Sabtu, 26 Mei 2012
Bersembunyi di Balik Kata “Kejujuran”
Sebelumnya saya ucapkan selamat kepada Calon-calon pemimpin masa depan Indonesia, yang hari ini telah mengetahui hasil UNAS nya. Bagi yang nilainya bagus pertahankan di jenjang berikutnya, dan bagi yang kurang memuaskan jangan bersedih, terus bersemangat untuk menghadapi proses belajar di universitas (kampus) ataupun universitas (kehidupan).
Berkaca pada tahun-tahun sebelumnya, hasil pengumuman UNAS selalu membawa kisah tersendiri bagi sekolah, siswa maupun guru dan orang tua. Semuanya harap-harap cemas. Seolah-olah hasil UNAS tahun ini merupakan tolak ukur bagi keberhasilan pembelajaran di sekolah itu. Kita semua tahu bahwa dalam menghadapi UNAS, sekolah sudah melakukan berbagai macam cara dan metode untuk meningkatkan capaian nilai UNAS. Mulai dari membentuk Tim Sukses, Menambah jam belajar di sekolah, out bound, doa bersama, serta cara-cara lain yang meskipun kadang tidak bisa dinalar dengan akal sehat pun akan dilakukan demi keberhasilan UNAS di sekolahnya.
Semua energi civitas sekolah mulai dari Kepala sekolah, guru, karyawan, siswa, orang tua, bahkan sampai security di sekolah, dikondisikan sedemikian rupa demi suksesnya ujian siswa. Hal ini dilakukan disamping demi menjaga gengsi /”martabat” sekolah, juga untuk menjaga citra pimpinan sekolah dihadapan pimpinan sekolah yang lain, pada saat rapat kelulusan di tingkat kabupaten/kota. Sekolah yang disebut terus menerus oleh Kepala Dinas Pendidikan setempat, baik untuk capaian nilai individu ataupun rata-rata sekolah, akan merasa punya “muka”. begitu pula sebaliknya. Dan yang paling penting, sang pimpinan sekolah akan selalu bisa menjaga nama baiknya di depan kepala dinas.
Bagi sebagian daerah, nilai UNAS, merupakan tolak ukur keberhasilan pendidikan di daerah tersebut. Walikota/Bupati akan bangga jika ada beberapa siswa atau sekolah di daerahnya yang mencatatkan dirinya di jajaran best ten nasional. Dan hasil baik tersebut, bagi kepala dinas pendidikan merupakan garansi untuk tetap terus di kursi kepemimpinannya. Akan tetapi, bagi daerah yang sekolahnya tidak satupun masuk jajaran best ten baik baik di tingkat provensi maupun nasional akan selalu mencari kambing hitam. kasihan sebenarnya kambing hitam itu. Padahal kambing hitam sekarang sedang langka di pasaran karena sedang dalam perawatan spa menjelang Idul Qurban, sorry ngelantur.
Apa saja biasanya yang dijadikan kambing hitam bagi kegagalan suatu daerah pada hasil UNAS. sebelum membahas itu, mari kita lihat dan baca lagi berita yang akan banyak beredar di media lokal terkait hal ini. di media itu akan saling adu argumen antara DPRD (yang mengatasnakan rakyat) dengan Dinas Pendidikan setempat. DPRD melalui komisi yang membidangi pendidikan akan mengkritisi hasil UNAS, dan menyalahkan kinerja Dinas Pendidikan (pemerintah daerah/kota) dan jajarannya kurang maksimal dalam mempersiapkan UNAS. Nah, seakan tidak mau disalahkan begitu saja, pihak dinas pendidikan akan selalu mengatakan hal yang “klise” yaitu; “kami sudah berusaha maksimal dan hasil try out pun sudah bagus tapi kami tidak memprediksi hasil UNAS akan seperti ini. Dan kami tetap bangga dengan hasil ini karena kami melakukan kecurangan untuk mendongkrak nilai”.
Kita semua pasti sudah sering mendengar jawaban “kami tidak curang” untuk menjawab kenapa hasil UNAS nya jeblok, yang kalau kina cermati bahasa itu sama saja dengan mengklaim bahwa daerah yang hasil UNAS nya bagus, melakukan kecurangan. Cukup menggelikan melihat hal ini. Jarang sekali ada kejujuran dalam menjelaskan kenapa hasil UNAS nya mengecewakan. Ya, itu karena mungkin para pemangku jabatan di Dinas Pendidikan takut dilengserkan oleh Bupati/walikota. Sudah bukan menjadi rahasia umum jika di dinas pendidikan ini termasuk lahan basah. Banyak yang berebut untuk mengurusi pendidikan di tingkat daerah,meskipun yang bersangkutan sama sekali tidak punya background di bidang pendidikan/persekolahan.
Sebenarnya patut disayangkan alibi-alibi atau penjelasan-penjelasan yang terkesan mencari aman seperti itu. Sebagai dinas yang bertanggung jawab akan kelangsungan sistem pendidikan di daerahnya, mau dan siap bertanggung jawab terhadap apapun yang terjadi akan hasil UNAS. Seyogyanya mereka mau menjelaskan duduk permasalahan yang sebenarnya. Sehingga pada akhirnya seluruh komponen masyarakat mulai pemerintah, wakil rakyat, sekolah, keluarga, pemerhati pendidikan akan ikut urun rembug memikirkan jalan keluarnya. Sekarang mungkin masih belum best ten, tapi siapa tahun tahun depan, karena sudah ada masukan-masukan yang kongret terkait dengan permasalahan ini, akan mencapai hasil yang lebih baik lagi. Bahkan mungkin meraih The Best Ten adalah bukan sesuatu yang mustahil. So, jangan lagi bersembunyi di balik kejujuran untuk mengungkapkan ketidakberesan yang terjadi.
Bravo Pendidikan Indonesia!
Senin, 07 Mei 2012
GEROBAK SAMPAH WANGI
“Kring...kring kring...” tampak seorang bapak sedang mengayuh sepeda tua. Di belakangnya tampak anak perempuan dengan rambut kepang dua, sedang asyik duduk diatas boncengan sepeda itu sambil membaca buku.
“Naya...., sudah sampai sekolah loh, ayo cepat turun sebentar lagi bel berbunyi !” begitu kata bapak itu sambil membantu menurunkan anak perempuan tadi dengan hati-hati.
“Ehh..saking asyiknya baca sampai nggak tahu kalau sudah sampai di sekolah”, sambil melompat turun dari boncengan sepeda tua itu.
“Terima kasih ya, Yah...Ayah sudah mengantarku ke sekolah pagi ini”, kata anak perempuan berkepang dua itu lalu mencium tangan ayahnya seraya melambaikan tangannya sambil mengucapkan salam.
“Baik-baik di sekolah ya... jangan lupa ikuti semua pesan guru, nanti siang Ayah tunggu di sini ya...” kata lelaki separuh baya itu sambil berlalu mengayuh sepeda tua itu berlalu dari halaman depan sekolah.
Pagi itu suasana kelas masih terlihat sepi, karena jarum jam baru menujukkan pukul 06.30. Tetapi di dalam kelas 5 A, beberapa anak tampak duduk bergerombol sambil mendengarkan cerita dari seorang anak perempuan yang duduk paling depan. Dari nama yang terpampang di baju seragam putihnya, anak itu bernama Bintang Kejora.
“Eh, kalian tahu tidak, ternyata yang setiap hari mengantar Naya ke sekolah naik sepeda butut jelek itu adalah tukang angkut sampah di lingkungan rumahku”, kata Bintang memulai perbincangannya.
“Hah...tukang angkut sampah!” kata ketiga temannya yang lain serentak.
“Berarti Naya setiap hari Naya bau sampah dong, hiiii....dan itu sama saja dengan kelas kita ada sampahnya tiap hari” timpal mereka lagi, sambil mengerutkan kening mukanya seperti perasaan orang menahan bau tertentu.
“Nah itu dia teman-teman, aku juga kaget waktu tahu itu begitu tahu yang mengangkut sampah di lingkungan rumahku adalah orang yang selama ini mengantar Naya ke sekolah.” Kata Bintang dengan nada mengejek. Tapi tiba-tiba tampak di balik pintu depan, tampak Kanaya sedang memasuki ruangan itu dengan raut wajah seperti biasanya, selalu berseri dan tersenyum sama siapa saja.
“Selamat pagi teman-teman” ucap Naya dengan wajah yang berseri.
Keempat anak perempuan yang disapa Naya pura-pura mengobrol sendiri dan seolah-olah tidak mendengar sapaan Kanaya. Kanaya pun heran dengan keadaan ini, tapi dia tidak berani bertanya ada apa kepada teman-teman di depannya. Lalu dia langsung menuju ke bangkunya.
“Yuk teman-teman, kita keluar saja...! kalau berlama-lama di sini bisa-bisa kita ketularan bau sampah nih” ajak Bintang kepada ketiga temannya. Dan diikuti oleh ketiga temannya beranjak keluar dari dalam kelas, hingga menyisakan Kanaya sendiri.
Kanaya terdiam mendengar ucapan bintang tadi.
“Sampah....? apakah ucapan Bintang tadi tertuju untukku?” begitu kata hati Kanaya.
“Selamat pagi Anak-anak..!” Kata Ibu Ani memulai pelajaran hari ini di kelas 5A.
“Selamat pagi Bu...!” jawab seluruh siswa di kelas 5A
“Hari ini Ibu akan melanjutkan penilaian penampilan puisi kalian di depan kelas”, ujar Bu Ani sambil membuka daftar nilai guru di atas meja. Suasana kelas langsung hening. Sebagian dari mereka merasa enggan kalau dipanggil yang pertama hari ini.
“Bintang Kejora..!” demikian suara Bu Ani memanggil siswa yang harus membacakan puisi di depan kelas.
“Saya Bu..., tapi.., saya tidak mau maju Bu jika di kelas ini masih ada yang bau sampah!” ucap Bintang seraya kedua matanya melirik ke arah tempat duduk Kanaya.
Seluruh siswa diruangan itu terdiam dan terkejut mendengar ucapan Bintang.
“Masih bau sampah bagaimana maksud kamu Bintang?” tanya Bu Ani heran.
“Ya.... bau sampah gitu deh. Atau tepatnya ada siswa di sini yang selalu membawa sampah ke dalam kelas, wuiihhh baunya Bu..” kata Bintang sambil menunjuk ke arah Kanaya.
Seisi kelas mengalihkan pandangannya ke arah Kanaya. Termasuk Bu Ani.
“Ayahnya kan tukang angkut sampah di lingkungan rumahku” lanjut Bintang sinis.
“Bintang...! kamu tidak boleh memandang orang lain dari luarnya saja, dan kamu juga tidak boleh merendahkan derajat orang lain, tidak baik itu Nak” kata Bu Ani mencoba menenangkan suasana yang tidak nyaman itu.
Tapi tiba-tiba Kanaya angkat bicara.
“Bu Ani..dan teman-teman semua, aku tidak apa-apa kok di sebut Bintang sampah, karena memang ayahku tukang angkut sampah. Dan apa itu salah?” Kanaya memulai uc, apannya.
“Dan kalau Bintang merasa tidak nyaman membaca puisi ketika ada aku di kelas, saya bisa keluar dulu kok” ucap Naya sambil memandang ke arah Bintang dan Ibu ani.
“Sudah....sudah, di kelas ini yang mengatur sekarang ibu, jadi tidak ada yang keluar dan harus tetap di kelas sambil melihat teman yang lain membaca puisinya” lanjut Bu Ani.
Akhirnya pembacaan puisi masing-masing siswa dilanjutkan hingga akhir jam pelajaran tanpa ada yang berani membicarakan hal yang baru saja terjadi.
“Bintang...Bintang, dimana kamu taruh kotak kuning yang kamu pakai mainan kemarin Nak?” suara seorang perempuan memakai seragam polisi memecah keheningan suasan rumah besar itu. Seraya menghampiri Bintang yang sedang bermain boneka di kamar.
“Kotak yang mana, Ma?” tanya Bintang heran.
“Itu kotak warna kuning mama, yang kamu pinjam buat mainan boneka kemarin” jawab perempuan itu lagi yang tak lain adalah mama Bintang.
“Emang kenapa Ma?, kan udah usang kotak itu, aku kemarin itu tidak jadi minjam kotak itu Ma, karena aku perhatikan saudah jelek dan kusam, ya...aku buang saja ke tempat sampah” kata Bintang.
“Apa...!!!, kamu buang ke tempat sampah? Oh..Tuhan, itu kotak perhiasan permata mama Nak” ucap mama bintang ketakutan, sambil bergegas menuju ke luar pagar rumah menuju tong sampah.
Beberapa saat kemudian.
“Habis sudah...habis semuanya perhiasan mama, di tong sampah sudah di aduk-aduk, tidak ada kotak itu, aduh....” kata mama Bintang sambil menangis. Bintang pun terdiam. Dia merasa bersalah sekali kepada mamanya, tapi dia bingung bagaimana menebus rasa bersalah itu. Sampai akhirnya,
“Ting tong...ting tong” bel rumah berbunyi, Bintang bergegas menuju ke arah pintu. Kemudian Bintang membuka pintu warna coklat itu. Dan setelah pintu terbuka, betapa terperanjatnya Bintang, karena yang berdiri di depan pintu rumahnya itu adalah seorang lelaki yang dia kenal sebagai ayah Kanaya. Teman di kelas Bintang yang telah bintang ejek beberapa hari yang lalu. Belum hilang rasa terperanjat Bintang,
“Mama ada Nak?” tanya ayah Kanaya sambil memegang sebuah kotak kuning yang Bintang udah hafal sama kotak itu
“Ada..ada Pak, mari masuk ke dalam” ucap Bintang sambil bergegas menuju kamar mamanya.
“Ma.....Mama...! ada tamu di luar” Bintang setengah berteriak memanggil mamanya
“Tunggu sebentar..” jawab sang mama. Bintang terus berdiri di belik tirai penghubung ruang tengah dan ruang tamu. Matanya tidak pernah lepas memperhatikan ayah Kanaya yang sedang duduk di sofa merah ruang tamu itu. Terlebih-lebih jika melihat kotak kuning yang ada di meja, tambah tidak karuan perasaan Bintang saat itu. Keheranan dan ketertegunan Bintang sirna ketika mama masuk ke ruang tamu menemui pria paruh baya itu.
“Permisi Bu...mohon maaf, saya lancang masuk ke rumah Ibu dengan pakaian kotor begini” ayah Kanaya berdiri sambil membungkukkan badannya untuk menghormati tuan rumah.
“Mari..mari Pak, silahkan duduk” kata mama Bintang sambil mempersilahkan tamunya duduk.
“Saya tidak lama-lama Bu, saya hanya mau menyerahkan benda ini, karena kemarin, saat saya mengambil sampah di tong depan rumah ini saya ingat kotak ini termasuk yang ikut masuk ke gerobak saya, pertama tidak saya hiraukan, tapi setelah mau saya buang di TPA, ada yang berkilau keluar dari dalam kotak, lalu saya buka dan langsung saya simpan karena isinya sangat banyak” kata ayah Kanaya memulai pembicaraan
“Dan karena saya ingat kotak ini berasal dari rumah ibu, maka sekarang saya kembalikan kepada Ibu, karena saya yakin Ibu sangat kehilangann pastinya” ayah Kanaya melanjutkan kata-katanya
“Ohh...benar Pak, saya kebingungan sekali sejak tadi, karena kotak kuning ini hilang. Kotak ini sangat berharga sekali, karena merupakan peninggalan almarhum suami saya, jadi sekali lagi terima kasih ya Pak” kata mama Bintang tanpa bisa menyembunyikan raut wajah senangnya.
Bintang hanya bisa melihat dari balik tirai apa yang barusan dia saksikan. Ternyata orang tua yang selama ini dia olok-olokkan kepada Kanaya, adalah orang baik dan jujur. Dan tukang sampah itu tentunya memiliki hati yang mulia serta harum segala tingkah lakunya.
“Maaf kan aku Naya....ternyata walau bergumul dengan sampah ayahmu tetap memiliki hati yang harum dan wangi” Bintang berkata dalam hati seraya berjanji besok akan minta maaf langsung kepada Kanaya.
Minggu, 28 Februari 2010
Kenapa takut dengan facebook?
Akhir-akhir ini marak diberitakan di media massa tentang dampak dari jejaring sosial di dunia maya yang disebut facebook. Mencuatnya berita tentang facebook, tak lain dan tak bukan karena adanya kasus penculikan yang melibatkan anak –anak yang masih berstatus pelajar. Komentar-komentar yang muncul, baik dari kalangan praktisi anak, pendidik maupun orang tua beragam. Ada yang yang setuju, ada yang menanggapi biasa saja bahkan ada juga yang sangat tidak setuju akan facebook.
Sebenarnya apa sih facebook itu? Facebook adalah suatu portal jejaring sosial yang ada di dunia maya, yang memungkinkan penggunanya bisa bertemu dengan orang-orang di belahan dunia yang lain. Atau kata gampangnya sebagai situs pertemanan di dunia maya. Siapa saja yang tergabung, dengan cara yang mudah, yaitu hanya dengan mengisi aplikasi/ mendaftar, yang salah satunya harus mencantumkan alamat email.
Berangkat dari kemudahan menggunakan tersebut, sekarang yang menjadi pengguna mulai dari anak usia 7 tahun hingga 60-an. Beragam profesi yang menyertai mereka. Mulai dari anak usia sekolah dasar, praktisi politik, guru, sampai ibu rumah tangga. Dan itu semua berangkat dari keinginan untuk bisa berinteraksi dan menyapa teman lama ataupun mencari kawan baru. Bahkan situs ini pula sigunakan sebagai ajang kampanye baik pemilu, pilpres dan pilkada.
Hanya saja akhir-akhir ini, ada yang menyalahgunakan situs ini untuk kegiatan yang kurang terpuji. Ada kasus penculikan, penipuan, sampai perseteruan dengan guru, semuanya berawal dari tulisan di facebook. Dan ujung-ujungnya berita-berita seperti ditu di blow up di media massa. Dan terkesan bahwa facebook lah penyebab semua kejelekan itu. Dan imbas dari pemberitaan itu sendiri sekarang adalah sudah mulai ada sekolah dan bahkan orang tua melarang anaknya membukan akun facebook yang sudah dibuat. Bahkan ada sekolah yang dengan tegas memberikan poin (negatif) kepada siswa yang dalam kurun waktu tertentu tidak segera menghapus akun facebook nya.
Sebenarnya kalau kita telaah lebih jauh, kita bisa memanfaatkan betul keberadaan facebook sebagai sarana untuk belajar. Banyak hal yang bisa ambil manfaatnya. Di sini, selain untuk ajang silaturahmi, juga bisa dijadikan sarana untuk berdiskusi. Banyak grup yang menyediakan sarana diskusi mulai dari grup para guru di lembaga pendidikan sampai kepada hal-hal mengenai sosial dan kajian-kajian agama. Bagi yang suka menulis atau sekedar ingin menuangkan ide atau gagasan-gagasannya, bisa juga memanfaatkan facebook sarananya. Sebenarnya banyak hal yang positif yang bisa kita gali dari keberadaan facebook ini. Jangan kita langsung memberi cap negatif akan hal ini.
Nah, adanya fenomena digunakannya sarana ini utuk kegiatan yang kurang terpuji seperti tersebut diatas, janganlah kita membuat generalisasi, bahwa semua pengguna facebook, akan jadi penculik, semua pengguna facebook pasti akan jadi pembangkang terhadap guru di sekolah. Kita harus bisa melihat ini dari kacamata yang jernih dan tidak biasa menghakimi sesuatu karena adanya suatu kasus yang terjadi. Patut disayangkan jika ada peraturan-peraturan atau pelarangan yang isinya tidak diperbolehkan menggunakan facebook.
Memang sih, kalau melihat gejala yang berkembang sekarang, anak-anak usia sekolah dasar pun sudah keranjingan juga menggunakan facebook. Ini tak bisa dihindari, sebagai efek dari arus globalisasi informasi yang langsung menyentuh dan dirasakan oleh segenap lapisan masyarakat Indonesia. Dan ini juga tidak serta merta langsung menyalahkan mereka dari penggunaan facebook ini. Mereka pada dasarnya hanya ingin tahu dan ingin mencoba menggunakan sarana ini untuk unjuk diri agar tidak dianggap gaptek dan melek IT.
Apa tugas kita sekarang sebagai pendidik dan orang tua? Disinilah peran serta dari institusi pendidikan dan orang tua di rumah sangat penting. Sekolah yang dewasa ini memasukkan kurikulum pembelajaran yang berbasis IT, mau tidak mau mesti mengajak siswanya untuk mengenal internet. Mengajarkan siswa membuat akun email, membuat tulisan di blog, dan sebagainya.Pada akhirnya siswa akan mengerti akan seluk beluk internet. Maka mulailah mereka mencoba belajar, kira-kira ada apa saja di dunia maya. Sehingga pada saat mereka membaca ada fenomena dan portal baru yang bernama facebook, mereka langsung mencobanya. Apalagi banyak ditemukan kesenangan akan bertemu kawan lama dan mencari kawan baru sebagai ciri khas anak muda yang ingin mencari kawan.
Sekolah, dalam hal ini guru pengajar, haruslah memberikan pengarahan dan memberikan informasi yang benar dan utuh. Mulai dampak positif dan dan dampak negatifnya. Siswa harus diajarkan bagaimana etika dan prilaku dalam menggunakan internet terlebih-lebih facebook, karena bisa langsung berinteraksi dengan orang lain. Tetap beri pengertian yang dalam, bahwa jangan terlalu sering menggunakan facebook karena akan mengganggu waktu belajar di rumah. Untuk orang tua di rumah, beri pengertian anak-anak usia sekolah dasar, jika ingin menggunakan facebook, alangkah lebih baiknya jika password dan email itu harus sepengetahuan orang tua. Dan ini harus tegas disampaikan kepada anak-anaknya. Ini tak lain dan tak bukan untuk kontrol dan monitoring orang tua akan kegiatan anaknya dalam penggunaan facebook.
Selain itu, guru juga bisa memanfaatkan ini untuk mengontrol kegiatan siswa, apa mereka sedang belajar pada jam-jam belajar di rumah, atau malah main facebook. Bikin komitmen bersama untuk membuat aturan main jika dirumah. Dan guru bisa tahu kalau sudah antar mereka sudah menjadi teman dalam facebook. Guru juga bisa membuat grup belajar di dalamnya. Sehingga bisa semakin berguna keberadaan facebook ini.
Terakhir, marilah kita sebagai guru dan orang tua, tidak terlalu menganggap facebook ini termasuk hal yang menakutkan. Kita memang tidak bisa terlalu melepas anak “belajar berkreatifitas” di dunia maya, tapi paling tidak kita tetap membimbing dan menemani sekaligus mengontrol aktivitas anak di dalam penggunaan internet. Internet atau facebook bukan barang yang merusak jika kita bersama-sama mengunakan dengan bijak. Dan pada ujung-ujungnya nanti kita akan melihat anak atau siswa kita sebagai pribadi yang santun beretika serta punya kemarihan dan bisa menggunakan segalai produk yang berbau teknologi dan informasi sesuai dengan kebutuhan dan kapsitasnya.
Sebenarnya apa sih facebook itu? Facebook adalah suatu portal jejaring sosial yang ada di dunia maya, yang memungkinkan penggunanya bisa bertemu dengan orang-orang di belahan dunia yang lain. Atau kata gampangnya sebagai situs pertemanan di dunia maya. Siapa saja yang tergabung, dengan cara yang mudah, yaitu hanya dengan mengisi aplikasi/ mendaftar, yang salah satunya harus mencantumkan alamat email.
Berangkat dari kemudahan menggunakan tersebut, sekarang yang menjadi pengguna mulai dari anak usia 7 tahun hingga 60-an. Beragam profesi yang menyertai mereka. Mulai dari anak usia sekolah dasar, praktisi politik, guru, sampai ibu rumah tangga. Dan itu semua berangkat dari keinginan untuk bisa berinteraksi dan menyapa teman lama ataupun mencari kawan baru. Bahkan situs ini pula sigunakan sebagai ajang kampanye baik pemilu, pilpres dan pilkada.
Hanya saja akhir-akhir ini, ada yang menyalahgunakan situs ini untuk kegiatan yang kurang terpuji. Ada kasus penculikan, penipuan, sampai perseteruan dengan guru, semuanya berawal dari tulisan di facebook. Dan ujung-ujungnya berita-berita seperti ditu di blow up di media massa. Dan terkesan bahwa facebook lah penyebab semua kejelekan itu. Dan imbas dari pemberitaan itu sendiri sekarang adalah sudah mulai ada sekolah dan bahkan orang tua melarang anaknya membukan akun facebook yang sudah dibuat. Bahkan ada sekolah yang dengan tegas memberikan poin (negatif) kepada siswa yang dalam kurun waktu tertentu tidak segera menghapus akun facebook nya.
Sebenarnya kalau kita telaah lebih jauh, kita bisa memanfaatkan betul keberadaan facebook sebagai sarana untuk belajar. Banyak hal yang bisa ambil manfaatnya. Di sini, selain untuk ajang silaturahmi, juga bisa dijadikan sarana untuk berdiskusi. Banyak grup yang menyediakan sarana diskusi mulai dari grup para guru di lembaga pendidikan sampai kepada hal-hal mengenai sosial dan kajian-kajian agama. Bagi yang suka menulis atau sekedar ingin menuangkan ide atau gagasan-gagasannya, bisa juga memanfaatkan facebook sarananya. Sebenarnya banyak hal yang positif yang bisa kita gali dari keberadaan facebook ini. Jangan kita langsung memberi cap negatif akan hal ini.
Nah, adanya fenomena digunakannya sarana ini utuk kegiatan yang kurang terpuji seperti tersebut diatas, janganlah kita membuat generalisasi, bahwa semua pengguna facebook, akan jadi penculik, semua pengguna facebook pasti akan jadi pembangkang terhadap guru di sekolah. Kita harus bisa melihat ini dari kacamata yang jernih dan tidak biasa menghakimi sesuatu karena adanya suatu kasus yang terjadi. Patut disayangkan jika ada peraturan-peraturan atau pelarangan yang isinya tidak diperbolehkan menggunakan facebook.
Memang sih, kalau melihat gejala yang berkembang sekarang, anak-anak usia sekolah dasar pun sudah keranjingan juga menggunakan facebook. Ini tak bisa dihindari, sebagai efek dari arus globalisasi informasi yang langsung menyentuh dan dirasakan oleh segenap lapisan masyarakat Indonesia. Dan ini juga tidak serta merta langsung menyalahkan mereka dari penggunaan facebook ini. Mereka pada dasarnya hanya ingin tahu dan ingin mencoba menggunakan sarana ini untuk unjuk diri agar tidak dianggap gaptek dan melek IT.
Apa tugas kita sekarang sebagai pendidik dan orang tua? Disinilah peran serta dari institusi pendidikan dan orang tua di rumah sangat penting. Sekolah yang dewasa ini memasukkan kurikulum pembelajaran yang berbasis IT, mau tidak mau mesti mengajak siswanya untuk mengenal internet. Mengajarkan siswa membuat akun email, membuat tulisan di blog, dan sebagainya.Pada akhirnya siswa akan mengerti akan seluk beluk internet. Maka mulailah mereka mencoba belajar, kira-kira ada apa saja di dunia maya. Sehingga pada saat mereka membaca ada fenomena dan portal baru yang bernama facebook, mereka langsung mencobanya. Apalagi banyak ditemukan kesenangan akan bertemu kawan lama dan mencari kawan baru sebagai ciri khas anak muda yang ingin mencari kawan.
Sekolah, dalam hal ini guru pengajar, haruslah memberikan pengarahan dan memberikan informasi yang benar dan utuh. Mulai dampak positif dan dan dampak negatifnya. Siswa harus diajarkan bagaimana etika dan prilaku dalam menggunakan internet terlebih-lebih facebook, karena bisa langsung berinteraksi dengan orang lain. Tetap beri pengertian yang dalam, bahwa jangan terlalu sering menggunakan facebook karena akan mengganggu waktu belajar di rumah. Untuk orang tua di rumah, beri pengertian anak-anak usia sekolah dasar, jika ingin menggunakan facebook, alangkah lebih baiknya jika password dan email itu harus sepengetahuan orang tua. Dan ini harus tegas disampaikan kepada anak-anaknya. Ini tak lain dan tak bukan untuk kontrol dan monitoring orang tua akan kegiatan anaknya dalam penggunaan facebook.
Selain itu, guru juga bisa memanfaatkan ini untuk mengontrol kegiatan siswa, apa mereka sedang belajar pada jam-jam belajar di rumah, atau malah main facebook. Bikin komitmen bersama untuk membuat aturan main jika dirumah. Dan guru bisa tahu kalau sudah antar mereka sudah menjadi teman dalam facebook. Guru juga bisa membuat grup belajar di dalamnya. Sehingga bisa semakin berguna keberadaan facebook ini.
Terakhir, marilah kita sebagai guru dan orang tua, tidak terlalu menganggap facebook ini termasuk hal yang menakutkan. Kita memang tidak bisa terlalu melepas anak “belajar berkreatifitas” di dunia maya, tapi paling tidak kita tetap membimbing dan menemani sekaligus mengontrol aktivitas anak di dalam penggunaan internet. Internet atau facebook bukan barang yang merusak jika kita bersama-sama mengunakan dengan bijak. Dan pada ujung-ujungnya nanti kita akan melihat anak atau siswa kita sebagai pribadi yang santun beretika serta punya kemarihan dan bisa menggunakan segalai produk yang berbau teknologi dan informasi sesuai dengan kebutuhan dan kapsitasnya.
Minggu, 26 Juli 2009
BANTAL……….
Kenapa ya..kok bantal jika dipakai malam hari terasa tidak nyaman bagiku? Dan kenapa ya jika aku memakai bantal saat pagi hari, sangat terasa nyaman bagiku? Bantalku bergambar kucint bernama marie. Dan rasanya empuk sekali.
Tapi walaupun empun kenapa ya? Kok jika dipakai malam hari tidak nyaman? Tapi kalau dipakai pagi hari sangat nyaman. Karena dulu akau suka bangun kesiangan karena bantalku di pagi hari sangat nyaman. Sehingga aku malas jika bangun tidur. Tapi sekarang aku nggak bangun kesiangan lagi kok…!
MARSYA---5A/SD ISLAM SABILILLAH MALANG
Tapi walaupun empun kenapa ya? Kok jika dipakai malam hari tidak nyaman? Tapi kalau dipakai pagi hari sangat nyaman. Karena dulu akau suka bangun kesiangan karena bantalku di pagi hari sangat nyaman. Sehingga aku malas jika bangun tidur. Tapi sekarang aku nggak bangun kesiangan lagi kok…!
MARSYA---5A/SD ISLAM SABILILLAH MALANG
Suka Duka di Kelas VA
Saat ini aku sudah naik kelas lima. Aku senang sekali, karena akau masuk kelas VA. Aku mersa senang karena memiliki wali kelas yang baik yaitu Pak Andy dan Bu Sakinah. Pak Andi mengajar pelajaran seni musik sedangkan Bu Sakinah mengajar sains.
Meskipun masih sebentar berada di 5A, aku sudah mulai bisa berteman dengan dengan teman-teman yang dulu tidak sekelas denganku. Oh ya, aku lupa, jumlah siswa di kelas 5A adalah 30 siswa dan aku absent 27. teman-temanku dari kelas lain saat kelas 4 antara lain, Rossy, Marsya, Eka, Yahya, Yayak, dan masih banyak lagi.
Tapi…….,ada juga pengalaman yang tidak mengenakkan yaitu anak laki-laki di kelas ku nakal-nakal. Kadang-kadang berlari-lari saat pergantian pelajaran, bahkan ketua kelasnya ikut permainan yang dimainkan anak laki-laki, membuat ricuh dan berantakan. Terkadangpun guru-guru sampai marah. Contohnya saat Bu Syifa’ masuk kelas, anak laki-laki masih bermain, dan bisa ditebak, Bu Syifa’…marah!
Namun terkadang aku merasa sedih karena aku jauh dari teman-teman yang berada di kelas 5D. Aku sedih karena kelas 5D jauh letaknya. Untungnya aku masih bisa bertemu saat jam istirahat. Karena saat istirahat jika kita mau membeli makanan dan minuman kita melewati samping kelas 5D.
Ada lagi yang tidak aku suka dengan 5A, yaitu letak kelas 5A berada di belakan perpustakaan. Dan juga kita tidak bisa melihat jalan raya, karena jendela yangterletak di kiri hanya bisa melihat kelas 5B, dan jendela yang kanan terlalu tinggi. Maka dari itu aku tidak terlalu menyukai kelas 5A.
Ini adalah perasaanku saat berada di kelas 5A. Ada Suka Ada Duka…
SALSABILA YUHARNITA----VA/SD ISLAM SABILILLAH MALANG
Meskipun masih sebentar berada di 5A, aku sudah mulai bisa berteman dengan dengan teman-teman yang dulu tidak sekelas denganku. Oh ya, aku lupa, jumlah siswa di kelas 5A adalah 30 siswa dan aku absent 27. teman-temanku dari kelas lain saat kelas 4 antara lain, Rossy, Marsya, Eka, Yahya, Yayak, dan masih banyak lagi.
Tapi…….,ada juga pengalaman yang tidak mengenakkan yaitu anak laki-laki di kelas ku nakal-nakal. Kadang-kadang berlari-lari saat pergantian pelajaran, bahkan ketua kelasnya ikut permainan yang dimainkan anak laki-laki, membuat ricuh dan berantakan. Terkadangpun guru-guru sampai marah. Contohnya saat Bu Syifa’ masuk kelas, anak laki-laki masih bermain, dan bisa ditebak, Bu Syifa’…marah!
Namun terkadang aku merasa sedih karena aku jauh dari teman-teman yang berada di kelas 5D. Aku sedih karena kelas 5D jauh letaknya. Untungnya aku masih bisa bertemu saat jam istirahat. Karena saat istirahat jika kita mau membeli makanan dan minuman kita melewati samping kelas 5D.
Ada lagi yang tidak aku suka dengan 5A, yaitu letak kelas 5A berada di belakan perpustakaan. Dan juga kita tidak bisa melihat jalan raya, karena jendela yangterletak di kiri hanya bisa melihat kelas 5B, dan jendela yang kanan terlalu tinggi. Maka dari itu aku tidak terlalu menyukai kelas 5A.
Ini adalah perasaanku saat berada di kelas 5A. Ada Suka Ada Duka…
SALSABILA YUHARNITA----VA/SD ISLAM SABILILLAH MALANG
Senin, 20 Juli 2009
J-POP dan J-ROCK…..Eksitensi Musik Jepang
Dalam percanturan industri musik dunia, genre musik dari Jepang bisa dibilang cukup kuat di Asia. Padahal kalau dirunut dari sejarah musikalnya, industri musik modern di Jepang terbilang baru eksis dan berkembang di era 80-an. Tapi pengaruhnya cepat menyebar. Nggak heran kalau sekarang kita bisa mendengar aliran musik yang diembel-embeli Jepang di depannya, seperti J [Japan] – Rock atau J [Japan]- Pop.
Memang, kalau menyimak fakta sejarah dan data-data yang tercecer di beberapa literature, musik modern yang masuk ke Jepang dibawa oleh orang-orang Amerika. Mereka –orang Amerika itu—awalnya memperkenalkan musik jazz. Kabarnya, jazzlah akar dari J-Pop yang kita kenal sekarang.
Akar dari J-Pop berawal dari musik Jazz yang populer pada awal era Showa. Awal Era Showa dimulai pada tahun 1926 oleh Kaisar Hirohito sampai dengan masa Perang Dunia II 1945. Musik Jazz memperkenalkan berbagai jenis alat musik yang sebelumnya hanya dipergunakan untuk musik klasik dan dalam militer, dalam berbagai bar dan klub seperti “Ongaku Kissa” yang merupakan salah satu tempat pertunjukkan Jazz yang terkenal.
Namun dalam masa Perang Dunia II, musik jazz sempat terhenti akibat tekanan dari tentara kerajaan Jepang. Setelah masa perang berakhir, Tentara Amerika Serikat memperkenalkan kepada Jepang jenis musik khas Amerika seperti boogie-woogie, mambo, blues dan country. Jenis-jenis musik tersebut dipertunjukkan oleh para musisi Jepang kepada pasukan tentara Amerika yang menempati markas AS di Jepang. Lagu seperti “Tokyo Boogie-Woogie” yang dinyanyikan oleh Sizuko Kasaoki (1948), “Tennesse Waltz” oleh Eri Chiemi (1951), “Omatsuri Mambo” oleh Misora Hibari dan “Omoide no Waltz” oleh Izumi Yukimura menjadi populer di Jepang.
Bahkan musisi luar seperti Jazz At The Philharmonic dan Louis Armstrong pernah mengunjungi Jepang untuk melakukan pertunjukkan. Tahun 1952 merupakan tahun dimana musik Jazz membooming. Namun, Jazz bukanlah jenis musik yang mudah dipelajari sehingga sebagian besar musisi amatir Jepang mempelajari musik country yang dianggap paling mudah dipelajari.
Demam Rock and Roll mulai melanda Jepang pada tahun 1956 oleh sebuah grup musik country, Kosaka Kazuya and Wagon Masters yang merilis album “Heartbreak Hotel”, yang aslinya dibawakan oleh sang raja Elvis Presley. Wabah rock and roll ini mencapai titik puncaknya pada tahun 1959 dengan munculnya sebuah film yang memfokuskan ada pertunjukan grup rock and roll Jepang. Turunnya pamor rock and roll di Amerika Serikat diikuti oleh Jepang seiring dengan banyaknya grup di Jepang yang tak lain hanya meniru Rock and Roll Amerika.
Oh ya, J-Pop yang kita kenal sekarang sebenarnya merupakan istilah umum yang mengandung banyak jenis (genre) musik Jepang seperti pop, rock, dance, rap dan soul. Di Jepang, istilah J-Pop digunakan untuk membedakan gaya musik modern dengan musik klasik Jepang yang disebut dengan Enka atau bentuk ballad dari Jepang tradisional. Sering juga kita mendengar istilah seperti J-Rock, Visual Kei dan J-Rap, namun semua istilah tersebut berada di dalam naungan J-Pop.
Istilah J-Pop sendiri sebenarnya tidak terlalu dikenal di khazanah musik di Jepang, sampai akhirnya istilah J-pop digaungkan oleh satu stasiun radio bernama “J-WAVE” untuk menunjukkan jenis musik yang berbeda dari musik rakyat. Disadari atau tidak, J-Pop sedikit banyak memang dipengaruhi oleh American-style yang menjadi pengaruh terkuat perkembangan musik di Jepang.
Contoh paling popular adalah penyanyi Jepang terkenal Utara Hikaru. Penyanyi cewek ini menjadi populer dengan gaya urban hip-hop dengan pengaruh Amerika yang kental. Gayanya berbeda di Jepang karena lebih mirip atau hampir sama dengan hip-hop Amerika. Itu pun disebabkan karena Utada Hikaru lahir dan besar di New York. Meski warna Jepang yang ditonjolkannya pun masih terasa kental.
Musik J-Pop merupakan bagian dari kebudayaan populer Jepang. Dan telah digunakan dimana-mana seperti anime, iklan, film, acara radio dan televisi, dan video game. Bahkan beberapa acara berita di televisi menggunakan lagu J-pop sebagai penutup acara.
Laju pertumbuhan J-Pop luar biasa tingginya. Dalam anime dan acara televisi lainnya, terutama drama, lagu J-pop yang digunakan sebagai soundtrack cenderung berubah setiap musim (season) sampai empat kali dalam setahun. Bila dihitung lagu pembuka (OP) dan penutup (ED) dan acara berlangsung selama satu tahun, maka paling tidak memiliki delapan lagu sebagai bagian dari acara tersebut.
Di Indonesia, demam J-Pop dimulai saat lagu Ko Ko Ro No Tomo meledak di tahun 80-an. Agak unik sebenarnya, ketika lagu-lagu pop cengeng begitu merajalela, Mayumi Itsuwa, tiba-tiba masuk dan memberikan sebuah perbedaan. Ketika itu, semua penggemar musik pop tiba-tiba bisa berbahasa Jepang.
Berawal dari J-pop yang dipengaruhi musik luar, dan hasilnya pun menggebrak dengan ekspansi sampai ke luar Jepang. Artis-artis J-Pop mulai melakukan pertunjukan ke luar Jepang dimulai dari seputar negara-negara di Asia, kemudian meluas ke Australia, Amerika, bahkan Eropa. Bahkan J-pop mulai dijadikan inspirasi musik di beberapa negara seperti Indonesia dengan grup-grup yang terinspirasi oleh artis Jepang paling pasaran di Indonesia, L`arc en Ciel. Kemudian menyusul gaya fashion mereka yang ditiru.
J-ROCK PUN MENGGEBRAK
Tak Cuma genre pop, J-Rock pun menjadi salah satu wabah di negara-negara Asia. Gaya rock ala Jepang banyak ditiru dan mejadi trend bermusik di banyak negara termasuk Indonesia.
Akar lahirnya J-Rock pun sebenarnya tak berbeda dengan J-Pop. Sejarah J-Rock dimulai tahun 1957 dengan dikenalnya musik rock di Jepang bersamaan dengan puncak kepopuleran rockabilly yang merupakan salah satu gaya rock 'n' roll.
Rockabilly yang dimulai di berbagai kelab jazz melahirkan penyanyi rockabilly seperti Mickey Curtis, Masaaki Hirao, dan Keijirō Yamashita. Pada bulan Februari 1958, ketiganya tampil dalam konser Westan Kānibaru I (Western Carnival I) di gedung pertunjukan bernama Nihon Gekijō, Tokyo.
Di akhir dekade 1950-an, kepopuleran rockabilly yang mulai surut digantikan era Kabā Popsu (cover pops) yang terdiri dari berbagai jenis musik. Di antara tokoh cover pops terdapat musisi seperti Yūya Uchida dan Isao Bitō yang berakar pada genre rockabilly. Selain itu, cover pops dengan gaya Liverpool Sound lahir mengikuti kepopuleran grup-grup musik seperti The Beatles di sekitar tahun 1963.
Gitar elektrik produk dalam negeri yang bisa dibeli dengan harga murah membantu terciptanya demam Ereki (musik rock dengan gitar elektrik). Istilah "Ereki" merupakan singkatan dari kata erekigitā (gitar listrik). Penggemar musik rock di Jepang banyak yang berganti identitas dari pendengar setia menjadi musisi rock.
Musik rock di Jepang makin menggila ketika band rock n’ roll asal Inggris, The Beatles. Tahun 1965, ada band lokal bernama Tokyo Beatles merilis piringan hitam berisi lagu-lagu The Beatles dengan lirik bahasa Jepang. Selain itu, Tokyo Beatles juga mengeluarkan PH berisi lagu-lagu yang pernah dibawakan grup musik Inggris yang memainkan Liverpool Sound.
Ketika the Beatles benar-benar menggelar konsernya di Jepang, membuat grup-grup musik Ereki berganti warna musik agar ikut bisa bergaya British Invasion. Di antara perintis British Invasion di Jepang terdapat grup musik seperti Jackey Yoshikawa and his Blue Comets dan The Spiders.
Sejak akhir dekade 1970-an, grup musik dari label rekaman Indies terus populer, sehingga terjadi "Band Boom" di Jepang pada paruh kedua dekade 1980-an. Pada masa itu terdapat banyak sekali grup-grup musik yang populer. Princess Princess, Unicorn, Jun Sky Walker(s), Bakufu-Slump, dan Pink Sapphire adalah nama-nama grup musik pencetak banyak sekali lagu hit di pertengahan tahun 1980-an. Di jalur heavy metal, Seikima II merupakan band yang paling populer dan sering tampil di televisi.
Di awal tahun 2000-an mulai terdapat gaya Seishun Punk yang dimulai oleh Stance punks, Gagaga SP, dan Going Steady. Saat itu populer grup musik seperti Bump of Chicken, Asian Kung-Fu Generation, dan Acidman yang tergolong genre Shimokita Kei.
Sejak pertengahan tahun 2000-an terdapat banyak sekali grup bergenre Melodic Hardcore dan Emocore seperti Ellegarden dan Asian Kung-Fu Generation. Musisi yang berjasa di masa kejayaan Melodic Hardcore tahun 1990-an juga ikut bangkit kembali, misalnya: mantan anggota Hi-Standar yang bernama Ken Yokoyama berkarier solo, Ultra Brain, dan Snail Ramp.
Di Indonesia, perkembangan J-Rock juga cukup popular. Berterimakasihlah kepada anime Jepang. Soundtrack anime banyak dinyanyikan musisi papan atasJepang. Sebut saja, L’ arc en ciel (dikenal juga sebagai Laruku), yang menyanyikan soundtrack serial Samurai X. Ada T.M. Network yang mengisi soundtrack-nya City Hunter dan Gundam. Selain itu, ada juga Mitsuko Horie, penyanyi solo yang menunjukkan kemampuan vokalnya lewatsoundtrack serial Saint Seiya dan Candy-Candy. Musik inilah yang kemudian disebut sebagai Japanese Rock (J-Rock). Tapi jangan salah, musik J-Rock tak hanya sebatas soundtrack anime saja. Semua musik bergenre rock yang dimainkan band atau penyanyi asal Jepang yang bisa dikategorikan J-Rock.
Yang terkenal tentu saja band yang menamakan dirinya J-Rock. Awalnya mereka adalah copy-cat fashion dan musikalitas Japannesse Rock. Meksi ini sudha menyelip dan melebur masuk dalam industri pop. Malah J-Rock baru saja mendapat kesempatan untuk merekam beberapa lagunya di Abbey Road, tempat rekeman legendaries di Inggris. Tempat yang sudah melahirkan beberapa band besar, termasuk The Beatles.
Lantaran gandrung dengan lagu soundtrack, banyak yang tertarik mendirikan band khusus memainkan musik ini. Lagu-lagu yang dimainkan tak jauh-jauh dari lagu tema anime. Wasabi dan Japanese Heroes adalah pelopor band J-Rock di sini. Kehadiran Wasabi dan Japanese Heroes memicu munculnya band-band pengusung J-Rock baru seperti J-Rocks, Jetto, dan Leto di Jakarta atau Sound Wave dan Lucifer di Bandung. Serunya, band J-Rock generasi baru ini memainkan tak hanya soundtrack saja. Tapi jugasingel-singel band J-Rock lain seperti X-Japan, Luna Sea, Dir and Grey serta Asian Kung Fu Generation.
Kemudian ada nama Amakuza, band heavy-metal dari Jakarta yang lahir karena sebagian besar personilnya sempat kuliah di Sastra Jepang. Mereka memilih bermain metal asli Jepang, dengan ornament musik klask Jepang. Malah Amakuza dan beberapa band metal pengusung Japannesse Metal, sempat merilis kompilasi indie, beberapa tahun silam di Jakarta.
(Dirangkum dari berbagai macam Sumber)
Memang, kalau menyimak fakta sejarah dan data-data yang tercecer di beberapa literature, musik modern yang masuk ke Jepang dibawa oleh orang-orang Amerika. Mereka –orang Amerika itu—awalnya memperkenalkan musik jazz. Kabarnya, jazzlah akar dari J-Pop yang kita kenal sekarang.
Akar dari J-Pop berawal dari musik Jazz yang populer pada awal era Showa. Awal Era Showa dimulai pada tahun 1926 oleh Kaisar Hirohito sampai dengan masa Perang Dunia II 1945. Musik Jazz memperkenalkan berbagai jenis alat musik yang sebelumnya hanya dipergunakan untuk musik klasik dan dalam militer, dalam berbagai bar dan klub seperti “Ongaku Kissa” yang merupakan salah satu tempat pertunjukkan Jazz yang terkenal.
Namun dalam masa Perang Dunia II, musik jazz sempat terhenti akibat tekanan dari tentara kerajaan Jepang. Setelah masa perang berakhir, Tentara Amerika Serikat memperkenalkan kepada Jepang jenis musik khas Amerika seperti boogie-woogie, mambo, blues dan country. Jenis-jenis musik tersebut dipertunjukkan oleh para musisi Jepang kepada pasukan tentara Amerika yang menempati markas AS di Jepang. Lagu seperti “Tokyo Boogie-Woogie” yang dinyanyikan oleh Sizuko Kasaoki (1948), “Tennesse Waltz” oleh Eri Chiemi (1951), “Omatsuri Mambo” oleh Misora Hibari dan “Omoide no Waltz” oleh Izumi Yukimura menjadi populer di Jepang.
Bahkan musisi luar seperti Jazz At The Philharmonic dan Louis Armstrong pernah mengunjungi Jepang untuk melakukan pertunjukkan. Tahun 1952 merupakan tahun dimana musik Jazz membooming. Namun, Jazz bukanlah jenis musik yang mudah dipelajari sehingga sebagian besar musisi amatir Jepang mempelajari musik country yang dianggap paling mudah dipelajari.
Demam Rock and Roll mulai melanda Jepang pada tahun 1956 oleh sebuah grup musik country, Kosaka Kazuya and Wagon Masters yang merilis album “Heartbreak Hotel”, yang aslinya dibawakan oleh sang raja Elvis Presley. Wabah rock and roll ini mencapai titik puncaknya pada tahun 1959 dengan munculnya sebuah film yang memfokuskan ada pertunjukan grup rock and roll Jepang. Turunnya pamor rock and roll di Amerika Serikat diikuti oleh Jepang seiring dengan banyaknya grup di Jepang yang tak lain hanya meniru Rock and Roll Amerika.
Oh ya, J-Pop yang kita kenal sekarang sebenarnya merupakan istilah umum yang mengandung banyak jenis (genre) musik Jepang seperti pop, rock, dance, rap dan soul. Di Jepang, istilah J-Pop digunakan untuk membedakan gaya musik modern dengan musik klasik Jepang yang disebut dengan Enka atau bentuk ballad dari Jepang tradisional. Sering juga kita mendengar istilah seperti J-Rock, Visual Kei dan J-Rap, namun semua istilah tersebut berada di dalam naungan J-Pop.
Istilah J-Pop sendiri sebenarnya tidak terlalu dikenal di khazanah musik di Jepang, sampai akhirnya istilah J-pop digaungkan oleh satu stasiun radio bernama “J-WAVE” untuk menunjukkan jenis musik yang berbeda dari musik rakyat. Disadari atau tidak, J-Pop sedikit banyak memang dipengaruhi oleh American-style yang menjadi pengaruh terkuat perkembangan musik di Jepang.
Contoh paling popular adalah penyanyi Jepang terkenal Utara Hikaru. Penyanyi cewek ini menjadi populer dengan gaya urban hip-hop dengan pengaruh Amerika yang kental. Gayanya berbeda di Jepang karena lebih mirip atau hampir sama dengan hip-hop Amerika. Itu pun disebabkan karena Utada Hikaru lahir dan besar di New York. Meski warna Jepang yang ditonjolkannya pun masih terasa kental.
Musik J-Pop merupakan bagian dari kebudayaan populer Jepang. Dan telah digunakan dimana-mana seperti anime, iklan, film, acara radio dan televisi, dan video game. Bahkan beberapa acara berita di televisi menggunakan lagu J-pop sebagai penutup acara.
Laju pertumbuhan J-Pop luar biasa tingginya. Dalam anime dan acara televisi lainnya, terutama drama, lagu J-pop yang digunakan sebagai soundtrack cenderung berubah setiap musim (season) sampai empat kali dalam setahun. Bila dihitung lagu pembuka (OP) dan penutup (ED) dan acara berlangsung selama satu tahun, maka paling tidak memiliki delapan lagu sebagai bagian dari acara tersebut.
Di Indonesia, demam J-Pop dimulai saat lagu Ko Ko Ro No Tomo meledak di tahun 80-an. Agak unik sebenarnya, ketika lagu-lagu pop cengeng begitu merajalela, Mayumi Itsuwa, tiba-tiba masuk dan memberikan sebuah perbedaan. Ketika itu, semua penggemar musik pop tiba-tiba bisa berbahasa Jepang.
Berawal dari J-pop yang dipengaruhi musik luar, dan hasilnya pun menggebrak dengan ekspansi sampai ke luar Jepang. Artis-artis J-Pop mulai melakukan pertunjukan ke luar Jepang dimulai dari seputar negara-negara di Asia, kemudian meluas ke Australia, Amerika, bahkan Eropa. Bahkan J-pop mulai dijadikan inspirasi musik di beberapa negara seperti Indonesia dengan grup-grup yang terinspirasi oleh artis Jepang paling pasaran di Indonesia, L`arc en Ciel. Kemudian menyusul gaya fashion mereka yang ditiru.
J-ROCK PUN MENGGEBRAK
Tak Cuma genre pop, J-Rock pun menjadi salah satu wabah di negara-negara Asia. Gaya rock ala Jepang banyak ditiru dan mejadi trend bermusik di banyak negara termasuk Indonesia.
Akar lahirnya J-Rock pun sebenarnya tak berbeda dengan J-Pop. Sejarah J-Rock dimulai tahun 1957 dengan dikenalnya musik rock di Jepang bersamaan dengan puncak kepopuleran rockabilly yang merupakan salah satu gaya rock 'n' roll.
Rockabilly yang dimulai di berbagai kelab jazz melahirkan penyanyi rockabilly seperti Mickey Curtis, Masaaki Hirao, dan Keijirō Yamashita. Pada bulan Februari 1958, ketiganya tampil dalam konser Westan Kānibaru I (Western Carnival I) di gedung pertunjukan bernama Nihon Gekijō, Tokyo.
Di akhir dekade 1950-an, kepopuleran rockabilly yang mulai surut digantikan era Kabā Popsu (cover pops) yang terdiri dari berbagai jenis musik. Di antara tokoh cover pops terdapat musisi seperti Yūya Uchida dan Isao Bitō yang berakar pada genre rockabilly. Selain itu, cover pops dengan gaya Liverpool Sound lahir mengikuti kepopuleran grup-grup musik seperti The Beatles di sekitar tahun 1963.
Gitar elektrik produk dalam negeri yang bisa dibeli dengan harga murah membantu terciptanya demam Ereki (musik rock dengan gitar elektrik). Istilah "Ereki" merupakan singkatan dari kata erekigitā (gitar listrik). Penggemar musik rock di Jepang banyak yang berganti identitas dari pendengar setia menjadi musisi rock.
Musik rock di Jepang makin menggila ketika band rock n’ roll asal Inggris, The Beatles. Tahun 1965, ada band lokal bernama Tokyo Beatles merilis piringan hitam berisi lagu-lagu The Beatles dengan lirik bahasa Jepang. Selain itu, Tokyo Beatles juga mengeluarkan PH berisi lagu-lagu yang pernah dibawakan grup musik Inggris yang memainkan Liverpool Sound.
Ketika the Beatles benar-benar menggelar konsernya di Jepang, membuat grup-grup musik Ereki berganti warna musik agar ikut bisa bergaya British Invasion. Di antara perintis British Invasion di Jepang terdapat grup musik seperti Jackey Yoshikawa and his Blue Comets dan The Spiders.
Sejak akhir dekade 1970-an, grup musik dari label rekaman Indies terus populer, sehingga terjadi "Band Boom" di Jepang pada paruh kedua dekade 1980-an. Pada masa itu terdapat banyak sekali grup-grup musik yang populer. Princess Princess, Unicorn, Jun Sky Walker(s), Bakufu-Slump, dan Pink Sapphire adalah nama-nama grup musik pencetak banyak sekali lagu hit di pertengahan tahun 1980-an. Di jalur heavy metal, Seikima II merupakan band yang paling populer dan sering tampil di televisi.
Di awal tahun 2000-an mulai terdapat gaya Seishun Punk yang dimulai oleh Stance punks, Gagaga SP, dan Going Steady. Saat itu populer grup musik seperti Bump of Chicken, Asian Kung-Fu Generation, dan Acidman yang tergolong genre Shimokita Kei.
Sejak pertengahan tahun 2000-an terdapat banyak sekali grup bergenre Melodic Hardcore dan Emocore seperti Ellegarden dan Asian Kung-Fu Generation. Musisi yang berjasa di masa kejayaan Melodic Hardcore tahun 1990-an juga ikut bangkit kembali, misalnya: mantan anggota Hi-Standar yang bernama Ken Yokoyama berkarier solo, Ultra Brain, dan Snail Ramp.
Di Indonesia, perkembangan J-Rock juga cukup popular. Berterimakasihlah kepada anime Jepang. Soundtrack anime banyak dinyanyikan musisi papan atasJepang. Sebut saja, L’ arc en ciel (dikenal juga sebagai Laruku), yang menyanyikan soundtrack serial Samurai X. Ada T.M. Network yang mengisi soundtrack-nya City Hunter dan Gundam. Selain itu, ada juga Mitsuko Horie, penyanyi solo yang menunjukkan kemampuan vokalnya lewatsoundtrack serial Saint Seiya dan Candy-Candy. Musik inilah yang kemudian disebut sebagai Japanese Rock (J-Rock). Tapi jangan salah, musik J-Rock tak hanya sebatas soundtrack anime saja. Semua musik bergenre rock yang dimainkan band atau penyanyi asal Jepang yang bisa dikategorikan J-Rock.
Yang terkenal tentu saja band yang menamakan dirinya J-Rock. Awalnya mereka adalah copy-cat fashion dan musikalitas Japannesse Rock. Meksi ini sudha menyelip dan melebur masuk dalam industri pop. Malah J-Rock baru saja mendapat kesempatan untuk merekam beberapa lagunya di Abbey Road, tempat rekeman legendaries di Inggris. Tempat yang sudah melahirkan beberapa band besar, termasuk The Beatles.
Lantaran gandrung dengan lagu soundtrack, banyak yang tertarik mendirikan band khusus memainkan musik ini. Lagu-lagu yang dimainkan tak jauh-jauh dari lagu tema anime. Wasabi dan Japanese Heroes adalah pelopor band J-Rock di sini. Kehadiran Wasabi dan Japanese Heroes memicu munculnya band-band pengusung J-Rock baru seperti J-Rocks, Jetto, dan Leto di Jakarta atau Sound Wave dan Lucifer di Bandung. Serunya, band J-Rock generasi baru ini memainkan tak hanya soundtrack saja. Tapi jugasingel-singel band J-Rock lain seperti X-Japan, Luna Sea, Dir and Grey serta Asian Kung Fu Generation.
Kemudian ada nama Amakuza, band heavy-metal dari Jakarta yang lahir karena sebagian besar personilnya sempat kuliah di Sastra Jepang. Mereka memilih bermain metal asli Jepang, dengan ornament musik klask Jepang. Malah Amakuza dan beberapa band metal pengusung Japannesse Metal, sempat merilis kompilasi indie, beberapa tahun silam di Jakarta.
(Dirangkum dari berbagai macam Sumber)
Musik Tradisional Tiongkok dan Perkembangannya
Berbicara mengenai musik negeri China, atau yang sekarang dikenal dengan nama Tiongkok, pasti kita akan memikirkan akan sebuah peradapan kebudayaan musik tertua di dunia. Musik nasional Tiongkok bersejarah lama. Sejak berdirinya Republik Rakyat Tiongkok pada tahun 1949, musik nasional Tiongkok telah mengalami perkembangan yang sangat besar. Selama belasan tahun ini, para musikus nasional Tiongkok selain mengadakan pertunjukan dalam negeri, juga sering mengadakan pertunjukan di luar negeri. Sejak tahun 1998, Orkes Musik Nasional Pusat Tiongkok telah berturut-turut untuk lima tahun mengadakan konser nasional pada hari Festival Musim Semi Tiongkok di Aula Emas Wina Austria, dan ini telah menjadi salah satu acara penting dalam kehidupan musik di Wina.
Ketua Persatuan Musik Gesek Nasional Tiongkok Piao Dongsheng mengatakan: "Musik nasional Tiongkok mengalami perkembangan yang sangat besar sejak diadakannya reformasi dan politik terbuka terhadap dunia luar, khususnya pada tahun-tahun belakangan ini. Tiongkok mencapai banyak prestasi selama 50 tahun ini dalam pertukaran kebudayaan dengan luar negeri, namun prestasi itu kebanyakan dicapai di kalangan orang Tionghoa. Pertunjukan lima kali musik nasional Tiongkok di Aula Emas Wina itu telah memberikan kesempatan bagi kalangan musik internasional untuk mengenal dan menilai kembali seni musik tradisional Tiongkok."
Selain Aula Emas Wina, musik tradisional Tiongkok juga dipentaskan di banyak panggung lainnya di dunia, antara lain, Aula Musik Carnegie Amerika dan Aula PBB di Jenewa. Pertunjukan menarik musikus nasional Tiongkok memungkinkan dunia menghayati keistimewaan musik tradisional Tiongkok.
Apresiasi sekaligus penilaian yang baik dari para penonton dalam dan luar negeri juga mendorong komponis Tiongkok menciptakan lebih banyak karya musik yang berciri khas bangsa Tionghoa dan zaman sekarang. Piao Dongsheng mengatakan: "Pada awal tahun 1950-an, musikus Tiongkok kebanyakan menciptakan lagu rakyat yang pendek, kemudian musikus Tiongkok mulai memainkan musik yang lebih tinggi tarafnya dengan alat musik gesek, dan pada tahun-tahun belakangan ini, di Tiongkok muncul sekelompok komponis berusia muda yang sangat profesional. Mereka mulai menciptakan musik gesek nasional dengan cara modern, sehingga penciptaan musik nasional Tiongkok mengalami perkembangan yang banyak ragam dan makmur."
Secara tradisional, pertunjukan musik nasional kebanyakan diadakan dalam bentuk konserto atau solo, sedangkan sekarang banyak musikus muda secara kreatif dan luwes mengadakan pertunjukan musik dengan mengkombinasikan berbagai macam alat musik, sehingga pertunjukannya sangat disukai penonton.
Pada awal diadakannya reformasi dan keterbukaan terhadap dunia luar pada tahun 1980-an, di Tiongkok pernah muncul demam belajar main piano dan violin. Sekarang semakin banyak orang Tiongkok yang lebih berminat pada alat-alat musik tradisional Tiongkok. Menurut statistik pertama Persatuan Musik Gesek Nasional Tiongkok, di Tiongkok terdapat satu juta orang yang belajar main alat musik Guzheng dan 800 ribu orang lain belajar main Erhu, semacam alat musik petik yang berdawai dua, dan jumlahnya masih bertambah.
Yang Chunlin adalah dirijen dan komponis terkenal di Tiongkok. Ia juga adalah guru di beberapa rombongan musik amatir. Yang Chunlin mengatakan: "Sejak diadakannya reformasi dan keterbukaan terhadap dunia luar, taraf penghidupan rakyat telah meningkat sehingga orangtua anak-anak mempunyai uang untuk dikonsumsikan di bidang musik. Selain itu, sekarang penduduk Tiongkok lebih mengutamakan pendidikan kesenian terhadap anaknya."
Yang Chunlin mengatakan, selama Festival Musim Semi tahun depan ia akan memimpin Orkes Musik Nasional Pelajar Sekolah Kesenian Tianhua Kota Jiangyin Provinsi Jiangsu berkunjung ke Austria untuk mengadakan Konser Musik Nasional Festival Musim Semi di Aula Emas Wina. Ini mungkin merupakan konser pertama yang diadakan oleh sebuah orkes musik pelajar di Aula Emas.
Pendidikan musik nasional di Tiongkok pada tahun-tahun belakangan ini mencapai prestasi yang menonjol. Di berbagai konservatori musik dan jurusan kesenian universitas keguruan diadakan mata pelajaran kejurusan musik nasional yang setiap tahun berhasil mendidik banyak pemain musik yang bertaraf tinggi. Tidak sedikit jurusan musik nasional kini juga membuka program pendidikan strata dua dan strata tiga, sehingga penelitian di bidang musik nasional lebih mendalam dan lebih profesional.
Selain itu, pemerintah Tiongkok sangat mementingkan penggalian dan perlindungan terhadap musik nasional. Sejak tahun 1980-an, pemerintah Tiongkok mengeluarkan dana dalam jumlah besar untuk mengorganisasi musikus dan seniman rakyat menyusun Bunga Rampai Lagu Rakyat Tk, Kumpulan Musik Nasional Tiongkok, Kumpulan Musik Opera dan Kumpulan Musik Balada Tiongkok. Teoris musik Feng Guangyu mengatakan, kumpulan-kumpulan itu hampir mencakupi semua musik yang tersebar di kalangan rakyat sejak adanya catatan sejarah di Tiongkok. Dikatakannya: "Kumpulan-kumpulan musik tersebut beserta buku kesenian lainnya disebut sebagai tembok besar kesenian Tiongkok. Nilainya memang sama dengan Tembok Besar mempunyai posisi penting dalam sejarah Tiongkok. Berkat pekerjaan selama dua puluhan tahun ini, kalangan musikus pada pokoknya telah mengetahui khazanah musik nasional Tiongkok."
Feng Guangyu seterusnya mengatakan, perekaman audio visual yang bersangkutan dengan ke-4 kumpulan buku itu masih berlangsung. Tujuannya ialah agar musik nasional Tiongkok pada akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21 tidak hanya dapat dibaca bahan tulisannya, tapi juga dapat didengar dan dilihat.. (disarikan dari berbagai macam sumber..)
Ketua Persatuan Musik Gesek Nasional Tiongkok Piao Dongsheng mengatakan: "Musik nasional Tiongkok mengalami perkembangan yang sangat besar sejak diadakannya reformasi dan politik terbuka terhadap dunia luar, khususnya pada tahun-tahun belakangan ini. Tiongkok mencapai banyak prestasi selama 50 tahun ini dalam pertukaran kebudayaan dengan luar negeri, namun prestasi itu kebanyakan dicapai di kalangan orang Tionghoa. Pertunjukan lima kali musik nasional Tiongkok di Aula Emas Wina itu telah memberikan kesempatan bagi kalangan musik internasional untuk mengenal dan menilai kembali seni musik tradisional Tiongkok."
Selain Aula Emas Wina, musik tradisional Tiongkok juga dipentaskan di banyak panggung lainnya di dunia, antara lain, Aula Musik Carnegie Amerika dan Aula PBB di Jenewa. Pertunjukan menarik musikus nasional Tiongkok memungkinkan dunia menghayati keistimewaan musik tradisional Tiongkok.
Apresiasi sekaligus penilaian yang baik dari para penonton dalam dan luar negeri juga mendorong komponis Tiongkok menciptakan lebih banyak karya musik yang berciri khas bangsa Tionghoa dan zaman sekarang. Piao Dongsheng mengatakan: "Pada awal tahun 1950-an, musikus Tiongkok kebanyakan menciptakan lagu rakyat yang pendek, kemudian musikus Tiongkok mulai memainkan musik yang lebih tinggi tarafnya dengan alat musik gesek, dan pada tahun-tahun belakangan ini, di Tiongkok muncul sekelompok komponis berusia muda yang sangat profesional. Mereka mulai menciptakan musik gesek nasional dengan cara modern, sehingga penciptaan musik nasional Tiongkok mengalami perkembangan yang banyak ragam dan makmur."
Secara tradisional, pertunjukan musik nasional kebanyakan diadakan dalam bentuk konserto atau solo, sedangkan sekarang banyak musikus muda secara kreatif dan luwes mengadakan pertunjukan musik dengan mengkombinasikan berbagai macam alat musik, sehingga pertunjukannya sangat disukai penonton.
Pada awal diadakannya reformasi dan keterbukaan terhadap dunia luar pada tahun 1980-an, di Tiongkok pernah muncul demam belajar main piano dan violin. Sekarang semakin banyak orang Tiongkok yang lebih berminat pada alat-alat musik tradisional Tiongkok. Menurut statistik pertama Persatuan Musik Gesek Nasional Tiongkok, di Tiongkok terdapat satu juta orang yang belajar main alat musik Guzheng dan 800 ribu orang lain belajar main Erhu, semacam alat musik petik yang berdawai dua, dan jumlahnya masih bertambah.
Yang Chunlin adalah dirijen dan komponis terkenal di Tiongkok. Ia juga adalah guru di beberapa rombongan musik amatir. Yang Chunlin mengatakan: "Sejak diadakannya reformasi dan keterbukaan terhadap dunia luar, taraf penghidupan rakyat telah meningkat sehingga orangtua anak-anak mempunyai uang untuk dikonsumsikan di bidang musik. Selain itu, sekarang penduduk Tiongkok lebih mengutamakan pendidikan kesenian terhadap anaknya."
Yang Chunlin mengatakan, selama Festival Musim Semi tahun depan ia akan memimpin Orkes Musik Nasional Pelajar Sekolah Kesenian Tianhua Kota Jiangyin Provinsi Jiangsu berkunjung ke Austria untuk mengadakan Konser Musik Nasional Festival Musim Semi di Aula Emas Wina. Ini mungkin merupakan konser pertama yang diadakan oleh sebuah orkes musik pelajar di Aula Emas.
Pendidikan musik nasional di Tiongkok pada tahun-tahun belakangan ini mencapai prestasi yang menonjol. Di berbagai konservatori musik dan jurusan kesenian universitas keguruan diadakan mata pelajaran kejurusan musik nasional yang setiap tahun berhasil mendidik banyak pemain musik yang bertaraf tinggi. Tidak sedikit jurusan musik nasional kini juga membuka program pendidikan strata dua dan strata tiga, sehingga penelitian di bidang musik nasional lebih mendalam dan lebih profesional.
Selain itu, pemerintah Tiongkok sangat mementingkan penggalian dan perlindungan terhadap musik nasional. Sejak tahun 1980-an, pemerintah Tiongkok mengeluarkan dana dalam jumlah besar untuk mengorganisasi musikus dan seniman rakyat menyusun Bunga Rampai Lagu Rakyat Tk, Kumpulan Musik Nasional Tiongkok, Kumpulan Musik Opera dan Kumpulan Musik Balada Tiongkok. Teoris musik Feng Guangyu mengatakan, kumpulan-kumpulan itu hampir mencakupi semua musik yang tersebar di kalangan rakyat sejak adanya catatan sejarah di Tiongkok. Dikatakannya: "Kumpulan-kumpulan musik tersebut beserta buku kesenian lainnya disebut sebagai tembok besar kesenian Tiongkok. Nilainya memang sama dengan Tembok Besar mempunyai posisi penting dalam sejarah Tiongkok. Berkat pekerjaan selama dua puluhan tahun ini, kalangan musikus pada pokoknya telah mengetahui khazanah musik nasional Tiongkok."
Feng Guangyu seterusnya mengatakan, perekaman audio visual yang bersangkutan dengan ke-4 kumpulan buku itu masih berlangsung. Tujuannya ialah agar musik nasional Tiongkok pada akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21 tidak hanya dapat dibaca bahan tulisannya, tapi juga dapat didengar dan dilihat.. (disarikan dari berbagai macam sumber..)
Langganan:
Postingan (Atom)