jangan terlalu sering menggunakan facebook karena akan mengganggu waktu belajar di rumah. Untuk orang tua di rumah, beri pengertian anak-anak usia sekolah dasar, jika ingin menggunakan facebook, alangkah lebih baiknya jika password dan email itu harus sepengetahuan orang tua. Dan ini harus tegas disampaikan kepada anak-anaknya. Ini tak lain dan tak bukan untuk kontrol dan monitoring orang tua akan kegiatan anaknya dalam penggunaan facebook.
Selain itu, guru juga bisa memanfaatkan ini untuk mengontrol kegiatan siswa, apa mereka sedang belajar pada jam-jam belajar di rumah, atau malah main facebook. Bikin komitmen bersama untuk membuat aturan main jika dirumah. Dan guru bisa tahu kalau sudah antar mereka sudah menjadi teman dalam facebook. Guru juga bisa membuat grup belajar di dalamnya. Sehingga bisa semakin berguna keberadaan facebook ini.
Terakhir, marilah kita sebagai guru dan orang tua, tidak terlalu menganggap facebook ini termasuk hal yang menakutkan. Kita memang tidak bisa terlalu melepas anak “belajar berkreatifitas” di dunia maya, tapi paling tidak kita tetap membimbing dan menemani sekaligus mengontrol aktivitas anak di dalam penggunaan internet. Internet atau facebook bukan barang yang merusak jika kita bersama-sama mengunakan dengan bijak. Dan pada ujung-ujungnya nanti kita akan melihat anak atau siswa kita sebagai pribadi yang santun beretika serta punya kemarihan dan bisa menggunakan segalai produk yang berbau teknologi dan informasi sesuai dengan kebutuhan dan kapsitasnya.
Minggu, 26 Juli 2009
BANTAL……….
Tapi walaupun empun kenapa ya? Kok jika dipakai malam hari tidak nyaman? Tapi kalau dipakai pagi hari sangat nyaman. Karena dulu akau suka bangun kesiangan karena bantalku di pagi hari sangat nyaman. Sehingga aku malas jika bangun tidur. Tapi sekarang aku nggak bangun kesiangan lagi kok…!
MARSYA---5A/SD ISLAM SABILILLAH MALANG
Suka Duka di Kelas VA
Meskipun masih sebentar berada di 5A, aku sudah mulai bisa berteman dengan dengan teman-teman yang dulu tidak sekelas denganku. Oh ya, aku lupa, jumlah siswa di kelas 5A adalah 30 siswa dan aku absent 27. teman-temanku dari kelas lain saat kelas 4 antara lain, Rossy, Marsya, Eka, Yahya, Yayak, dan masih banyak lagi.
Tapi…….,ada juga pengalaman yang tidak mengenakkan yaitu anak laki-laki di kelas ku nakal-nakal. Kadang-kadang berlari-lari saat pergantian pelajaran, bahkan ketua kelasnya ikut permainan yang dimainkan anak laki-laki, membuat ricuh dan berantakan. Terkadangpun guru-guru sampai marah. Contohnya saat Bu Syifa’ masuk kelas, anak laki-laki masih bermain, dan bisa ditebak, Bu Syifa’…marah!
Namun terkadang aku merasa sedih karena aku jauh dari teman-teman yang berada di kelas 5D. Aku sedih karena kelas 5D jauh letaknya. Untungnya aku masih bisa bertemu saat jam istirahat. Karena saat istirahat jika kita mau membeli makanan dan minuman kita melewati samping kelas 5D.
Ada lagi yang tidak aku suka dengan 5A, yaitu letak kelas 5A berada di belakan perpustakaan. Dan juga kita tidak bisa melihat jalan raya, karena jendela yangterletak di kiri hanya bisa melihat kelas 5B, dan jendela yang kanan terlalu tinggi. Maka dari itu aku tidak terlalu menyukai kelas 5A.
Ini adalah perasaanku saat berada di kelas 5A. Ada Suka Ada Duka…
SALSABILA YUHARNITA----VA/SD ISLAM SABILILLAH MALANG
Senin, 20 Juli 2009
J-POP dan J-ROCK…..Eksitensi Musik Jepang
Memang, kalau menyimak fakta sejarah dan data-data yang tercecer di beberapa literature, musik modern yang masuk ke Jepang dibawa oleh orang-orang Amerika. Mereka –orang Amerika itu—awalnya memperkenalkan musik jazz. Kabarnya, jazzlah akar dari J-Pop yang kita kenal sekarang.
Akar dari J-Pop berawal dari musik Jazz yang populer pada awal era Showa. Awal Era Showa dimulai pada tahun 1926 oleh Kaisar Hirohito sampai dengan masa Perang Dunia II 1945. Musik Jazz memperkenalkan berbagai jenis alat musik yang sebelumnya hanya dipergunakan untuk musik klasik dan dalam militer, dalam berbagai bar dan klub seperti “Ongaku Kissa” yang merupakan salah satu tempat pertunjukkan Jazz yang terkenal.
Namun dalam masa Perang Dunia II, musik jazz sempat terhenti akibat tekanan dari tentara kerajaan Jepang. Setelah masa perang berakhir, Tentara Amerika Serikat memperkenalkan kepada Jepang jenis musik khas Amerika seperti boogie-woogie, mambo, blues dan country. Jenis-jenis musik tersebut dipertunjukkan oleh para musisi Jepang kepada pasukan tentara Amerika yang menempati markas AS di Jepang. Lagu seperti “Tokyo Boogie-Woogie” yang dinyanyikan oleh Sizuko Kasaoki (1948), “Tennesse Waltz” oleh Eri Chiemi (1951), “Omatsuri Mambo” oleh Misora Hibari dan “Omoide no Waltz” oleh Izumi Yukimura menjadi populer di Jepang.
Bahkan musisi luar seperti Jazz At The Philharmonic dan Louis Armstrong pernah mengunjungi Jepang untuk melakukan pertunjukkan. Tahun 1952 merupakan tahun dimana musik Jazz membooming. Namun, Jazz bukanlah jenis musik yang mudah dipelajari sehingga sebagian besar musisi amatir Jepang mempelajari musik country yang dianggap paling mudah dipelajari.
Demam Rock and Roll mulai melanda Jepang pada tahun 1956 oleh sebuah grup musik country, Kosaka Kazuya and Wagon Masters yang merilis album “Heartbreak Hotel”, yang aslinya dibawakan oleh sang raja Elvis Presley. Wabah rock and roll ini mencapai titik puncaknya pada tahun 1959 dengan munculnya sebuah film yang memfokuskan ada pertunjukan grup rock and roll Jepang. Turunnya pamor rock and roll di Amerika Serikat diikuti oleh Jepang seiring dengan banyaknya grup di Jepang yang tak lain hanya meniru Rock and Roll Amerika.
Oh ya, J-Pop yang kita kenal sekarang sebenarnya merupakan istilah umum yang mengandung banyak jenis (genre) musik Jepang seperti pop, rock, dance, rap dan soul. Di Jepang, istilah J-Pop digunakan untuk membedakan gaya musik modern dengan musik klasik Jepang yang disebut dengan Enka atau bentuk ballad dari Jepang tradisional. Sering juga kita mendengar istilah seperti J-Rock, Visual Kei dan J-Rap, namun semua istilah tersebut berada di dalam naungan J-Pop.
Istilah J-Pop sendiri sebenarnya tidak terlalu dikenal di khazanah musik di Jepang, sampai akhirnya istilah J-pop digaungkan oleh satu stasiun radio bernama “J-WAVE” untuk menunjukkan jenis musik yang berbeda dari musik rakyat. Disadari atau tidak, J-Pop sedikit banyak memang dipengaruhi oleh American-style yang menjadi pengaruh terkuat perkembangan musik di Jepang.
Contoh paling popular adalah penyanyi Jepang terkenal Utara Hikaru. Penyanyi cewek ini menjadi populer dengan gaya urban hip-hop dengan pengaruh Amerika yang kental. Gayanya berbeda di Jepang karena lebih mirip atau hampir sama dengan hip-hop Amerika. Itu pun disebabkan karena Utada Hikaru lahir dan besar di New York. Meski warna Jepang yang ditonjolkannya pun masih terasa kental.
Musik J-Pop merupakan bagian dari kebudayaan populer Jepang. Dan telah digunakan dimana-mana seperti anime, iklan, film, acara radio dan televisi, dan video game. Bahkan beberapa acara berita di televisi menggunakan lagu J-pop sebagai penutup acara.
Laju pertumbuhan J-Pop luar biasa tingginya. Dalam anime dan acara televisi lainnya, terutama drama, lagu J-pop yang digunakan sebagai soundtrack cenderung berubah setiap musim (season) sampai empat kali dalam setahun. Bila dihitung lagu pembuka (OP) dan penutup (ED) dan acara berlangsung selama satu tahun, maka paling tidak memiliki delapan lagu sebagai bagian dari acara tersebut.
Di Indonesia, demam J-Pop dimulai saat lagu Ko Ko Ro No Tomo meledak di tahun 80-an. Agak unik sebenarnya, ketika lagu-lagu pop cengeng begitu merajalela, Mayumi Itsuwa, tiba-tiba masuk dan memberikan sebuah perbedaan. Ketika itu, semua penggemar musik pop tiba-tiba bisa berbahasa Jepang.
Berawal dari J-pop yang dipengaruhi musik luar, dan hasilnya pun menggebrak dengan ekspansi sampai ke luar Jepang. Artis-artis J-Pop mulai melakukan pertunjukan ke luar Jepang dimulai dari seputar negara-negara di Asia, kemudian meluas ke Australia, Amerika, bahkan Eropa. Bahkan J-pop mulai dijadikan inspirasi musik di beberapa negara seperti Indonesia dengan grup-grup yang terinspirasi oleh artis Jepang paling pasaran di Indonesia, L`arc en Ciel. Kemudian menyusul gaya fashion mereka yang ditiru.
J-ROCK PUN MENGGEBRAK
Tak Cuma genre pop, J-Rock pun menjadi salah satu wabah di negara-negara Asia. Gaya rock ala Jepang banyak ditiru dan mejadi trend bermusik di banyak negara termasuk Indonesia.
Akar lahirnya J-Rock pun sebenarnya tak berbeda dengan J-Pop. Sejarah J-Rock dimulai tahun 1957 dengan dikenalnya musik rock di Jepang bersamaan dengan puncak kepopuleran rockabilly yang merupakan salah satu gaya rock 'n' roll.
Rockabilly yang dimulai di berbagai kelab jazz melahirkan penyanyi rockabilly seperti Mickey Curtis, Masaaki Hirao, dan Keijirō Yamashita. Pada bulan Februari 1958, ketiganya tampil dalam konser Westan Kānibaru I (Western Carnival I) di gedung pertunjukan bernama Nihon Gekijō, Tokyo.
Di akhir dekade 1950-an, kepopuleran rockabilly yang mulai surut digantikan era Kabā Popsu (cover pops) yang terdiri dari berbagai jenis musik. Di antara tokoh cover pops terdapat musisi seperti Yūya Uchida dan Isao Bitō yang berakar pada genre rockabilly. Selain itu, cover pops dengan gaya Liverpool Sound lahir mengikuti kepopuleran grup-grup musik seperti The Beatles di sekitar tahun 1963.
Gitar elektrik produk dalam negeri yang bisa dibeli dengan harga murah membantu terciptanya demam Ereki (musik rock dengan gitar elektrik). Istilah "Ereki" merupakan singkatan dari kata erekigitā (gitar listrik). Penggemar musik rock di Jepang banyak yang berganti identitas dari pendengar setia menjadi musisi rock.
Musik rock di Jepang makin menggila ketika band rock n’ roll asal Inggris, The Beatles. Tahun 1965, ada band lokal bernama Tokyo Beatles merilis piringan hitam berisi lagu-lagu The Beatles dengan lirik bahasa Jepang. Selain itu, Tokyo Beatles juga mengeluarkan PH berisi lagu-lagu yang pernah dibawakan grup musik Inggris yang memainkan Liverpool Sound.
Ketika the Beatles benar-benar menggelar konsernya di Jepang, membuat grup-grup musik Ereki berganti warna musik agar ikut bisa bergaya British Invasion. Di antara perintis British Invasion di Jepang terdapat grup musik seperti Jackey Yoshikawa and his Blue Comets dan The Spiders.
Sejak akhir dekade 1970-an, grup musik dari label rekaman Indies terus populer, sehingga terjadi "Band Boom" di Jepang pada paruh kedua dekade 1980-an. Pada masa itu terdapat banyak sekali grup-grup musik yang populer. Princess Princess, Unicorn, Jun Sky Walker(s), Bakufu-Slump, dan Pink Sapphire adalah nama-nama grup musik pencetak banyak sekali lagu hit di pertengahan tahun 1980-an. Di jalur heavy metal, Seikima II merupakan band yang paling populer dan sering tampil di televisi.
Di awal tahun 2000-an mulai terdapat gaya Seishun Punk yang dimulai oleh Stance punks, Gagaga SP, dan Going Steady. Saat itu populer grup musik seperti Bump of Chicken, Asian Kung-Fu Generation, dan Acidman yang tergolong genre Shimokita Kei.
Sejak pertengahan tahun 2000-an terdapat banyak sekali grup bergenre Melodic Hardcore dan Emocore seperti Ellegarden dan Asian Kung-Fu Generation. Musisi yang berjasa di masa kejayaan Melodic Hardcore tahun 1990-an juga ikut bangkit kembali, misalnya: mantan anggota Hi-Standar yang bernama Ken Yokoyama berkarier solo, Ultra Brain, dan Snail Ramp.
Di Indonesia, perkembangan J-Rock juga cukup popular. Berterimakasihlah kepada anime Jepang. Soundtrack anime banyak dinyanyikan musisi papan atasJepang. Sebut saja, L’ arc en ciel (dikenal juga sebagai Laruku), yang menyanyikan soundtrack serial Samurai X. Ada T.M. Network yang mengisi soundtrack-nya City Hunter dan Gundam. Selain itu, ada juga Mitsuko Horie, penyanyi solo yang menunjukkan kemampuan vokalnya lewatsoundtrack serial Saint Seiya dan Candy-Candy. Musik inilah yang kemudian disebut sebagai Japanese Rock (J-Rock). Tapi jangan salah, musik J-Rock tak hanya sebatas soundtrack anime saja. Semua musik bergenre rock yang dimainkan band atau penyanyi asal Jepang yang bisa dikategorikan J-Rock.
Yang terkenal tentu saja band yang menamakan dirinya J-Rock. Awalnya mereka adalah copy-cat fashion dan musikalitas Japannesse Rock. Meksi ini sudha menyelip dan melebur masuk dalam industri pop. Malah J-Rock baru saja mendapat kesempatan untuk merekam beberapa lagunya di Abbey Road, tempat rekeman legendaries di Inggris. Tempat yang sudah melahirkan beberapa band besar, termasuk The Beatles.
Lantaran gandrung dengan lagu soundtrack, banyak yang tertarik mendirikan band khusus memainkan musik ini. Lagu-lagu yang dimainkan tak jauh-jauh dari lagu tema anime. Wasabi dan Japanese Heroes adalah pelopor band J-Rock di sini. Kehadiran Wasabi dan Japanese Heroes memicu munculnya band-band pengusung J-Rock baru seperti J-Rocks, Jetto, dan Leto di Jakarta atau Sound Wave dan Lucifer di Bandung. Serunya, band J-Rock generasi baru ini memainkan tak hanya soundtrack saja. Tapi jugasingel-singel band J-Rock lain seperti X-Japan, Luna Sea, Dir and Grey serta Asian Kung Fu Generation.
Kemudian ada nama Amakuza, band heavy-metal dari Jakarta yang lahir karena sebagian besar personilnya sempat kuliah di Sastra Jepang. Mereka memilih bermain metal asli Jepang, dengan ornament musik klask Jepang. Malah Amakuza dan beberapa band metal pengusung Japannesse Metal, sempat merilis kompilasi indie, beberapa tahun silam di Jakarta.
(Dirangkum dari berbagai macam Sumber)
Musik Tradisional Tiongkok dan Perkembangannya
Ketua Persatuan Musik Gesek Nasional Tiongkok Piao Dongsheng mengatakan: "Musik nasional Tiongkok mengalami perkembangan yang sangat besar sejak diadakannya reformasi dan politik terbuka terhadap dunia luar, khususnya pada tahun-tahun belakangan ini. Tiongkok mencapai banyak prestasi selama 50 tahun ini dalam pertukaran kebudayaan dengan luar negeri, namun prestasi itu kebanyakan dicapai di kalangan orang Tionghoa. Pertunjukan lima kali musik nasional Tiongkok di Aula Emas Wina itu telah memberikan kesempatan bagi kalangan musik internasional untuk mengenal dan menilai kembali seni musik tradisional Tiongkok."
Selain Aula Emas Wina, musik tradisional Tiongkok juga dipentaskan di banyak panggung lainnya di dunia, antara lain, Aula Musik Carnegie Amerika dan Aula PBB di Jenewa. Pertunjukan menarik musikus nasional Tiongkok memungkinkan dunia menghayati keistimewaan musik tradisional Tiongkok.
Apresiasi sekaligus penilaian yang baik dari para penonton dalam dan luar negeri juga mendorong komponis Tiongkok menciptakan lebih banyak karya musik yang berciri khas bangsa Tionghoa dan zaman sekarang. Piao Dongsheng mengatakan: "Pada awal tahun 1950-an, musikus Tiongkok kebanyakan menciptakan lagu rakyat yang pendek, kemudian musikus Tiongkok mulai memainkan musik yang lebih tinggi tarafnya dengan alat musik gesek, dan pada tahun-tahun belakangan ini, di Tiongkok muncul sekelompok komponis berusia muda yang sangat profesional. Mereka mulai menciptakan musik gesek nasional dengan cara modern, sehingga penciptaan musik nasional Tiongkok mengalami perkembangan yang banyak ragam dan makmur."
Secara tradisional, pertunjukan musik nasional kebanyakan diadakan dalam bentuk konserto atau solo, sedangkan sekarang banyak musikus muda secara kreatif dan luwes mengadakan pertunjukan musik dengan mengkombinasikan berbagai macam alat musik, sehingga pertunjukannya sangat disukai penonton.
Pada awal diadakannya reformasi dan keterbukaan terhadap dunia luar pada tahun 1980-an, di Tiongkok pernah muncul demam belajar main piano dan violin. Sekarang semakin banyak orang Tiongkok yang lebih berminat pada alat-alat musik tradisional Tiongkok. Menurut statistik pertama Persatuan Musik Gesek Nasional Tiongkok, di Tiongkok terdapat satu juta orang yang belajar main alat musik Guzheng dan 800 ribu orang lain belajar main Erhu, semacam alat musik petik yang berdawai dua, dan jumlahnya masih bertambah.
Yang Chunlin adalah dirijen dan komponis terkenal di Tiongkok. Ia juga adalah guru di beberapa rombongan musik amatir. Yang Chunlin mengatakan: "Sejak diadakannya reformasi dan keterbukaan terhadap dunia luar, taraf penghidupan rakyat telah meningkat sehingga orangtua anak-anak mempunyai uang untuk dikonsumsikan di bidang musik. Selain itu, sekarang penduduk Tiongkok lebih mengutamakan pendidikan kesenian terhadap anaknya."
Yang Chunlin mengatakan, selama Festival Musim Semi tahun depan ia akan memimpin Orkes Musik Nasional Pelajar Sekolah Kesenian Tianhua Kota Jiangyin Provinsi Jiangsu berkunjung ke Austria untuk mengadakan Konser Musik Nasional Festival Musim Semi di Aula Emas Wina. Ini mungkin merupakan konser pertama yang diadakan oleh sebuah orkes musik pelajar di Aula Emas.
Pendidikan musik nasional di Tiongkok pada tahun-tahun belakangan ini mencapai prestasi yang menonjol. Di berbagai konservatori musik dan jurusan kesenian universitas keguruan diadakan mata pelajaran kejurusan musik nasional yang setiap tahun berhasil mendidik banyak pemain musik yang bertaraf tinggi. Tidak sedikit jurusan musik nasional kini juga membuka program pendidikan strata dua dan strata tiga, sehingga penelitian di bidang musik nasional lebih mendalam dan lebih profesional.
Selain itu, pemerintah Tiongkok sangat mementingkan penggalian dan perlindungan terhadap musik nasional. Sejak tahun 1980-an, pemerintah Tiongkok mengeluarkan dana dalam jumlah besar untuk mengorganisasi musikus dan seniman rakyat menyusun Bunga Rampai Lagu Rakyat Tk, Kumpulan Musik Nasional Tiongkok, Kumpulan Musik Opera dan Kumpulan Musik Balada Tiongkok. Teoris musik Feng Guangyu mengatakan, kumpulan-kumpulan itu hampir mencakupi semua musik yang tersebar di kalangan rakyat sejak adanya catatan sejarah di Tiongkok. Dikatakannya: "Kumpulan-kumpulan musik tersebut beserta buku kesenian lainnya disebut sebagai tembok besar kesenian Tiongkok. Nilainya memang sama dengan Tembok Besar mempunyai posisi penting dalam sejarah Tiongkok. Berkat pekerjaan selama dua puluhan tahun ini, kalangan musikus pada pokoknya telah mengetahui khazanah musik nasional Tiongkok."
Feng Guangyu seterusnya mengatakan, perekaman audio visual yang bersangkutan dengan ke-4 kumpulan buku itu masih berlangsung. Tujuannya ialah agar musik nasional Tiongkok pada akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21 tidak hanya dapat dibaca bahan tulisannya, tapi juga dapat didengar dan dilihat.. (disarikan dari berbagai macam sumber..)
Rabu, 17 Juni 2009
PENGEN CERDAS AKADEMIK APA CERDAS EMOSIONAL
Nah, suatu saat lagi saya bertemu dengan seorang ibu yang lain, yang dengan bangga dan berbunga-bunganya, ibu ini mencerikatan bahwa anaknya tidak pernah mendapat nilai dibawa 90 untuk bidang studi Matematika dan IPA. Ini mungkin terdengar klise, dimana kalau melihat perkembangan pendidikan sekarang sudah bukan jamannya lagi mendikotonomikan antara cerdas akademik dan cerdas emosional. Karena pada saat ini sudah sangat diperhatikan antara keseimbangan pencapaian keduanya di semua lembaga pendidikan yang ada.
Banyak didapati orang tua sekarang lebih merasa rendah diri karena dianggap tidak berhasil jika anaknya tergolong"kurang mampu" di kelasnya. Akan tetapi, sedikit sekali orang tua yang merasa, rendah diri ketika anaknya tumbuh menjadi anak-anak yang memiliki kepribadian egois, mau menang sendiri, sensitif, sombong, suka menipu dan tidak biasa bergaul.serta kurang-kurang yang lain, yang berkaitan dari sisi moral dan etika. Dengan santainya orang tua tersebut berdalih dan bahkan memperkuat argument tentang putranya yang pada ujung-ujungnya menyatakan bahwa prilaku anaknya adalah perilaku negatif anak-anak yang sudah lumrah dan masih wajar.
Dan parahnya, sekolah juga terkadang menyikapinya dengan langkah yang kurang bijaksana. Memang, sekolah yang oleh sebagian masyarakat dianggap masih sebagai gudang menuntut ilmu, selalu ditempatkan sebagai objek yang selalu dituntut untuk menghasilkan siswa didik yang mumpuni secara kemampuan akademik. Para user dalam hal ini orang tua yang menyekolahkan di sekolah tersebut menuntut agar anaknya menjadi anak yang pandai dalam akademik. Mereka tidak terlalu peduli bagaimana cara yang ditempuh sekolah.
Dan berbagai carapun mulai ditempuh oleh sekolah untuk menghasilkan tujuan tersebut, mulai dari tambahan les sepulang sekolah, baik yang diadakan di sekolah maupun datang ke rumah. Karena bagi sekolah, jika anak didiknya mendapat nilai tinggi, terlebih-lebih ketika Unas atau UASBN, maka akan mengangkat nilai jual sekolah di mata masyarakat. Dan itu akan sangat membantu dalam hal peningkatan jumlah siswa dalam Penerimaan Siswa Baru kelak.
Maka, imbas dari eksploitasi menggapai kemampuan akademik yang berlebihan itu, jarang sekali ada sekolah yang menggembar-gemborkan akan peningkatan kualitas mental kepribadian, atau yang sering dinamakan kecerdasan emosional atau karakter, sebagai bahan untuk “menjual” sekolah ke masyarakat. Karena, bagi sekolah, terutama kepala sekolah, akan sangat bangga bila sekolahnya sering disebut-sebut, terlebih-lebih ketika rapat dengan dinas pendidikan dan dihadapan para kepala sekolah yang lain, akan keberhasilannya menempatkan siswa didiknya mulai nilai tinggi Unas/UASBN, menjadi wakil dalam Olimpiade sains dan matematika, dan sebagainya.
Padahal kita semua tahu, bahwa keberhasilan seseorang kelak lebih banyak ditentukan oleh kecerdasan emosional, Sering kita dengar cerita bahwa di setiap penerimaan test pegawai, justru yang lebih banyak diterima adalah orang-orang yang memiliki kecerdasan emosional walaupun dari sisi kecerdasan akademik, masuk dalam golongan biasa-biasa aja. Fakta inipun masih sering diabaikan oleh para orang tua dan sekolah. Nah, berangkat dari hal tersebut, patut kiranya kita sebagai orang tua, para pelaku pendidikan di sekolah, sudah mulai memperhatikan peningkatan kedua kecerdasan itu secara proporsional dan seimbang. Memang, yang paling ideal adalah anak itu memiliki kecerdasan akademik yang ditunjang dengan kecerdasan emosional. Akan tetap, itu tidak semudah sepert membalik tangan kita dalam mencapai keadaan tersebut.
Banyak yang bisa dilakukan oleh sekolah dalam meningkatkan kecerdasan emosional. Bisa dimulai dengan pengembangan pendidikan karakter siswa. Yaitu pendidikan yang menekankan bagaimana mengembangkan dan memunculkan karakter sebagai citra diri dengan maksimal. Pendidikan karakter ada-lah pendidikan budi pekerti plus, yaitu yang melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action). Dalam pendidikan karakter ini banyak hal yang bisa dikembangkan dan dibentuk, mulai karakter cinta kepada Tuhan, Cinta kepada orang tua dan guru, cinta kepada sesama, cinta kepada alam dan lingkungan, cinta kepada Ilmu dan teknologi, cinta diri sediri, serta cinta kepada nusa dan bangsa.
Dari pembentukan karakter cinta tersebut, diharapkan akan tumbuh dalam diri siswa suatu bentuk kecerdasan emosional, yang ujung-ujungnya bermuara pada kecerdasan akademik. Dan jika ini tercapai maka dalam diri siswa akan tumbuh sifat-sifat yang selalu mengedepankan etika dan sopan santun jika menghadapi persaingan dalam meniti karirnya kelak. Karakter yang tidak mudah menghalalkan segala cara untuk berhasil, karakter yang tidak mau sikut sana sikut sini dalam berkompetensi kelak di masa dewasa. Dan hal itulah yang bisa membawa siswa didik kita memiliki kecerdasan emosional.
Pada akhirnya, mengejar nilai akademik tinggi penting, tapi yang tidak kalah pentingnya adalah bagaimana mencetak anak didik yang mampu menghadapi tantangan hidup masa depan dengan kemampuan dan kecerdasan emosional. Sehingga, dalam diri anak itu sejak dini sudah muncul kebiasaan-kebiasaan yang baik, memiliki moral dan etika yang tinggi, kemampuan survive di mana saja,. Dan itu bukan hal yang mustahil. Karena jika kebiasaan baik sudah tertanam, maka keinginan untuk meningkatkan kemampuan diri dalam bidang akademik akan tumbuh dengan sendirinya. Sekarang tinggal kita sebagai pelaku pendidikan dan orang tua, mau memilih yang mana untuk anak kita. Dan yang perlu kita ingat adalah “apa yang kita ukir kepada anak kita hari ini, akan menjadi pedoman hidup anak kita di masa depan”.
Bagaimana? andalah yang berhak menentukan. Selamat menjadi Orang tua yang bijaksana termauk saya juga..
Rabu, 13 Mei 2009
Facebook sebagai ajang silaturahmi sekaligus ajang...
APA SIH FACEBOOK ITU.
Penulis pertama kali mengenalnya mungkin sudah lama sekitar medio oktober 2008, dari seorang teman. Tapi baru benar-benar ikut nimbrung sekitar awal tahun 2009. Itupun karena keterpaksaan tatkala ingin tahu kabar seorang teman kuliah yang sudah 10 tahun nggak ketemu akhirnya oleh seorang teman dosen dari Unlam, Banjarmasin, saya dianjurkan buka facebook, dan mencari nama yang saya tuju. Dengan berbekal email saja, akhirnya terdaftarlah saya sebagai user di facebook. Nah, untu tahu apa facebook itu? berikut sekilas tentang asal-usulnya.
Facebook pertama kali dibuat oleh seorang mahasiswa bernama Mark Elliot Zuckenberg (14 Mei 1984) yang terobsesi mengikuti langkah Bill Gates. Sama seperti seniornya, ia juga drop-out dari Universitas Harvard.
Ia memulai Facebook di kamar asrama bersama dua rekan sekamarnya Dustin Moskovitz dan Chris Hughes dibantu oleh rekan kuliahnya, Andrew McCollum. Dan siapa sangka, bermula dari Facebook “kecil”, kini Zuckenberg menjadi seorang miliarder muda belia. Dengan niat awalnya untuk membuat situs keren, kini ia menjadi CEO untuk perusahaan tersebut yang saat ini mempekerjakan 300 orang karyawan. Dukungan yang diberikan langsung oleh Bill Gates membuatnya semakin getol dalam bolos kuliah untuk membuat web. Dan akhirnya sekarang ini sudah sekitar 10 jutaan pengguna dari seluruh dunia....(to be continued)
Senin, 29 Desember 2008
Selamat berjuang, Kawan!
Jumat, 28 November 2008
LET'S BE THE GREEN.......! Hanya retorika?
- Punya satu bahasa yang sama apabila menemukan siswa yang tidak peduli dan cuek dengan kebersihan.
- Tidak malu dan jijik untuk memungut sampah yang berserakan dan tidak pada tempat yang seharusnya, sekalipun itu pucuk pimpinan, kalau memang melihat sampah.....PUNGUT!
- Tidak membiarkan anak membuang sampah di sembarang tempat
- Memberikan pengertian kepada anak didik bahwa kebersihan sekolah bukan hanya tugas staf kebersihan.
- Memberi contoh dan teladan bagi siswa terutama di kelas bagaiman menata ruangan dan membuat ruang kelas menjadi lebih asri, indah dan nyaman.
- Beri informasi yang lengkap bagaimana memperlakukan sampah pribadi dengan benar, bisa dengan ganbar didinding, tulisan, serta pelatihan-pelatihan kecil.
- Dan yang tidak kalah pentingnya, sekolah harus mau menyediakan sarana dan tempat untuk memperlakukan sampah dengan benar, dengan cara menyediakan tempat sampah kering dan basah di setiap rempat berkumpul anak.
Disamping beberapa usaha diatas ada satu lagi yang memang selalu menjadi pemikiran selama ini. Yaitu, tentang sampah pada saat hari sabtu. Di SDIS, setiap Hari Sabtu, anak-anak tidak mendapat makan siang, tetapi mendapat ganti berupa kue dan minum yang dimasukkan ke dalam kotak kue yang terbuat dari kertas/kardus. Memang kalau di lihat tidak ada yang salah dari hal itu. Hanya saja dengan adanya kardus kue serta gelas plastik kemasan air mineral, membuat suasana pada saat pulang sekolah pada akhirnya menjadi satu pemandangan yang "menakjubkan" bagi siapa yang melihat. Di tiap kelas berserakan kardus kue beserta gelas plastik sisa minum, yang tumpah keluar dari tempat sampah mini yang memang tidak muat untuk menampung sampah siswa tadi. Belum lagi yang tampak di lorong-lorong/koridor sekolah, atau bahkan di teras dan halaman parkir, terlihat berserakan benda-benda yang tersebut tadi. Iseng-iseng saya mencoba menghitung jumlah sampah yang dihasilkan setiap Hari Sabtu di SDIS. Dan hasilnya sungguh mengagumkan! Berikut itung-itungannya.
- Setiap Sabtu sekolah menyediakan 850 kotak kue (750 untuk siswa dan 100 untuk karyawan dan guru). Jika dalam setiap kotak pasti ada 1 gelas air mineral+ 1plastik pembungkus kue berarti 850 x 3 (1 kotak kardus + 1 plastik mineral + 1 plastik bungkus kue) =2550
- Jika satu bulan ada 4 sabtu, maka 2550 X 4 = 10.200 sampah
- Jika Bulan efektif sekolah setahun ada 10 bulan maka, 10.200 x 10 = 102.000 sampah.
- Berarti selama setahun SDIS menyumbang 102.000 sampah. Wowwwww!
Berkaca dari hal itu, maka selaras dengan tema lets be the green tadi, seharusnyalah semua komponen sekolah bisa memikirkan itu, yaitu dengan cara mengganti cara penyajian kue setiap hari sabtu. Mungkin bisa dengan cara disajikan di atas nampan setiap kelas dan dimakan bersama di kelas sebelum pulang, dan jika ada yang ingin di bawah pulang baik karyawan atau siswa bisa membawa tempat sendiri dari rumah, sehingga bisa mengurangi beban bumi kota ini akan sampah. Dan Let's be the green bukan hanya sekedar slogan, tema serta retorika saja. Akhirnya JAYALAH SELALU SDIS, BERIKAN YANG TERBAIK BAGI BANGSA DAN TANAH AIR.
Jumat, 21 November 2008
JUARA KWN 2008, SD ISLAM SABILILLAH MALANG
Pengumumannya dilaksanakan kemarin, hari Kamis, 20 November 2008, di Jakarta. Dihadiri langsung oleh Komisaris Utama PT Panasonic Gobel Indonesia, Bapak Rahmad Gobel. KWN SD Islam Sabilillah Malang pada festival kali ini mengangkat judul "Maafkan Bapak, Aku Tidak Tahu". Yang mengangkat tema seputar kondisi lingkungan daerah Malang, yang menjadi setting pada cerita seorang seniman Topeng Malang, yang masih giat dan getol untuk melestarikan dan ingin tetap mewariskan budaya itu pada anak-anaknya.
Selamat buat anak-anakku semua, semoga pada kejuaraan KWN Tingkat Regional di Sabah Malaysia, 2-5 Desember 2008 mendatang dan pada Pada KWN Tingkat Global, Juni 2009, kita bisa mempesembahkan yang terbaik untuk bangsa Indonesia. Semoga.
Rabu, 19 November 2008
Pelajaran Berharga dari 3 Murid-muridku
Kalau di simak secara mendalam apakah mereka tidak merasa jika perilaku mereka itu akan di lihat dan disaksikan oleh generasi di bawahnya atau lebih tepatnya oleh adik-adiknya yang nota bene masih duduk di bangku SD hingga SMA. Perilaku mereka sekarang sudah bisa dilihat dengan cepat melalu media televisi yang setiap hari sudah menjadi santapan empuk bagi para pengais berita.
Pemukulan, kekerasan, penganiayaan begitu mudahnya terjadi karena hal sepele. Dan bisa kita simpulkan semua itu karena mereka sudah tidak punya bahkan sudah “buta” atau mungkin sudah “mati” perasaan dan hati nuraninya. Mereka sudah tidak mengenal arti sabar, mengalah bahkan sikap rendah hati dan tidak arogan. Mereka sudah tidak lagi menghiraukan efek selanjutnya dari apa yang diperbuat.
Mengingat itu semua saya jadi sedih. Akan tetapi di tengah-tengah kesedihan itu saya mengalami satu pengalaman berharga dari satu kejadian yang sangat menyentuh hati saya. Dimana kejadian dilakukan oleh anak/murid saya yang masih duduk di kelas V Sekolah Dasar. Kejadian itu bermula ketika saya bersama seorang teman guru mendapat tugas dari sekolah untuk mengantarkan lomba kreatifitas tingkat sekolah dasar dalam tahap seleksi tingkat kecamatan. Kebetulan setelah melalui seleksi awal (tingkat kepengawasan), sekolah kami diminta mengirimkan 3 wakil untuk seni peran. Saya sendiri mendapat tugas mendampingi 1 orang siswa untuk lomba kretifitas musik.
Setelah kami berangkat ke tempat lomba, ternyata oleh panitia kecamatan, peserta seni peran yang kami kirimkan hanya boleh menyertakan 1 (satu) peserta saja. Teman saya yang berada di dekat saya sebagai pendamping lomba seni peran itu mulai kebingungan memilih siapa yang akan diikutkan. Semua anak yang dibawa sudah “siap tempur”. Akhirnya teman saya mengutarakan masalah itu kepada 3 orang siswa tersebut apa permasalahan yang terjadi. Saya pribadi relative mengetahui kondisi mental ke-tiga siswa itu. Mereka semua termasuk anak yang selalu bersaing dan berkompetisi baik di kelas maupun di luar kelas. Dan mereka selalu punya keinginan menang yang tinggi. Tapia apa yang terjadi, tanpa ada perdebatan dan saling minta untuk diikutkan, tiba-tiba 2 orang anak sebut saja Fahmi dan Nisa langsung menunjuk , sebut saja Dewi, untuk mencoba mengikuti lomba tersebut. Masya Allah….., Subhanallah…., mungkin kalau di simak kisah tadi biasa terjadi di lingkungan anda/pembaca. Tapi bagi saya itu tadi adalah satu kejadian yang bisa dijadikan cermin bagi semua terlebih-lebih bagi kita yang sudah menganggap dirinya tua/dewasa. Bahwa anak kecil aja bisa melakukan hal seperti itu. Mereka tahu arti mengalah, memberi kesempatan pada orang lain, tidak mau menang sendiri.
Nah itulah sepenggal kisah semoga kita bisa mengambil manfaat dari kejadian itu, meskipun itu berasal dari anak kecil.
Selasa, 18 November 2008
Ikut TES PNS GURU....? Coba aja kalo bisa
Kembali ke masalah tes CPNS tahun ini, bisa kita pastikan akan semakin sedikitlah peluang untuk menduduki kursi PNS guru ini. Akan tetapi bagi yang memang berminat ikut mencoba menggapai peluang itu, teruskan saja mimpi tersebut. Bagi para GTT yang memang diberikan kesempatan oleh yayasan tempat mengajarnya, gunakan kesempatan emas ini. Terlebih-lebih ada batasan umur untuk mengikuti tes CPNS.
Penulis tertarik untuk mengemukakan ini karena teringat dengan cerita salah seorang kawan guru swasta di salah satu daerah Jawa Tengah. Kawan tersebut sekarang sedang mengabdi di sebuah sekolah dasar favorit di sana. Dan kebetulan tahun ini sedang dibuka pendaftaran CPNS guru. Dan ternyata banyak dari guru di sekolah itu berkeinginan untuk mengikutinya, tetapi terbentur pada aturan yayasan bahwa siapa saja yang ingin ikut tes CPNS harus melepas dulu baju yayasan (berhenti) dari sekolah tersebut. Kalau dilihat memang sah-sah saja peraturan yayasan sekolah itu, karena memang setiap yayasan berhak untuk melindungi keberadaan dan kelanjutan sekolahnya sendiri. Dan yang terjadi memang karena mungkin para guru disana sudah merasa kesempatan kali ini adalah kesempatan terakhir (batasan umur mepet), beberapa guru disana mencoba mengajukan diri untuk mengikuti tes kali ini. Dan bisa ditebak jawaban yayasan tetap dengan peraturan yang ada. Akhirnya karena tidak bisa ditemukan titik temu maka beberapa guru itu nekat mengundurkan diri bersama-sama. Nah, disinilah move para guru itu merepotkan pengurus yayasan. Kalau dalam jumlah besar yang mengundurkan diri, maka akan mengganggu sistem pembelajaran dan pelayanan kepada siswa. Dan pada akhirnya menurut kabar terakhir yang saya dengar akhirnya yayasannya bersedia mengabulkan keinginan para guru itu untuk mengikuti tes CPNS tahun ini, walaupun dengan syarat A, B, C....Z.
Akhirnya selamat berjuang bagi para kawan-kawan guru GTT dimanapun berada, kejar mimpi itu, dan tetap menjadi guru yang ikhlas jika nanti sudah menggapai itu semua. Dan bagi kawan-kawan yang belum bisa ikut karena berbagai hal termasuk yang saya utarakan di atas, jangan berkecil hati tetap terus mengajar dengan profesional, ikhlas dan berdedikasi, sekaligus terus berdo'a dan berharap, semoga ke depan pemerintah semakin memperhatikan keberadaan para GTT yang nota bene juga ikut mencerdaskan anak bangsa. Amin...
mimpi adalah kunci....... untuk kita menaklukkan dunia
berlarilah tanpa lelah.....sampai engkau meraihnya
(lirik "laskar pelangi" NIDJI_
Minggu, 16 November 2008
HUMAS (MANAJEMEN) DI LEMBAGA PENDIDIKAN MASIH BERFUNGSIKAH?
Berdasarkan definisi diatas pegertian humas secara umum adalah fungsi yang khas antara organisasi dengan publiknya, atau dengan kata lain antara lembaga pendidikan dengan warga di dalam (guru, karyawan, siswa) dan warga dari luar (wali siswa, masyarakat, instusi luar, patner sekolah)
Dalam konteks ini jelas bahwa humas atau public relation (PR) adalah termasuk salah satu elemen yang penting dalam suatu organisasi kelompok ataupun secara individu. Berbicara mengenai humas dalam lembaga pendidikan, dewasa ini masih kurang sekali difungsikan oleh masing-masing lembaga sekolah. Hal ini tidak terlepas dari kurangnya informasi dan pengetahuan yang dimiliki oleh para pengelola atau pelaksana dalam sekolah tersebut. Terutama ini banyak di lakukan oleh sekolah-sekolah yang berada di bawah naungan pemerintah, mulai dari level SD sampai SMA. Kecuali di level universitas, sudah ada staf atau petugas sendiri untuk bagian humas atau PR. Memang untuk lembaga pendidikan swasta atau dibawah naungan yayasan tertentu sudah mulai digunakan cara-cara ke-humas-an tersebut, tapi biasanya kurang maksimal. Dan walaupun ada job diskripsi untuk itu tidak bisa bekerja dengan baik serta kurang bisa membawakan peran bagaimana semestinya seorang humas itu. Padahal fungsi humas untuk lembaga pendidikan itu sangatlah penting. Karena dengan adanya humas, lembaga pendidikan terlebih-lebih swasta yang pada akhir-akhir ini sudah mulai bekerja keras untuk melanjutkan eksistensi sekolahnya, walaupun mereka juga tidak tahu sampai kapan sekolah itu akan tetap eksis.
Sebenarnya konsep dan aplikasi humas dalam suatu lembaga pendidikan bisa dan relatif mudah untuk dilaksanakan, walaupun yang penting dalam hal ini adalah adanya keinginan dari lembaga tersebut untuk sadar akan fungsi dan tugas dalam manajemen humas. Ruslan (2001) mendefinisikan manajemen humas adalah suatu proses dalam menangani perencanaan, pengorganisasian, mengkomunikasikan serta pengkoordinasian yang secara serius dan rasional dalam upaya pencapaian tujuan bersama dari organisasi atau lembaga yang diwakilinya.( Zulkarnain Nasution Manajemen Humas Lembaga Pendidikan, 2006). Dan untuk merealisasikan itu semua banyak hal yang harus dilakukan oleh humas dalam suatu lembaga pendidikan. Terutama bisa kita lihat dari apa itu fungsi manajemen humas itu sendiri. Mulai fungsi perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, pengkoordinasian, pengarahan, pengawasan.
Selain itu memelihara hubungan dengan pers juga mutlak dan perlu dijalin dan dikembangkan. Karena pada saat ini tidak bisa dipungkiri bahwa keberadaan pers/media massa, mulai media cetak sampai media elektronik sudah sangat memasyarakat dan menjadi salah satu yang dibutuhkan masyarakat. Oleh karena itu sangat tepatlah kalau pers menjadi salah satu wadah untuk mensosialisakan dan “menjual sekolah/lembaga pendidikan” kepada orang luar, sehingga paling tidak keberadaan sekolah kita masih bisa terdengar oleh masyarakat. Hal ini tidak terlepas dari pendapat dari beberapa praktisi pendidikan yang mengatakan bahwa semakin sering lembaga/sekolah kita termuat beritanya (berita positif) di media massa maka semakin banyak tahulah masyarakat akan keberadaan sekolah kita. Dan itu akan beribas positif pada saat akan melaksanakan Penerimaan Siswa Baru pada tahun ajaran mendatang.
Selain peran pers ada beberapa media humas yang lain yang tidak kalah pentingnya demi menunjang kerja humas di sekolah atau lembaga pendidikan. Media-media itu antara lain; majalah sekolah/buletin, papan informasi kegiatan dan Foto kegiata, buku penghubung yang berisi kegiatan dan perilaku siswa di sekolah, Banner sekolah, kotak saran, Forum Komunikasi Orang tua siswa, Leaflet, Talk Show dengan orang tua, serta yang paling mutakhir pembuata website di dunia maya baik yang gratisan atau yang menggunakan domain sendiri. Semua media-media itu tidak lain adalah sebagai sarana untuk memaksimalkan lagi fungsi humas dalam lembaga pendidikan. h@nd’s
Sabtu, 15 November 2008
LET'S SAVE OUR EARTH
In English....
Recently we found many slogans to be clean, let's be greener, etc.. It shows that now people have started to saturate the things that are not clean or dirty. therefore we let ourselves for a word always concerned with the environment around us. Do not blame each other who have garbage, do not accuse each other who is like throwing garbage wherever he is. For people who have cars that are usually at the time in travel and food are scarce or in the car with santainya open car windows and throw garbage / food packets used to the road, stop and do not inure to the children we do like that. Do not be afraid just because the car dirty and compromising the general cleanliness. Remember the burden of the earth we currently have to bear the heavy weight of human waste. For the supermarket reduce the use of plastic bags / Grantham to place the goods spending. Use paper bags for recycling / info provided to customers to bring shopping bags from the house. Let's SAVE OUR EARTH .............